facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara perempuan bekerja atau di rumah, seperti tidak pernah ada habisnya. Dikira kontroversi dua hal ini akan mereda dengan sendirinya di tahun-tahun mendatang. Namun, pada saat tertentu atau munculnya momen-momen yang menjadi pemicu, perdebatan antara dua hal ini pasti memanas kembali

Foto. Pixabay.com


Saya sendiri pernah mengalami keduanya. Meski saat ini saya adalah ibu rumah tangga penuh waktu. Di masa lalu, saya pernah bekerja sebagai guru. Saya memutuskan berhenti dari karier mengajar karena harus mengasuh putra kami yang baru lahir, dan terus berlanjut hingga sekarang

Sebenarnya pernah mendapat tawaran untuk mengajar lagi, tapi saya tolak. Saya enggak mau memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak bisa dinikmati, karena saya tahu persis. Bahwa alasan saya kembali mengajar hanya untuk mengisi waktu luang saja dan bukan karena kecintaan saya pada dunia mengajar. Dari pada menghabiskan waktu melakukan sesuatu dengan setengah hati, lebih baik tawaran itu ditolak saja memberi kesempatan kepada mereka yang lebih berdedikasi dengan tugas tersebut.

Awalnya keputusan menjadi ibu rumah tangga mendapat banyak tentangan dari keluarga. Terutama keluarga suami. Menurut mereka, seharusnya saya jangan berhenti bekerja karena sayang ijazah. Sudah capek-capek sekolah sampai sarjana, masa ujung-ujungnya hanya menjadi ibu rumah tangga saja.

Tetapi karena pertimbangan tidak ingin menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain, pendapat yang menyudutkan itu diabaikan saja. Lagi pula keputusan saya untuk tinggal di rumah sudah mendapat dukungan penuh dari suami.

Dari kejadian ini saya berpendapat, cara memanusiakan seorang perempuan itu sebenarnya gampang, tinggal beri dia kemerdekaan untuk menentukan sendiri apa yang dia inginkan, serta tidak memaksanya membuat pilihan yang bertentangan dengan hatinya. Entah nantinya dia memilih untuk bekerja di luar rumah sebagai wanita karier atau menjadi ibu rumah tangga saja. Keputusan tersebut haruslah dihormati.

Perempuan meski sering dianggap sebagai manusia kelas dua, bukanlah barang yang hidup serta keinginannya harus selalu mengikuti kehendak orang lain. 

Masih menurut saya juga, yang penting apa pun pilihan yang diambil perempuan, dia harus bertanggung jawab dengan pilihan itu, dan tidak mengeluh atas konsekuensi yang menyertai pilihan tersebut. Contohnya, seorang perempuan lulusan sarjana mungkin akan mendapat cemoohan karena keputusannya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga

Nah, cemoohan itu haruslah diterima dengan lapang dada sebagai akibat pilihan kita. Tidak bersedih hati apalagi sampai merasa rendah diri. Dia harus sadar bahwa ada harga yang harus dibayar dari setiap keputusan yang dibuatnya. 

Awalnya mungkin terasa menyakitkan. Tetapi bukankah rasa sakit itu sepadan dengan kemerdekaan yang berhasil diraih karena sudah mampu memutuskan apa yang terbaik bagi diri sendiri? 

Lagi pula, hidup sebagai ibu rumah tangga tidak bermakna seorang perempuan lantas tidak bisa berkiprah untuk dunia. Asal si perempuan tersebut mau terus meng- upgrade dirinya, dia juga bisa melakukan banyak hal yang tidak kalah keren dibanding mereka yang berkarier di luar rumah. 

Apalagi pada zaman kemajuan teknologi seperti saat ini. Di mana kesempatan untuk belajar semakin dimudahkan. Ibu rumah tangga bisa memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengikuti berbagai kelas yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Ambil kesempatan tersebut untuk memperkaya diri dengan berbagai skill sehingga tidak ada alasan lagi ibu rumah tangga malu dengan pilihan hidupnya.


Tuesday, October 06, 2020 No komentar
Sejak dulu saya sering menjadi tempat curhat teman-teman. Padahal saya bukan tipe yang pandai memberi solusi. Risiko yang entah mengapa tetap saja mereka ambil. Terus saja curhat sama saya walau tanpa mendapat solusi. Wkwkwk

Foto : Koleksi Pribadi

Pas masih gadis dulu, yang sering dibicarakan biasanya tentang asmara. Kalo sekarang karena sudah menikah, topiknya pun beralih tentang pasangan atau keluarga.

Rata-rata mereka menceritakan tentang pernikahan yang tidak bahagia. Ada yang punya suami keras dan suka memaksakan kehendak, serta jarang memberi uang belanja. Ada juga yang punya pasangan tukang selingkuh, putus dari satu selingkuhan berlanjut ke selingkuhan lainnya. Ada juga yang suaminya sudah pengangguran bertingkah pula, minta dilayani bak raja dan suka marah-marah jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai maunya.

Nah, yang terbaru teman saya curhat tentang rumah tangganya yang kelewat hambar. Enggak ada KDRT atau perselingkuhan, sih. Hanya hambar saja. Kebetulan si laki-laki tipe suami super kalem. Saking kalemnya jangankan menggombal istri, lha wong ngomong aja jarang. Kalo duduk di dekat bini kerjanya cuma main hp doang.

Sedangkan si istri tipe perempuan berapi-api yang penuh semangat. Language love-nya senang dipeluk, atau dibujuk pake kata-kata mesra yang lemah lembut. Menurut si istri, dia sudah mencoba menjadi manual book buat suaminya dengan memberi tahu apa saja yang bisa membuat si istri senang dan bahagia. Tetapi tetap saja sang suami enggak berubah juga. Tetap saja bawaannya sunyi macam kuburan di tengah hutan.

Padahal kalo menilik dari penampakan lahiriah. Mereka ini pasangan yang membuat iri.  Pasangan rupawan. Yang laki-lakinya ganteng, dan yang perempuan cantik. Tapi siapa sangka ternyata rumah tangga mereka saat ini sedang sakit, karena sang istri yang merasa selalu mengambil inisiatif mulai merasa lelah dan desperate luar biasa.

I felt pity for her

Mau sebenarnya membantu. Masalahnya saya sendiri paling bingung kalo dimintai nasihat. Lah, saya ini psikolog juga bukan. Penyeru yang banyak mengetahui ilmu agama juga bukan. Saya itu jagonya cuma menggombal dan menye-menye saja. Tapi menasihati orang. Aduh! Serem sekali itu. Bukan apa. Menurut sebagian orang saya ini sesat dan menyesatkan. Omongan Golde kok didengar. Membantu dari segi mananya? Ya, jadi takut aja kalo mereka malah terperosok ke lubang buaya gara-gara saya? Hehe

Lagi pula suami saya selalu mengingatkan, "jangan ngasih nasihat yang mama sendiri tidak pernah melakukan nasihat itu. Itu namanya sok tahu, Ma. Bahaya itu!"

Akhirnya setelah menimbang-nimbang keluar juga saran saya buat dia.

Kalo situasinya tidak bisa diubah, sementara kita masih ingin mempertahankan rumah tangga. Jalan satu-satunya ya berdamai dengan keadaan. Karena sumber ketidakbahagiaan dia adalah mengharapkan pasangan berubah sesuai maunya. 

Bagaimana kalo mindset-nya diubah. Mulai sekarang berhenti mengharap suaminya berubah, karena itu sama saja menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan. Bagaimana kalo fokusnya dialihkan saja kepada membahagiakan diri sendiri. Menyayangi dan mencintai diri sendiri sedemikian rupa.Teknisnya terserah. Bisa menekuni hobi, menuntut ilmu lagi, memanjakan diri, mencoba hal-hal baru dan lain sebagainya. Pokoknya apa saja yang bisa membuat bahagia dan itu positif lakukan saja.

Konsep ini baru berapa tahun terakhir saya dengar, tapi kalo mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sudah sejak dulu saya lakukan. Memang cara ini belum tentu mengubah situasi seperti yang diharapkan, tetapi setidaknya bisa mengalihkan pikiran buruk dari terus menyesali ketidakbahagiaan rumah tangga dan upaya menyelamatkan diri sendiri dari kehancuran juga.

Harapannya itu begini. Orang lain/ pasangan mau bersikap atau bertingkah laku macam apa, ya, itu urusannya dia. Bukan urusan saya. Persetan dengan mereka. Yang menjadi urusan saya bagaimana membuat diri sendiri bahagia, damai di batin, tentram di perasaan. Agak egois, sih kedengarannya. Ya, apa boleh buat. Namanya juga sedang menyelamatkan kewarasan diri kan.

Kayaknya gampang, ya? Hahaha
Bohong banget itu. Saya yang nulis aja capek, apalagi mempraktikkannya. Butuh kesabaran dan waktu yang lumayan lama itu. Tapi mengingat meraih self happines juga penting, apa salahnya dicoba. Mana tahu dengan semakin berbahagia kita, situasi akan berubah lebih baik dengan sendirinya.

Demikian kira-kira masukan dari saya. Entah ini solusi atau bukan, embuhlah. Semoga bermanfaat aja, ya

Wallahu'alam


Wednesday, February 12, 2020 4 komentar
Dalam hidup ini lumrah saja jika kita mengalami keterpurukan. Entah karena musibah atau serbuan masalah yang seolah datang tak henti-hentinya. Yah, namanya juga hidup di dunia. Mustahil seperti di surga yang akan terus merasa senang dan bahagia. Meski demikian, tak mungkin juga selamanya menderita bagaikan hidup di neraka yang pasti tersiksa.

Foto : pixabay.com

Selama hidupnya masih di dunia, sedih, senang, bahagia, nestapa pasti silih berganti saja. Seperti malam berganti menjadi siang. Seperti pelangi yang terbit setelah badai.

Nah, ternyata musibah tak selamanya buruk, loh, karena di balik musibah banyak juga hikmah positifnya. Apa saja hikmahnya, cekidot, ya:

1. Musibah Sebagai Sarana Melembutkan Hati

Musibah seringnya membuat kita kembali mendekatkan diri pada Allah. Dengan menumpahkan segala gundah gulana kepadaNya, bisa dikatakan sebagai upaya menjalin kemesraan kembali dengan Allah yang boleh jadi jarang kita lakukan saat hati senang.

Hal ini menunjukkan pengakuan bahwa kita ini hanyalah makhluk lemah. Sehebat apa pun manusia, tetap saja kita ini seorang hamba yang akan selalu bergantung kepada Allah. Setinggi apa pun kedudukan kita tetap saja kita bukan siapa-siapa yang akan selalu membutuhkan Allah.

Alhasil, kesedihan berguna untuk melembutkan hati, karena rasa tak berdaya seolah mengingatkan kita agar kepala yang selalu ditegakkan harus ingat untuk sering-sering menunduk dan bersujud. Nah, jika dihayati dengan baik, bukankah musibah justru dapat menanggalkan kesombongan dan ke-akuan manusia yang sering lupa bahwa sifat-sifat tersebut seharusnya milik Allah.

2. Saatnya Naik Kelas

Suka atau tidak, musibah yang menimpa adalah tanda kita mau naik kelas. Entah  itu dari segi keimananan ataupun taraf hidup yang biasanya akan meningkat. Memang musibah membuat kita sedih. Hal itu wajar saja, namanya juga kita hanya manusia biasa. Yang penting tidak berlarut-larut saja

Dari pada meratapinya yang berujung keluh kesah dan menolak takdirNya, lebih baik bersabar sambil terus berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah tidak mungkin menguji hambanya diluar batas kesanggupan kita menanggungnya. Mana tahu kejadian ini caraNya mengangkat derajat kita ke tempat yang lebih tinggi. Oleh karena itu stay positif, aja, ya!

3. Menjadi Semakin Tangguh

Salah satu hikmah tertimpa musibah adalah membentuk pribadi menjadi lebih tangguh. Situasi sulit biasanya membuat kita jadi lebih kreatif memikirkan caranya bertahan, dan keberhasilan melewati semua badai akan membuat kita semakin kuat dan tumbuh menjadi lebih bijaksana.

Percayalah! Manusia tangguh bukanlah mereka yang terlahir kuat. Tetapi, orang lemah yang memilih bertahan melewati badai yang menerpanya tanpa melarikan diri.

4. Ujian Akan Menentukan Siapa Sebenarnya Dirimu

Kalo ingin melihat watak asli seseorang. Lihat dirinya saat berhadapan dengan masalah. Apakah dia akan lagi menghindar dari masalah tersebut atau justru menghadapinya dengan gagah berani dan penuh tanggung jawab?

Jika ujian ternyata membuat kita lari dari masalah. Berarti ini saatnya kita harus berubah, karena tantangan hidup ke-depannya hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang berani dan bukan untuk mereka yang suka melarikan diri.

5. Introspeksi

Saat menghadapi musibah sebaiknya kita introspeksi diri. Apakah peristiwa yang menimpa diri ini karena kelalaian atau tidak. Jika musibah terjadi karena ke-alpa-an berarti ini waktu yang tepat untuk memperbaikinya. Namun, jika musibah terjadi karena sesuatu di luar kendali kita berarti tugas kita hanyalah bersabar.

Demikian hikmah dibalik musibah. Ternyata, banyak hal positif yang bisa dipetik bahkan dari musibah sekali pun. Semoga kita semua di mampukan mengambil pelajaran dari hal tersebut. Amin.

Thursday, February 06, 2020 3 komentar

Ini cerita tentang kamu. Kamu yang seperti tak pernah menderita. Padahal menurutmu, kamu hanyalah orang yang pandai menikmati hidup. Bertubi-tubinya cobaan tak menghalangimu merasakan bahagia. Berhubung masalah adalah makanan yang sering terhidang untukmu. Kamu justru semakin pandai menyesuaikan diri, kapan harus menikmati derita dan kapan saatnya meninggalkan semua masalah di belakang dan sejenak menikmati kebahagiaan.

Sumber Foto. Pexels.com

Ini mungkin terdengar absurd. Namun, nyatanya kamu mampu beradaptasi. Derita itu bandel. Dihindari sekuat tenaga justru enggan menjauh. Jika kamu menunggu dia pergi menghilang. Kamu bisa kehabisan waktu. Lebih baik fokus memperbaiki hidupmu dan tak menyediakan waktu untuk meladeni penderitaan. Itulah mengapa pilihan yang tersisa untukmu hanyalah berdamai, bahwa kamu tak akan pernah lepas darinya.

Berdamai. Itu yang kamu lakukan. Sekilas, orang tak percaya kamu memiliki beban. Pembawaanmu yang periang, tawamu yang lepas, jiwamu yang hangat, senyummu yang tulus, cerita-cerita baik yang engkau bagikan, seolah-olah menyiratkan hidupmu bergelimang kesenangan dan kebahagiaan.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Dirimu sama seperti orang lain. Mempunyai masalah dan menanggung beban. Hanya bedanya, kamu tidak suka berbagi penderitaan dengan sembarang orang. Pengalaman sudah mengajarkanmu, bahwa ada manusia yang benar-benar peduli kepada orang lain. Namun, tidak sedikit juga manusia yang sebaliknya. Tidak peduli dan menganggap masalahmu bukan urusan maupun tanggung jawab mereka. Kamu harus berhati-hati.

Di samping kamu merasa bukan tindakan bijak menghambur masalahmu ke sana ke mari. Membebani siapa saja yang kau temui. Tindakan itu selain tidak adil buat orang lain yang harus menerima sampah darimu, juga akan membongkar aibmu sendiri. Padahal semakin terbuka aibmu, semakin tidak berdaya dirimu di hadapan manusia.

Itulah mengapa, kamu memilih menampilkan hal-hal baik dan menyembunyikan duka nestapa hanya untuk dirimu sendiri. Jika kamu merasa mampu mengatasi gejolak kepiluan, kamu akan menahannya saja. Akan tetapi jika kamu sudah tidak kuat lagi menahan himpitan beban, kamu menangis atau berdoa. Mau bagaimana lagi. Hanya dua hal itu yang bisa kamu lakukan, jika ingin melindungi jiwamu. Satu-satunya bagian diri yang kendalinya tak pernah kau berikan pada siapa pun.

Pengalaman juga telah mengajarkanmu. Menyandarkan pengharapan kepada manusia jangan terlalu-lalu. Karena seharusnya setiap orang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan diri sendiri, dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai tanggung jawab orang lain.

Maka dari itu. Untuk dirimu yang sangat tabah, izinkan aku memberi hormat dan berdoa, semoga Allah berkenan meridhoi kesabaranmu dan selalu melindungi jiwamu agar senantiasa dalam kebaikan. Amin.

Muara Teweh, 29 Agustus 2019
Friday, September 06, 2019 2 komentar
Aku enggak tahu harus berpandangan seperti apa, pas suatu waktu menghadapi seorang teman yang selalu mengeluhkan tentang "ketidak hebatan" suaminya karena menjadi pengangguran. Sekali dua aku hanya mendengarkan saja, namun selanjutnya aku tak sanggup lagi untuk menahan lidahku dengan memberikan komentar seperti ini.

Sumber Foto. Pexels.com

"Yang menyuruh mengawini suamimu itu siapa? dipaksa atau pilihan sendiri?"

Bukan tanpa alasan mengapa aku jadi berkomentar seperti ini, aku merasa kesal dengan ulah si teman yang selalu merendahkan suaminya hanya karena si suami belum mendapatkan pekerjaan alias pengangguran.

Padahal aku yakin si teman menikah dengan si suami atas pilihan sadar alias menikahnya bukan karena di jodohkan, jika pernikahan itu atas kemauan sadar sudah barang tentu si teman telah mengetahui kelemahan si pasangan jauh-jauh hari, makanya akhirnya memutuskan untuk tetap menikahinya.

sebagai istri harusnya menanamkan pemahaman di kepala, bahwa laki-laki itu adalah pemimpin, kepala rumah tangga didalam rumahnya, dan selayaknya seorang pemimpin, suami berhak mendapat rasa hormat dan ditinggikan dari orang yang di pimpinnya. Bukan malah direndahkan dan dihinakan di wilayah kekuasaannya sendiri. ikut merasakan bagaimana terhinanya perasaan sang suami yang tak mendapat perlakuan yang semestinya itu, pasti menyakitkan.

Aku merasa yakin dan percaya kepengangguran si suaminya itu bukan karena di sengaja, tapi kebetulan saja zamannya memang lagi susah mendapatkan pekerjaan, plus faktor keapesan yang diakibatkan oleh banyak hal membuat si suami belum kunjung mendapat pekerjaan.

Pada dasarnya tak ada satupun laki-laki terutama yang telah mempunyai istri yang berniat untuk menjadi pengangguran, semua suami pasti ingin membahagiaan sang istri, memberi yang terbaik serta menjadi kebangaan. Tapi yang namanya keinginan kita belum tentu selalu sejalan dengan kenyataan.

Ada banyak faktor, di antaranya telah di sebutkan di atas tadi. Zaman yang serba sulit membuat keinginan mendapatkan pekerjaan yang diidamkan menjadi kian berat., dan sudah barang tentu beban itu terasa kian berat ketika sang istri yang di harapkan menjadi orang yang paling mengerti akan keadaan suami, justru malah membuat tertekan dengan tindakannya yang selalu memaksa suami agar segera mendapatkan pekerjaan hingga berkata yang menyakitkan mengenai kepengangguran suami.

Padahal agama telah banyak mengajarkan kepada kita, bagi seorang perempuan untuk masuk surga itu tak susah, hanya 3 hal yang perlu dilakukan, yaitu sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan dan taat kepada suami. Dan menurutku bersabar dengan kedaan suami yang belum mendapatkan pekerjaan itu dapat di kategorikan sebagai taat kepada suami.

Yang namanya rumah tangga itu tak selalu mulus dan sesuai harapan, tapi pernahkah terlintas di kepala kita, bahwa situasi tidak menguntungkan yang dialami oleh suami merupakan salah satu ujian cinta yang harus kita tangani dengan bijaksana, alih-alih menyiksa suami dengan tindakan yang menyudutkannya, mengapa kesempatan itu tak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mempererat ikatan cinta diantara kita dan suami dengan selalu memberi dorongan padanya, mengingatkan suami untuk terus berusaha dan sabar.

Menggenggam tangannya ketika dia lemah, memberi pelukan hangat ketika dia resah, meyakinkannya bahwa dia mampu menjadi laki-laki yang berhasil seperti yang dia inginkan.

Bukankan lebih nikmat rasanya jika keberhasilan suami yang capai dengan susah payah itu dengan di belakanganya si istri yang tak pernah lelah untuk selalu mendukung. Suami tentu tak akan lupa dengan jerih payah istri yang sudah sedemikian sabarnya selalu mendampingi suami dalam suka dan duka itu. Membuat kita merasakan betapa bersyukurnya kita karena telah di anugerahi satu sama lainnya.

Memang, akan mudah membanggakan suami yang terlihat berhasil baik secara materi atau kekuasaan, ketimbang yang biasa-biasa saja. Tapi biarlah, meski rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri, dengan mensyukuri hidup yang ada beserta jodoh baik yang kita terima. akan lebih menyadari ternyata kebahagiaan tak bisa selalu diukur melalui banyaknya materi, karena tak berpunya bukan berarti tak bahagia atau miskin rasa, selama kita masih saling memiliki dengan cinta terhadap satu sama lain yang tak luntur, bukankah itu lebih dari cukup?


Aku sendiri pernah mengalami beratnya hidup ketika memulai berumah tangga, dengan penghasilan suami yang kecil dan tak menentu itu. Syukurnya hidup tak terasa berat sama sekali, prinsipnya selama hidup dengan suami, yakin semuanya akan baik-baik saja. Menyadari dan mempercayai bahwa suami mampu membawa keluarga ke kehidupan yang baik, pemahaman ini yang menghantar kita pada kondisi ingin selalu mengerti keadaan suami dan tetap bersabar.

Begitu pun ketika suami mengalami keberhasilan dalam hidupnya, supaya tak menjadi istri yang mabuk kepayang, caranya dengan menetapkan dalam pikiran bahwa keberhasilan suami karena usaha suami itu sendiri. Sama sekali bukan karena aku, di kehidupannya yang lebih baik ini posisiku hanya penumpang yang ikut mencicipi jerih payahnya. Aku tak terlalu berhak untuk menyatakan apa yang di peroleh suamiku sebagai sepenuhnya juga milikku, yang cape’ kerja kan suamiku.


Harapannya jangan sampai rumah tangga yang di bangun dengan cinta ini rusak hanya karena materi yang tak kekal itu, materi hanya pendukung kelangsungan hidup, dan bukan materi yang seharusnya mengendalikan kebahagiaan rumah tangga kita, kaya atau miskin yang paling penting adalah rasa saling memiliki terhadap satu sama lain yang lebih diutamakan. Demikian kira-kira. Wallahu'alam

#setip d


Monday, May 06, 2019 No komentar


Pulang kampung kali ini. Saya sempat bertemu seorang kawan lama. Laiknya pertemuan setelah lama tak jumpa, kami pun bercerita ngalor-ngidul mengenai berbagai hal.

Sumber foto. Pexels.com
Namun, ada yang menjadi perhatian saya dari cerita teman tersebut, tentang orang-orang yang pernah terhubung dengan kami di masa lalu. Sayangnya, ceritanya bukanlah kisah yang nyaman didengar, karena menyangkut perbuatan buruk yang dilakukan beberapa orang. Kita sebut saja mereka oknum.

Oknum-oknum ini diduga menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan manipulasi laporan dengan tujuan akhir penggelapan dana. Memang, kalau dilihat sekilas, gaya hidup oknum-oknum ini sedikit tak sesuai dengan keadaan. Pendapatan sekian, tetapi gaya hidupnya udah macam kaum the have saja.

Saat tiba di rumah, oleh-oleh berupa cerita yang kami dengar dari rumah teman tersebut menjadi topik diskusi antara saya dan suami, yang membawa kami pada kesadaran lagi. Untung kami tidak seperti oknum-oknum itu. Betapa kami sangat bersyukur dengan hidup yang ada. Fakta bahwa apa yang kami makan dan minum masih dibeli dari pendapatan yang sah atau uang halal, adalah nikmat yang luar biasa.

Walaupun saya pernah beberapa kali harus memasang tampang bodoh kala mendengar penilaian semena-mena orang lain yang mencap kami kurang sukses untuk ukuran jabatan suami. Akibat kami tidak memiliki benda-benda simbol kesuksesan. Ya, enggak papa juga. Anggap saja kami dan mereka berbeda pandangan soal makna sukses.

Apapun anggapan orang di luar sana insyaallah tak mengurasi rasa syukur kami. Selalu merasa beruntung karena merasa dianugerahi pemahaman baik, bahwa kemuliaan diri tidak tergantung pada harta benda yang dimiliki. Pemahaman yang mengantar kami punya perasaan biasa-biasa saja terhadap berbagai benda. Kalau ingin beli dan kebetulan uangnya ada, ya, dibeli. Tetapi, jika dananya tidak ada, tidak memaksakan diri.

Saya sudah hidup cukup lama di muka bumi ini, dan pernah merasakan berbagai kesakitan hidup dan hinaan manusia. Ada hubungannya dengan harta benda. Namun, yang lebih berat untuk ditanggung justru rasa bersalah akibat perbuatan dosa, bukan karena dihina karena tak berpunya.

Kembali lagi ke soal harta halal tadi. Karena menikmati yang halal adalah keharusan bagi siapa saja yang ingin hidup dalam kebaikan, atau bagi siapa saja yang meyakini alam akhirat tempat kembali yang nyata. Maka, sudah sewajarnya cara meraih rezekinya pun harus sesuai cara-cara yang dibenarkan juga. Demikian kira-kira. Wallahu'alam

Martapura, April 2019

#SETIP day 27
Wednesday, April 24, 2019 No komentar

Kalau di suruh memilih, aku sebenarnya sangat betah tinggal di rumah. Tipe orang yang keluar rumah kalau ada perlu aja. Makanya, menekuni profesi menulis cocok buatku. Kenapa harus repot-repot mencari kebahagiaan di tempat lain, jika duduk menyendiri di pojokan, menjadi tak terlihat dan hanya menjadi pengamat sudah mampu membuatku bahagia dan damai?

Sumber foto. Pexels.com
Namun, bukan berarti lantas menutup diri dari pergaulan dengan orang-orang. Sama sekali tidak. Kendati, aku sangat menikmati kesendirian, jalan hidup justru mengharuskan kami membuka diri dan bergaul dengan berbagai kalangan.

Salah satunya contohnya keikutsertaan dalam GOW (gabungan organisasi wanita) Barito Utara sebagai utusan dari Dharmayukti Karini Muara Teweh. Ini adalah peran lain yang harus kujalani sebagai konsekuensi berorganisasi dan hidup bermasyarakat.

Situasi ini menyenangkan juga. Pengalaman berteman dengan banyak orang itu memperkaya wawasan. Betul adanya ungkapan yang mengatakan, jika pemahaman membuat seseorang menjadi radikal, maka, pengalaman justru membuat seseorang menjadi toleran.

Yup. Semakin luas pergaulan. Boleh jadi aku memang kian toleran. Terutama menjadi semakin hati-hati dalam mengeluarkan pendapat pribadi, berusaha tidak mengeluarkan pernyataan yang mengundang perdebatan karena banyak orang yang harus dijaga perasaannya.

Harapannya. Meskipun aku bukan siapa-siapa. Hanya sebutir telur kutu di tengah triliyunan kutu-nya manusia* wkwkwk, apaan seh* di bumi ini. Aku bisa dimasukan dalam golongan yang berusaha merawat kerukunan bangsa, yang sudah terlanjur compang-camping akibat perbedaan pandangan politik di negeri ini.

Prinsipnya, jangan menambah keruh suasana yang sudah ada. Kalau tidak bisa merubah keadaan, minimal jangan memancing keributan.

Posting yang baik-baik aja.

#SETIP day25

Saturday, April 06, 2019 No komentar

Ini dunia, bukan surga dan bukan neraka. Namanya saja dunia, makanya mustahil hidup kita selalu bahagia, dan bila menderita akan terus menerus hidup menderita.
Sumber Foto. Pexels.com

Dunia itu ya begitu. Bahagia, senang, dan derita, duka nestapa, kecewa silih berganti saja.

Bagusnya ya memang tak perlu terlalu serius menanggapi kejadian-kejadian didalamnya. Supaya kalau lagi bahagia tidak lupa daratan. Lupa bersyukur. Begitu juga kalau lagi sedih tidak sampai putus asa.

Yang terpenting setiap mengalami kejadian baik senang maupun susah tak pernah lupa menyertakan Allah SWT dalam menikmatinya.

Yang menganugerahi nikmat itu Allah. Boleh jadi untuk mendapatkanya kita memang bekerja keras. Banting tulang. Jungkir balik. Tapi diatas semua itu jangan lupa jika Allah tidak berkenan dengan usaha kita semua usaha bisa saja sia-sia. Allah yang memudahkan urusan kita. Bukan kitanya yang hebat itu.

Dan jangan salah...

Nikmatpun termasuk ujian. Sudahkah bersyukur atau belum?

Sudahkah nikmat yang diterima dijadikan sarana mendekat padaNYA?

Demikian juga kalau lagi tertimpa kemalangan bukan berarti akhir dunia. Kemalangan itu bukan tanda Allah tak cinta.

Memang. Sudah lumrah juga kalau semua orang lebih memilih ujian berupa nikmat dari pada ujian kesengsaraan. Siapa yang suka menderita? Jawabnya pasti tak ada yang mau.

Tapi logika Allah yang jiwanya kita ada ditanganNYA itu berbeda dengan manusia.

Manusia maunya senang terus. Happy terus.

Sementara Allah itu maha penyayang terhadap hamba-hambanya. Memberi kita kemalangan justru untuk menyelamatkan kita. Karena seringnya manusia baru ingat Allah kalau menderita.

Kemalangan membuat kita ingat dan kembali padaNYA. Bersimpuh, bersujud. Berpegangan lagi dengan Allah.

Bukankah orang yang selamat itu yang berpegangan erat dengan Allah?

Dengan kemalangan kita diingatkan kembali bahwa hidup di dunia ini sementara saja. Cepat atau lambat, suka atau pun tidak kita akan kembali ke kampung akhirat kita. Tempat abadi yang sebenarnya.

Allah dengan sayang seolah-olah mengingatkan. Please deh! Jangan terlalu tertipu dengan dunia ini. Mbok ya sedang-sedang saja menanggapi kejadian didalamnya.

Hendak selamat dari tipuan dunia? Berpegang teguhlah pada taliKU. Pada agamaKU.

Demikianlah kira-kira.

Wallahu'alam bishowwab

#menulisebagaipengingatdiri

#SETIP day22
Friday, March 29, 2019 No komentar

Salah satu tempat ziarah yang wajib di kunjungi ketika kita berada di tanah suci adalah gunung tsur. Sekilas tak ada yang istimewa dengan tempat ini.

Jabal Tsur

Sejauh mata memandang yang terlihat hanya gugusan beberapa gunung besar dan kecil yang memanjang dan sambung menyambung satu sama lain. Tak ada pepohonan. Tak ada padang sabana, semak belukar. Yang ada hanya bebatuan.

Tapi pernah terjadi peristiwa besar disini.

Tanah yang tandus ini. Pegunungan yang isinya hanya bebatuan ini, adalah saksi sejarah bahwa islam pernah mengalami titik nadir disini.

Telah 13 tahun sejak pertama kali Rasulullah SAW menerima wahyu dan berdakwah kepada penduduk Mekkah. Selama itu pula beliau menerima semua perlakuan buruk orang kafir Quraisy tanpa amarah apalagi patah semangat. Meski beliau ditekan, ditentang, dihina beliau tetap berdiri sendiri menentang kekafiran tanpa bantuan dari luar.

Hingga akhirnya...

Perintah hijrah itu turun juga. Melalui malaikat jibril Rasulullah menerima perintah untuk hijrah. Nabi Muhammad SAW pun hijrah dengan ditemani
Abu Bakar As Siddiq RA.

Saat melarikan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya. Rasulullah bersembunyi di gua tsur yang letaknya di puncak gunung tsur ini.

Begitu dekatnya baginda Rasulullah dengan musuh. Begitu gentingnya nasib islam disini. Jika saja para pemburu itu menengok kebawah niscaya mereka akan melihat Rasulullah dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi disana. Pasti Rasulullah SAW akan tertangkap. Jika itu terjadi entah bagaimana nasib agama dan pemeluknya ini di kemudian hari.

Namun syukur alhamdulillah, Allah yang maha kuasa tak mengizinkan para pembuat makar itu berhasil melakukan rencana jahat mereka, Allah mengirimkan pertolongannya berupa sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi mulut gua.

Membuat para pemburu berkesimpulan bahwa tak mungkin Rasulullah bersembunyi di situ. Kalau ada yang memasuki gua, sarang laba-laba dan sarang burung merpati itu pasti sudah rusak.

Demikianlah. Para pemburu akhirnya menjauh dan Rasulullah SAW serta Abu Bakar pun selamat.

Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di gua tsur selama 3 hari. Untuk urusan logistik mereka tidak kekurangan karena setiap sore Asma Binti Abu Bakar selalu mengantarkan makanan bersama Abdullah. Sementara Amir bin Fuhairah pembantu Abu Bakar bertugas memerah susu kambing untuk keperluan minumnya Rasulullah SAW dan Abu Bakar.

Setelah 3 hari kepanikan di Mekkah mereda. Rasulullah dan Abu Bakar pun berangkat ke Madinah.

Dan Periode Kebangkitan Islam pun di mulai.

Sejarah gunung tsur yang mendebarkan ini tak ayal membuat kita akhirnya memandang pegunungan terjal dan tandus ini dengan tatapan yang berbeda. Penuh sayang dan rasa terima kasih.

Gunung yang isinya hanya bebatuan ini pernah menyelamatkan manusia yang paling agung di muka bumi. Manusia yang paling baik akhlaknya, lemah lembut dan sangat dicintai umatnya. Sang nabi terakhir. Yang kelahiran, kehadiran serta ajarannya menjadi berkah bagi seluruh alam.

Allahumma Sholli 'ala Muhammad wa'ala 'alii Muhammad.

Wallahu'alam bishowab

#SETIP day21
Tuesday, March 26, 2019 No komentar
Dalam era media sosial masa ini, dan terutama ketika menghadapi tahun pemilihan presiden seperti sekarang. Kita dihadapkan pada situasi tidak menentu. Termasuk mudahnya berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya tersebar di mana saja, yang biasa kita kenal dengan sebutan hoax.

Sumber Foto. Pexels.com

Hoax adalah berita palsu yang terlihat seolah-olah benar. Sehingga, jika tidak berhati-hati bisa saja kita menjadi korban karena termakan berita palsu, atau justru yang terburuk justru menjadi penyebar berita tak benar tersebut.

Nah, agar acara bermedia sosial kita sehat dan terhindar dari menjadi penyebar hoax, ada baiknya melakukan hal-hal berikut ini :

1. Perbaiki Niat

Perbaiki niat sebelum mulai bermedia sosial. Bahwa, kita hanya akan menggunakan media sosial untuk tujuan kebaikan semata, menjalin silaturahmi dan pertemanan serta tidak dipakai buat menyebar berita bohong atau hal-hal yang menimbulkan perselisihan. Prinsipnya, kalau tidak mampu menyebarkan postingan bermanfaat, setidaknya status kita bisa menghibur dan tidak memancing permusuhan.

2. Bertanya Pada Diri Sendiri Apakah Postingan Ini Bermanfaat atau Tidak?

Sebelum posting sesuatu, sebaiknya bertanya pada diri dulu. Apakah postinganku ini membawa manfaat atau tidak? Menyinggung orang lain atau komunitas tertentu atau tidak? Menimbulkan perdebatan atau tidak? Hal ini perlu dilakukan demi menghindari timbulnya permusuhan, atau rasa tidak nyaman pengguna sosial media lainnya.

3. Cek Narasumber

Biasakan sebelum menyebar suatu berita, perhatikan dulu narasumbernya. Kalau ia aktif bermedia sosial, cek mulai dari foto profile dan status di linimasa orang tersebut. Hal ini dilakukan sebagai pertimbangan apa berita yang kita bagi bisa dipertanggung jawabkan kebenaran dan keabsahannya atau tidak.

4. Antisipasi Judul yang Bombastis

Biasanya untuk menarik minat pembaca, penulis entah artikel atau berita sering memberi judul yang provokatif. Di sinilah kita sebagai pembaca harus berhati-hati. Tidak ada salahnya mencari perbandingan dari media berbeda agar diperoleh berita yang sebenarnya.

5. Baca Secara Menyeluruh

Setiap berita sebaiknya dibaca secara menyeluruh, agar kita tidak salah menyimpulkan isinya. Setelah yakin beritanya bermanfaat dan tidak merugikan pihak mana pun baru boleh di share.

Demikian lima tips yang bisa dilakukan agar kita terhindar dari hoax. Semoga bermanfaat, ya!

#SETIP day15



Saturday, March 16, 2019 No komentar
Sungguh sulit menghentikan kebiasaan buruk. Apalagi jika kita merasa kebiasaan tersebut bukanlah perbuatan buruk, karena kebetulan lingkungan dan lingkaran pertemanan hampir semuanya berbuat demikian. Maka, semakin sulitlah kebiasaan tersebut dihentikan.

Salah satu kebiasaan buruk yang dimaksud adalah berkomentar nyinyir atau berdebat, silang sengketa, tentang berita selebriti atau persoalan pilihan presiden di media sosial.

Sumber Foto. Pexels.com

Memang, memutuskan tidak terlibat atau ikut-ikutan kebiasaan orang banyak, butuh tekad kuat. Semisal menyatakan diri tidak terlibat perdebatan tentang calon presiden. Pilihan ini biasanya akan membuat kita dicap macam-macam. Sok netral, abu-abu,  yang terparah ditakut-takuti tidak menjadi bagian kaum beriman.

Sulit memang. Padahal cuma masalah pilihan politik. Mengapa harus ditekan dan diancam. Padahal, untuk urusan memilih agama saja tidak boleh main paksa. Apalagi soal pilihan politik yang merupakan perkara biasa dalam suatu negara. Urusan dunia belaka. Orang mau pilih yang mana, ya, tergantung selera masing-masing orang saja.

Itu belum termasuk pernyataan menakut-nakuti. "Pilihan kita akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak." Pendapat pendukung salah satu calon ini maksudnya, sih, bahasa propaganda untuk menakut-nakuti siapa saja yang tidak memilih jagoan yang bersangkutan, maka diakhirat kelak akan berhadapan dengan Allah, karena telah memilih pemimpin yang salah.

Masalahnya, bukankah tidak hanya perkara memilih pemimpin saja yang akan kita pertanggung jawabkan diakhirat kelak. Bukannya semua tindak-tanduk kita akan dimintai pertanggung jawaban juga? Termasuk kebiasaan suka nyinyir terhadap orang lain. Menghina dan menghujat pasangan calon lawan politik kita, menyebar berita yang belum jelas kebenarannya. Syukur kalau berita tersebut benar adanya. Kalau ternyata salah berarti kita sudah memfitnah pihak lain.

Makanya, dalam menghadapi situasi yang tidak menentu ini, aku lebih memilih diam saja. Bukan karena tidak punya pilihan. Namun, lebih kepada bersikap hati-hati. Menahan diri menyebarkan berita yang sumbernya meragukan. Tidak ikut campur membahas persoalan yang aku sendiri tidak punya pengetahuan dan tidak tahu persis permasalahannya apa. Dari pada salah ucap yang justru memperkeruh suasana, lebih baik diam saja. Jauh lebih aman.

Aku juga tidak menelan mentah-mentah berita yang kudengar dan kulihat. Karena aku berprinsip semua yang terjadi di muka bumi adalah ujian. Perbuatan buruk orang lain itu ujian bagi orang baik. Kalau kita melihatnya lantas kita mendoakan yang baik-baik untuknya. Orang baiknya lulus.

Akan tetapi, jika kita merasa diri lebih suci kemudian menggunjing, menghujat, menggosip dan menjelek-jelekkan oknum yang berbuat buruk tadi. Di situlah pahala kita yang dikumpul dengan susah payah berpindah ke orang yang kita komentari. Dengan kata lain, kita tidak lulus menghadapi keburukan orang lain. Astagfirullah.

Demikianlah. Dunia ini sudah tua. Kita dan orang lain sama-sama sedang menuju Allah untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita. Sebaiknya, selalu waspada dan mawas diri. Minimal kita berusaha tidak dengan sengaja menambah-nambah dosa, supaya selamat baik di dunia maupun akhirat kelak. Aamiin.

#SETIP day 13



Friday, March 08, 2019 No komentar
Beberapa hari ini sliweran quotes-quotes tentang utang di laman media sosialku. Quotes yang rata-rata bernada sindiran tersebut, mengisyaratkan satu hal yang sama. Tingkah para pengutang yang tidak kunjung membayar utangnya, atau enggan membayar kecuali ditagih dahulu.

Sumber Foto. Pexels.com

Dari status orang-orang tersebut dapat disimpulkan tabiat para peminjam duit atau pengutang zaman ini. Memasang tampang memelas dan meminta dikasihani saat pinjam uang. Namun ketika waktunya membayar malah menunda-nunda atau pura-pura lupa. Padahal boleh jadi yang meminjamkan uang tersebut sama butuhnya terhadap uang itu.

Nah, agar hubungan antara pemberi pinjaman dan peminjam tidak berakhir buruk. Ada baiknya pihak yang berutang melakukan hal-hal berikut ini :

1. Niat Baik

Siapa pun yang berutang harus punya niat baik. Meminjam uang dengan maksud akan mengembalikannya. Karena tindakan biasanya berdasarkan niat si pelaku. Demikian halnya dengan perkara hutang-piutang. Orang yang berniat membayar utang pasti akan diberi kemudahan untuk segera melunasi pinjamannya, karena baginya utang itu beban yang dapat mengganggu kenyamanan hidup jika tidak segera dibayar

2. Jangan Gampang Berutang

Sudah banyak contoh dalam kejadian sehari-hari. Ada orang yang hidupnya kacau gara-gara utang. Sering berbohong hanyalah sedikit dari banyak contoh tabiat orang yang dililit utang, hidup dalam kegelisahan hingga rumah tangga yang tidak tenang. Oleh karena itu, hendaklah kita menghindar sifat suka berutang ini supaya hidup kita damai dan tenteram.

3. Jangan Menghindar Pemberi Utang

Ada beberapa orang yang memasang tampang memelas saat meminjam uang, tetapi menghindar bertemu si pemberi utang setelahnya. Sebaiknya, jika belum mampu membayar sejumlah pinjaman, katakan alasan sebenarnya dan tidak berbohong, apalagi sampai memutuskan kontak dengan pengutang.

4. Catat Jumlah Utang

Jangan lupa untuk mencatat utang yang kita pinjam, agar tidak ada pihak yang dirugikan. Kalau lupa mencatat dan tidak ingin mengambil hak orang lain. Tidak ada salahnya membayar lebih dari yang seharusnya. Itu jauh lebih menentramkan.

5. Bayar Utang Segera Saat Punya Uang

Salah satu perbuatan yang disukai para pemberi pinjaman adalah orang yang berutang segera melunasi pinjamannya setelah memiliki uang. Yang meminjamkan uang tidak kapok dan hubungan baik kita dan orang lain pun tak rusak gara-gara utang.

6. Utang akan Dibawa Mati

Hal penting yang harus diingat, utang akan dibawa mati. Dari pada hidup tersiksa di akhirat karena utang, lebih baik kita tuntaskan selama hidup di dunia. Bayar utang selagi diberi umur buat hidup.

7. Berdoa

Hal terakhir jangan lupa terus berdoa sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar dimudahkan membayar utang. Memohon dengan sangat supaya tidak dicabut nyawa dari raga kita sebelum melunaskan semua utang-utang.

Demikianlah beberapa hal yang sebaiknya dilakukan para pengutang, agar utang yang diambil tidak merusak hubungan dengan orang lain.

#SETIP day9




Saturday, March 02, 2019 2 komentar
Aku dan suami bukannya tidak ingin segera memiliki mobil, atau rumah seperti yang sering dipertanyakan orang kepada kami. Kami ingin. Lagian yang tidak mau mempunyai mobil dan rumah siapa?

Sumber Foto. Pexels.com

Kalau sampai saat ini kami belum memilikinya, ya, karena ada beberapa pertimbangan. Salah satunya karena hidup kami yang sering berpindah-pindah. Dengan keadan ini yang membuat kami berpikir, rumah dan mobil belum terlalu mendesak untuk dimiliki. Kami enggak ingin beli rumah kalau hanya untuk disewakan saja. Sayang rasanya.

Punya rumah atau mobil itu gampang, kok, tinggal mengambil utang ke bank dengan jaminan SK hakim pasti dikabulkan dengan segera. Hanya saja, aku dan suami menahan diri. Jelek-jelek begini *wkwkwk" aku pernah belajar tentang financial planning. Dimana hampir semua penasihat keuangan yang kutahu menganjurkan untuk mengambil utang yang produktif dan bukannya meminjam uang untuk tujuan konsumtif belaka.

Sumber Foto. Pexels.com

Yang dimaksud utang produktif dan konsumtif itu yang bagaimana? 

Yang dimaksud utang produktif yaitu seseorang meminjam sejumlah uang untuk tujuan produktif sehingga menghasilkan keuntungan bagi si peminjam. Contoh, pinjam uang di bank untuk membangun rumah sewa. Sedangkan yang dimaksud utang konsumtif adalah kebalikan dari utang produktif. Contoh, pinjam uang ke bank untuk liburan.

Itu yang aku dan suami lakukan. Kami tidak menghindari utang. Kami juga punya utang di bank, tapi peruntukannya bukan untuk menaikan gengsi, atau gaya hidup melainkan buat membeli kebun kelapa sawit. 

Dari pada meributkan gengsi kami yang turun dimata orang lain, lebih baik kami memikirkan bagaimana cara menambah aset. Makanya uang yang kami pinjam dari bank kami gunakan untuk membeli kebun sawit dan tanah.

Selain meminjam uang untuk tujuan produktif. Berutang pun ada aturan mainnya supaya tidak mengganggu kenyamanan hidup. Yaitu, hanya boleh berutang sekitar 30%-35% dari total penghasilan. Sebagai contoh jika pendapatan kita sebesar 10 juta. Maka dari total gaji tersebut yang digunakan buat membayar utang sekitar 3-3,5 juta saja. Jangan lebih dari itu.

Nah, karena alasan itulah, yang membuat kami tidak menambah utang lagi untuk membeli rumah maupun mobil. Sebenarnya pendapatan kami masih cukup seandainya mau mengambil utang lagi untuk membeli mobil atau rumah. Namun, kami merasa utang yang ada jangan ditambah lagi. Kalau mau beli ini dan itu lebih baik menabung saja. Memang mengumpulkan uang butuh waktu. Ya, tidak papa. Kami tidak keberatan. Toh, kepentingan akan benda yang dibeli tidak mendesak juga. Jadi, ya santai saja.

Kenyamanan hidup itu hanya kita yang rasa. So, jangan menyandarkan kebahagiaan berdasarkan pendapat dan pandangan orang lain.

#SETIP
#day6


Monday, February 18, 2019 No komentar
Saat pulang kampung tadi aku mengunjungi rumah beberapa orang kenalan dan kerabat. Ada hal yang lumayan membuatku terkejut dalam kunjunganku tersebut. Yaitu, aku selalu ditanyakan mengenai apakah aku punya mobil atau tidak. Kebetulan karena memang enggak punya, ya, kujawab saja tidak punya.

Sumber Foto. Pexels.com

Jujur, sikap orang-orang yang kukunjungi ini membuatku sedikit merasa risih. Padahal aku mengunjungi mereka setelah hampir 20 tahun enggak bertemu, seharusnya kami berbagi cerita yang asyik-asyik saja dan tidak membahas hal-hal kurang penting dan sangat duniawi seperti harta.

Rupanya dunia sudah sangat berubah. Bukannya senang mendapat kunjungan untuk bersilaturahmi, yang orang ributkan dariku justru apakah aku sudah punya mobil atau belum. Seolah-olah benda tersebut jauh lebih penting dibanding pertemuan itu sendiri.

Menurut mereka aneh saja seorang hakim seperti suamiku tidak mempunyai benda seperti mobil. Bukankah mobil simbol kesuksesan? Dan suamiku yang dianggap sukses karena menjadi hakim, mengapa tidak mempunyai mobil?

Tak ayal pertanyaan ini sempat menggerus sedikit rasa syukurku. Aku yang selama ini merasa hidupku lebih dari cukup, nyaman-nyaman saja kesana kemari menggunakan taksi tiba-tiba seperti dipaksa menyadari kesalahan, bahwa aku dan suami pasangan yang terlampau santai dan kurang berusaha mempunyai harta seperti mobil. Untungnya suamiku segera menasehatiku agar tak usah mempedulikan pandangan orang tentang kami.

Ya, boleh jadi mereka benar dengan pendapat itu. Kami mungkin kurang berusaha terlihat kaya dan sukses menurut ukuran manusia. Terlalu cuek dengan pendapat orang lain dan hanya fokus pada hidup serta kebutuhan akan rasa nyaman yang sesuai dengan konsep kami saja.

Selama ini jika menyangkut harta benda aku dan suami memang hanya membeli yang kami butuhkan saja dan sebisa mungkin tidak membeli barang atau benda yang kami inginkan tapi tidak kami butuhkan. Di tambah suamiku selalu menasehatiku agar jangan terlalu menghamba kepada harta. Harta ditangan saja dan jangan sampai dibawa kedalam hati.

Begitu juga dengan gaya hidup. Kami memilih yang biasa-biasa saja. Tidak terlampau memaksakan diri, maupun menghinakan diri. Ambil yang tengah-tengahnya saja. Mengindari utang demi gaya hidup karena masih sayang sama diri sendiri. Itulah alasan penampakan hidup kami yang kurang kaya.

#SETIP
#day5


Monday, February 18, 2019 No komentar

Menulis itu aktivitas tangan dan otak. Walau sangat menyenangkan, adakalanya juga melelahkan. Terutama jika dalam kurun waktu tertentu kita diharuskan mengumpul sejumlah tulisan.

Sumber Foto. Pexels.com


Itu yang terjadi padaku. Akibat terlalu banyak kewajiban menulis yang harus ditunaikan pada bulan Januari lalu, membuatku kelelahan dan seperti kehilangan tenaga bulan ini. Aku punya beberapa ide menulis di kepalaku, tapi seolah-olah tak punya kekuatan menuangkannya ke dalam tulisan.

Tentu saja situasi ini tak dapat terus dibiarkan. Apalagi sejak awal bulan ini sudah mulai menggarap naskah, yang sempat mangkrak selama hampir lima bulan agar segera dirampungkan. Kendati lelah dan tertatih-tatih merevisi naskahnya harus tetap jalan. Prinsipnya biar sedikit asal terus dikerjakan.

Nah, untuk mengembalikan tenaga yang loyo dan semangat yang mulai mengendur, aku melakukan hal-hal di bawah ini:

1. Fokus pada Prioritas

Banyaknya tugas menulis kadang membuat bingung dan kelelahan. Daripada tertekan kala harus menyelesaikan semuanya, lebih baik fokus pada prioritas saja. Pilih yang paling penting dan mendesak untuk dikerjakan. Tak perlu mengerjakan semuanya kalau tidak mampu. Bukankah tujuan menulis supaya bahagia, dan bukannya tertekan?

2. Menonton

Kala otak terasa sudah tak mampu lagi  berpikir, ada baiknya dibawa istirahat dulu. Keadaan tersebut adalah sinyal yang dikirim tubuh agar di istirahatkan sejenak dari rutinitas melelahkan. Untuk mengembalikan semangat aku melakukan aktivitas yang kusukai, salah satunya menonton drama korea. Sambil menghayati jalan cerita yang menghibur, siapa tahu aku akan mendapatkan ide baru untuk memperkaya tulisan yang ada, atau sebagai ide menulis berikutnya.

3. Piknik

Kita sering mendengar ungkapan ada orang kurang piknik. Kalimat yang ditujukan bagi orang-orang yang suka resek meributkan hidup orang lain, sebagai sikap orang yang  butuh piknik.

Walau pada kenyataannya kita bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, piknik sendiri memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Pergi menjauh dari rumah untuk sejenak melupakan rutinitas yang membosankan. Tak harus jauh dan mahal. Sekadar menemani anak dan suami mandi di sungai, atau berjalan melihat sawah dan hutan sudah mampu mengembalikan semangatku yang hilang.

4. Memasak atau Membuat Kue

Dari dulu aku menjadikan memasak, atau membuat kue sebagai refreshing dikala otakku sudah lelah. Meracik bahan dan bumbu menjadi makanan enak dan lezat sungguh mampu mengembalikan semangat yang memudar. Apalagi melihat hasilnya yang memuaskan seluruh keluarga, pasti menimbulkan perasaan bahagia. Perasaan yang mampu mengurai kekusutan dan kebuntuan menjadi semangat kembali.

5. Tidur

Saat situasi sudah tidak memungkinkan. Ide yang tiba-tiba macet, pikiran buntu dan badan mulai lelah. Lebih baik menulisnya dihentikan dulu. Lupakan menulis, dan tidur saja. Jangan memaksakan diri. Walau bagaimana pun menulis butuh pikiran segar dan badan sehat, agar hasil tulisan sesuai keinginan kita.

Nah, demikian beberapa hal yang kulakukan saat merasa kelelahan menulis. Semoga bermanfaat ya!

#SETIP day3


Monday, February 11, 2019 2 komentar
Pertengahan bulan Januari ini, waktu mendadak terasa pendek. Berbagai kelas menulis yang diikuti, sebagian besar dimulai pertengahan bulan, seperti, kelas ghost writer, kelas menulis artikel, kelas fiksi dan kelas pj antologi.



Beruntung, tak semua kelas memberi tugas. Mengingat, lumayan banyak tugas menulis yang menunggu diselesaikan. Tapi, tetap saja, membaca kemudian mencerna materi dari semua kelas-kelas tersebut membutuhkan waktu.

Dari semua kelas, ada tiga yang waktu belajarnya bertepatan. Kelas ghost writer, kelas menulis artikel dan kelas fiksi. Bingung-bingung seru rasanya, manakala, kita fokus pada satu kelas. Enggak tahunya, kelas satunya juga dimulai dan sudah berjalan dari tadi. Jadilah, mata ini mondar-mandir dari satu grup ke grup yang lain demi mengikuti semua kelas-kelas tersebut.

Lain kelas, lain lagi tugas menulis. Kendati sedang mengisi gelas kosong dengan ilmu baru, bukan berarti bersantai juga. Tak kurang, sederet pekerjaan rumah menulis sudah menanti untuk diselesaikan.

Tugas-tugas dari kelas menulis artikel. Ada yang tenggat waktu dikumpulnya hari ini, dan ada juga yang 2 hari lagi. Itu belum termasuk kewajiban mengumpulkan outline antologi romance yang berakhir pada tanggal 18. Kemudian penyetoran naskah antologi anak dari IIDN, yang berakhir tanggal 21 mendatang. Setoran tantangan menulis one day one posting bersama Estrilook. Revisi naskah buku solo, dan naskah antologi tentang kakak ipar.

Jika dibandingkan penulis-penulis profesional, yang sudah punya jam terbang tinggi, yang kulakukan saat ini masih belum ada apa-apanya. Ditinjau dari segi kerepotan, masih kurang sibuklah.

Bayangkan, salah seorang penulis senior ada yang menulis buku hanya butuh waktu 2 minggu, dengan perincian menulis 10 lembar/ hari. Padahal, ia punya anak kecil. Bukan main hebatnya, ya. Sementara, menulis dan revisi masing-masing selembar sehari saja, sudah membuatku kerepotan. Repot mencari ide dan cara terbaik menuangkannya ke dalam tulisan.

Itulah bedanya antara penulis pemula dan senior, yang sudah malang melintang di dunia menulis. Bedalah, ya.

Tapi, meskipun tak sebanding dengan mereka yang sudah hebat, tetap tidak berkecil hati. Terus saja belajar dan berlatih. Semoga suatu hari nanti bisa menyamakan para senior-senior ini.

Disamping, ada satu hal yang ingin terus kujaga. Tetap menulis dengan bahagia. Mengutip perkataan bu ketua IIDN, sebaiknya, tantangan menulis setiap hari ataupun tugas deadline menulis yang dikerjakan saat ini, jangan sampai membuat seorang penulis, kehilangan kenikmatan menulis. Konsisten menulis setiap hari adalah tujuan penulis, tapi, kehilangan kenikmatan menulis saat mengejar konsistensi tersebut, adalah bencana yang harus dihindarkan.

Menulislah dengan bahagia, karena menulis itu membahagiakan!

Sumber Foto:pexels.com

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day16



Thursday, January 17, 2019 No komentar
Hai, Bloggers!

Dalam hidup kita pasti pernah, atau bahkan sering mengalami perasaan terhina, atau terluka akibat sikap dan perbuatan orang lain. Rasanya sangat tidak menyenangkan, ya. Membuat perasaan jadi sedih, kecewa bahkan marah. Kalau menuruti hati. Ingin sekali rasanya balas menyakiti orang yang telah melukai kita. Biar dia tahu bagaimana rasanya disakiti.



Aku pun pernah mengalami perasaan tersebut. Malah tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Bedanya, ada perbedaan cara mengatasinya antara dulu dan sekarang.

Kalau dulu saat merasa tersinggung, aku selalu mencari cara, agar bisa melampiaskan kemarahanku kepada orang yang telah menyakiti. Biasanya aku memprotes atau berbicara langsung.
Prinsipnya, aku tak sudi menanggung rasa kesal dan marah sendirian. Sementara, orang yang telah menyakitiku hidup tenang dalam kedamaian. Masih menurutku, ia harus tahu perbuatan dan tindakannya melukai dan menyakitiku.



Cara ini terbukti membuatku merasa lega dan plong. Tidak ada lagi ruang bagi  kemarahan di dalam hati, karena semua rasa sudah diutarakan.

Namun, lama-kelamaan ada efek negatifnya juga dari pembawaan ini. Ya, iyalah. Akibat terlampau berani mengutarakan perasaan. Aku jadi sering berseberangan dengan siapa saja. Tidak peduli atasan, teman atau keluarga, jika sudah membuatku merasa terhina, aku pasti akan memprotes atau melawannya. Membuatku sering terlihat, seperti seorang tukang pukul yang selalu siap tempur *wkwkwkwk*

Itu dulu. Sekarang aku belajar mengendalikan sikap asertif yang kebablasan tersebut. Aku berusaha mencari cara, supaya mampu mengelola emosi saat merasa terhina atau tersinggung.

Caranya, ketika ada yang merendahkan atau menyinggung perasaanku. Aku curhat kepada suami. Hanya saja, aku tidak berfokus menyalahkan si pelaku, tapi, justru hanya berpusat kepada perasaanku saja. Mengapa aku tersinggung? Masa begini saja terluka? Menghadapi perasaan sakit ini, apa perlu kulampiaskan balik saja kepada si pelaku atau bersabar? Apakah kemuliaan diriku akan ternoda akibat perbuatan orang tersebut atau justru tidak ada pengaruhnya? Dan seterusnya.

Dengan cara ini, biasanya, aku bisa mengidentifikasi. Apakah reaksiku hanya berdasarkan ego semata. Apakah reaksiku adalah marah atas alasan yang benar atau hanya menuruti ego semata? Apakah kemarahan ini akibat memandang diri terlampau tinggi, sehingga aku punya perasaan diriku tak layak menerima perlakuan ini. Tak ada seorang pun yang boleh merendahkanku, dan lain sebagainya.

Nah, kalau sudah ketemu jawabannya. Aku tinggal menata hati saja. Kalau jawabannya berdasarkan ego yang disebutkan di atas. Maka, perasaan marah ini harus dijinakkan apa pun caranya, karena motifnya sudah berbahaya. Bisa menggiring si pemikirnya menjadi sombong dan tinggi hati.

Loh? Tapi, dia memang mengesalkan. Kenapa aku harus bersabar?  Bukannya lebih mudah menyalahkan dia saja. Pelaku, yang menjengkelkan karena ketidakmampuannya menjaga perasaan orang. Membuatku jadi terluka begini. Salahkan saja dia. Beres, kan!

Oke. Pernyataan itu pun betul juga. Memang betul si pelaku adalah orang yang mengesalkan, membuat marah sehingga  otak ini rasa mendidih ingin menumpahkan rasa kesal, dan sumpah serapah.

Tapi, masalahnya, kalau setiap perbuatan buruk orang lain selalu dibalas dengan reaksi negatif, lantas, kapan kita belajar menjadi arif dan bijaksana. Belajar bersabar memahami orang dan segala kelemahannya. Belajar berpikir keren, bahwa keburukan orang seharusnya tidak mengendalikan kita. Terluka sebentar, iya, tapi membuat kita menjadi sama buruknya dengan dia, semoga tidak. Belajar memetik hikmah bahkan dari kejadian tak menyenangkan sekali pun.

Bukankah jadi orang baik dan sabar itu susah? Kenapa tidak menjadikan ini sebagai kesempatan belajar?

Kendati, kenyataannya bersabar tak pernah mudah. Apalagi aku orangnya begini, temperamental sejak lahir*wkwkwk* menulisnya, sih, enteng saja. Tinggal ketak-ketik. Praktik di lapangan sama sekali berbeda, harus rela berdarah-darah dan bersimbah airmata. Beratnya luar biasa. Hanya saja, sayangnya, tak ada cara lain menuju kebijaksanaan tanpa melalui jalan ini.

O, iya, agar bersabar tak terlampau menyiksa diri. Biasanya, aku mengingat formula ini; orang lain punya kekurangan, sama denganku yang juga punya segunung kelemahan.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Commumity

#day12








Saturday, January 12, 2019 No komentar
Sebenarnya aku dan suami sudah berusaha menjauhkan gadget dari Danish putra semata wayang kami. Mengingat usianya baru 4,5 tahun. Masih terlalu kecil untuk berinteraksi dengan gawai dan sejenisnya.



Sampai awal tahun 2018, upaya kami lumayan berhasil. Nyatanya, ia memang enggak berani memegang apalagi mengutak-atik telepon seluler kedua orang tua, biar pun si handphone tergeletak di sembarang tempat.

Tapi, semua berubah tatkala aku melaksanakan ibadah umroh, pada bulan Januari 2018 lalu, yang harus meninggalkan anakku untuk diasuh adik ipar. Danish yang tadinya tidak akrab dengan gawai menjadi terbiasa memegang bahkan menggunakannya.



Hal tersebut tak bisa dihindarkan, karena adik ipar sendiri juga bekerja. Seringnya, saat dia sedang mengajar, pengasuhan Danish diserahkan kepada mertua yang kebetulan keduanya sama-sama sudah sepuh. Kadang, Danish juga dibawa ke sekolah.

Nah, saat semua orang dewasa pada sibuk dan tak punya waktu memperhatikan Danish, saat itulah gadget menjadi pengambil alih peran sebagai pengasuh Danish, yang terbukti efektif menenangkannya saat dia banyak tingkah.

Jujur, sejak saat itu lumayan sulit membuat Danish mengabaikan gadget. Gawai kami tak bisa lagi diletakkan di sembarang tempat. Pasti sudah jadi mainannya, dan membujuknya berhenti bermain ponsel sangat sulit dan penuh drama.

Tak ingin kejadian ini terus berlanjut, aku dan suami sepakat mengambil tindakan, dengan tetap memberi kesempatan kepada Danish memegang hape, namun hanya hari sabtu dan minggu saja. Itu pun sebisa mungkin tidak dalam jangka waktu lama. Ya, sebagai balasannya, kami yang harus memikirkan kegiatan pengalihan agar ingatannya tak melulu tertuju pada gadget.

Kebetulan akhir pekan jadwal suamiku libur bekerja. Kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk membawa Danish berkegiatan di luar ruangan. Mengajaknya ke Stadion Swakarya Muara Teweh buat bermain perosotan, atau hanya sekedar berlarian di lapangan sepak bola. Kalau bosan bermain di stadion kami pergi ke luar kota, berenang di sungai trahean, dan bermain di taman warna-warni, atau hanya sekedar bersantai di siring sungai barito.



Sedangkan jika di weekend-nya di rumah saja, biasanya, kami menemani Danish menonton acara anak-anak. Namun, jika dirasa ia sudah mulai kelamaan di depan TV, aku sering merayunya agar melakukan salah satu aktivitas kegemarannya, yaitu, berendam di bak mandi di teras rumah selama berjam-jam sambil bermain. O, iya, bermai lego juga terbukti efektif mengalihkan pikirannya dari TV dan hape, loh




Alhamdulillah, dengan upaya yang kusebut di atas, perhatian Danish tak lagi melulu tertuju pada gawai. Bahkan, sekarang ini dia sering lupa memegang handphone pada hari sabtu atau minggu. Ia juga sangat mengerti, kalau dirinya tak boleh memegang hape di luar hari sabtu dan minggu. Yah, semoga saja kebiasaan ini berlanjut hingga nanti. Di mana, ia boleh memegang atau memiliki gawai saat waktunya tiba. Semoga!

Sumber Foto: pexels.com dan koleksi pribadi

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day6






Sunday, January 06, 2019 No komentar
Ada saatnya kebanggaan sebesar gunung, yang kita miliki menjadi tak berguna. Manusia yang tak pernah puas, kecuali mulutnya sudah dipenuhi tanah. Baru mengerti apa yang dikejar mati-matian selama hidup, sebagian besar sia-sia saja. Yaitu, saat kematian sudah di depan mata.

Manusia, sehebat apapun dia. Tetaplah seorang hamba, makhluk, yang punya keterbatasan. Merasa besar hendak menyamai Tuhan, hanya dengan mengandalkan kesombongan semata. Padahal, untuk mengetahui jadwal kematian sendiri saja tak mampu.

Kematian. Kejadian paling menakutkan. Tak ada yang mampu memprediksi kapan datangnya. Sangat dihindari, namun pasti menghampiri. Selama sebutannya makhluk hidup, pasti mendapat giliran menjadi si mati.

Lalu apa? Masih terpesona dengan kehebatan diri? Merasa sombong?

Merasa hebat karena memiliki harta kekayaan. Lupa bahwa kekayaan bukan ukuran kemuliaan, tapi justru ujian.

Pun dengan ujian kedudukan. Meningkatnya kedudukan sering membuat seseorang merasa hebat. Akulah sang terpilih. Berada di posisi ini membuktikan kalau aku lebih unggul dari kalian semua. Maka dari itu, kalian harus berlaku hormat kepadaku. Lupa lagi, bahwa tak ada kejadian di muka bumi ini tanpa campur tangan Allah. Seolah-olah hidupnya dirinya saja yang mengendalikan. Menampik peran Allah sang Maha mengatur.

Tak berhenti di situ. Bertambahnya ilmu dan ketaatan bahkan tak mampu mencegahmu dari rasa berbangga diri. Perasaan hebat yang tak seharusnya.

Syukurlah, Allah maha penyayang. Tak pernah dibiarkannya manusia mendapat siksa, sebelum dikirimnya hidayah.

Seperti kejadian hari ini. Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Mengingatkan kembali, bahwa hidup di dunia ini sementara saja. Suka nggak suka, siap ataupun tidak, sudah bertobat atau belum, jika saatnya tiba kita pasti akan mati. Menghadap Allah tanpa membawa apapun, kecuali amal perbuatan semasa hidup.

Sudahkah kita bersiap?

Photo Credit : www.pexels.com

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community






Monday, October 29, 2018 No komentar
Hallo bloggers...

Kalau nurut keinginan hati. Inginnya sebagian besar waktu, di habiskan di depan laptop atau smartphone untuk menulis. Lebih mengutamakan menulis ketimbang yang lain-lain.


Sayangnya, kenyataannya tak bisa begitu. Meskipun hanya ibu rumah tangga, tetap saja ada urusan yang menjadi skala prioritas.

Seperti yang terjadi padaku hari ini.

Dari semalam sudah menetapkan hati, hari ini, mau menuntaskan tugas one day one posting se pagi mungkin. Supaya, sisa waktunya bisa buat yang lain.

Eh. Tak tahunya malah bangun kesiangan. Nengok jam dinding sudah pukul 05.30 aja. Mentang-mentang sholatnya libur, bangun paginya juga semena-mena alias molor.

Terpaksa menulisnya di tunda dulu, karena jam 06.00 pagi harus ke pasar untuk membeli kebutuhan hari ini. Lagian kemarin sudah janji sama Abah, mau masak sup tulang kesukaannya duo lelakiku.

Setibanya dari pasar langsung menyiapkan sarapan pagi suami, dengan sengaja membawa si Android ke dapur. Maksud hati, kalau ada waktu luang di sela-sela menunggu masakannya matang. Mau menyicil tulisan. Siapa tahu, siang hari tugasnya bisa kelar



Duduk bersantai sambil menunggu sup tulangnya masak, aku meraih gawai,  hendak menulis tentu saja.

Namun, baru saja mulai memikirkan ide, terdengar seruan dari kamar " Mamak. O, mamak!" .

Alamak...

Danish putra semata wayangku sudah bangun rupanya. Wah. Berarti masih belum bisa menulis, nih. Kalau dia sudah bangun, si emak harus ngurus dia dulu. Memandikan, menyuapi dan menemaninya bermain.

Menulisnya gagal lagi

Ya, sudah. Nulisnya nantu siang saja, kalau suami istirahat untuk makan siang. Sisa waktunya, biar Danish main sama Abah dulu. Supaya mamak bisa fokus nyicil tugas.

Maunya begitu, kenyataannya lain lagi.

Si Abah yang di harapkan bisa menjaga Danish harus rapat jam 14.00. Otomatis, selepas makan siang harus kembali ke kantor lagi. Sementara Danish anaknya jarang tidur siang, dan tipe yang sangat menuntut perhatian.

Ya, mana bisa menulis.

Badan lelah dan sedikit frustrasi, lebih baik merebahkan diri. Siapa tahu terlelap barang satu dua jam. Kan, lumayan dari pada melek tapi nggak bisa nulis juga.

Baru saja hampir tertidur, tiba-tiba Danish sudah naik ke atas badan emaknya sambil mencium bertubi-tubi. Membuat mata yang tadinya ngantuk jadi segar kembali.

Ya ampun. Sudah gagal menulis, gagal pula tidur siangnya, sedangkan matahari telah condong ke barat.

Gimana ini?

Jam segini bukan waktu yang tepat lagi buat menulis. Deretan tugas menjelang malam sudah menanti, seperti menyapu, nyuci piring dan memandikan anak menunggu segera di tunaikan.

Aduhai. Masa mau menulis saja rintangannya sudah begini banget. Berliku dan tak sampai-sampai namanya ini.

Ah. Siapa tahu sebelum maghrib ada waktu buat menulis, batinku menghibur. Meskipun rencananya molor terus aku tetap berharap tugas dari Estrilook bisa selesai secepatnya.

Ternyata, sehabis memandikan Danish, menyapu dan cuci piring, aku tak lantas bisa mojok demi menulis. Karena terasku rupanya kotor dan perlu di pel dulu. Tak berhenti disana, tugasnya berlanjut membersihkan kamar mandi dan menyikat lantai teras belakang.

Tak lama berselang

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Sekaligus sebagai tanda, keinginanku menyelesaikan tugas sebelum Maghrib sudah gagal total.

Kesempatan yang tersisa hanya setelah sholat Maghrib atau Isya.

Berhubung sehabis sholat Maghrib harus ikut ke pasar malam, menulisnya di undur setelah tiba di rumah.

Untunglah. Setelah mengalami keterlambatan dari jadwal yang di kehendaki, tugas ini akhirnya selesai juga.

Demi konsisten menulis memang butuh perjuangan. Tapi karena hati sudah menetapkan komitmen, tak ada jalan lain kecuali menunaikannya. Bukan untuk orang lain, melainkan demi diri sendiri.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community














Monday, October 22, 2018 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose