Serial Nomaden: Singkawang Part 4

by - Monday, January 28, 2019

Malam harinya, kami mendapat pesan akan dijamu makan malam oleh pak Rustam dan istri. Kebetulanlah kalo begitu. Perut memang sudah keroncongan, dan tidak tahu harus ke mana mencari makan.

Bubur Pedas. Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Oleh pak Rustam kami dibawa ke rumah makan padang. Yes, Makan enak, nih! Rasanya, makan malam kali ini terasa nikmat sekali. Mungkin karena perut sudah sangat lapar, sehingga apa pun yang masuk mulut terasa enak. Alhamdulillah.

Puas bercerita dengan pak Rustam dan Ibu, kami kembali ke kontrakan buat istirahat. Besok, kami para istri akan turut menghadiri acara pelantikan suami-suami kami.

Pelantikan itu tiba juga, dengan dihadiri beberapa orang hakim senior, pegawai dan perwakilan Dharmayukti Karini, acara pelantikan berjalan khidmat, tertib dan lancar. Dengan berakhirnya pelantikan tersebut berarti suamiku dan teman-temannya telah resmi menjadi hakim Pengadilan Agama.

Malam harinya, kami berenam memutuskan melihat-lihat kota Singkawang. Tapi, karena di Singkawang tak ada taksi, dan kami tidak memiliki kendaraan. Kami pun terpaksa berjalan kaki saja. Menjangkau lokasi terdekat yang tidak terlalu jauh.

Hingga tibalah kami di area pertokoan jalan Yos. Sudarso. Keluar masuk beberapa toko melihat-lihat siapa tahu ada yang menarik minat. Sampai akhirnya kami pulang membawa belanjaan masing-masing. Aku dan suami enggak beli apa pun, sedangkan Abduh membeli karpet kecil, dan Firman beserta istri membeli souvenir. Ada yang aneh soal cenderamata yang dibeli oleh istri Firman, yaitu, boneka santa klaus dan patung Budha. Mungkin karena kedua boneka tersebut terlihat sangat imut yang membuatnya tergerak membeli. Entahlah.

Kami pasti terlihat aneh, sehingga banyak orang melihat rombongan kami dengan pandangan ingin tahu. Bayangkan, enam orang sedang berjalan kaki, satunya ibu hamil, satunya membawa karpet, dan empat lainnya membawa kresek belanjaan, yang kadang bercanda dan tertawa riang, mirip seperti tunawisma bahagia, membuat perjalanan bolak-balik dari kontrakan ke tempat kami belanja yang lumayan jauh, tak terasa sama sekali.

Esok harinya, pak Rustam dan istri mengajak kami berjalan-jalan seputar Singkawang. Tapi sebelum itu, paginya kami sarapan dulu di warung dekat kontrakan.

Di warung ini kami pesan berbagai menu sarapan, ada yang pesan nasi kuning, lontong sayur dan aku sendiri pesan bubur pedas. Menu-menu ini tak luput jadi topik bahasan kami. Ternyata, nasi kuning di Singkawang lauknya sedikit berbeda, yaitu, telur, sambal goreng teri dan tempe, bihun dan sedikit sayuran. Jangan cari ikan haruan sambal habang, karena sudah pasti enggak ada di sini. Kenyataan ini membuat ibu hamil sedikit kerepotan. Menunya enggak sesuai selera. Kada nyaman, jar! Hehe ...

Lain nasi kuning lain lagi bubur pedas. Demi menjawab rasa penasaran aku sengaja memesan menu ini. Sekilas penampakannya seperti bubur Manado tapi warnanya lebih pekat. Pas di coba. Wah, hanya bisa mengungkapkan satu kata tentang rasanya, aneh.

Pertama-tama rasanya sama sekali enggak ada pedas-pedasnya, dan ada aroma entah dari bahan atau bumbu-bumbunya yang terlampau tajam. Membuatku berujar dalam hati “Rasanya macam makan rumput aja” enggak enak banget. Di kemudian hari aku tahu, aroma yang tajam itu dari daun kesum. Salah satu komponen yang wajib ada saat membuat bubur pedas, makanan khas orang Melayu yang tumbuhnya hanya ada di Kalbar.

Selesai sarapan kami dijemput pak Rustam dan istrinya untuk dibawa berkeliling kota Singkawang. Mendatangi berbagai obyek wisata yang ada di sana. Di Singkawang rupanya banyak terdapat tempat wisata, mulai dari pantai, taman hingga kebun binatang.

Salah satu yang membuat kami heboh, saat melihat sepanjang jalan banyak dijumpai klenteng. Di mana-mana ada klenteng. Di bukit, di sawah, di pinggir lautan, di pulau di tengah lautan, dan lain-lain. Ternganga-nganga kami melihatnya macam orang udik yang tak pernah melihat klenteng sebelumnya, padahal pemandangan tersebut wajar saja, mengingat di Singkawang salah satu etnis terbesarnya adalah Tionghoa yang penganut khong hu chu


Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Ada yang menarik soal etnis Tionghoa ini. Kalau di daerah lain umumnya kita menjumpai etnis ini rata-rata hidup makmur dan mewah. Di Singkawang kita akan melihat pemandangan berbeda. Banyak orang Tionghoa yang hidupnya pas-pasan bahkan di bawah standar. Seolah-olah pemandangan biasa melihat mereka ada yang berjualan sayur, ikan, buah, bahkan ada yang jadi tukang becak dan pengemis. Sehingga ada kelakar di antara kami “Kalau mau lihat Agnes Monica jualan buah, silakan datang ke Singkawang”

Tak terasa waktu kunjungan kami para istri di Singkawang berakhir. Iya. Kami memang tidak menyertai kepindahan suami-suami kami ke Singkawang karena terhalang pekerjaan. Kalau aku tetap pindah ke Singkawang, tapi setelah menyelesaikan tugasku mendampingi murid-murid SMK Muhammadiyah Sampit lulus ujian, jadi, masih sekitar 5-6 bulan baru bisa menyusul suamiku. Sedangkan istri Firman dan Abduh positif tak mendampingi suami-suami mereka karena bekerja sebagai guru PNS daerah, yang tidak mudah pindah ke sana ke mari.

Tamat

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day28










You May Also Like

0 komentar