Utang Produktif Ala Kami

by - Monday, February 18, 2019

Aku dan suami bukannya tidak ingin segera memiliki mobil, atau rumah seperti yang sering dipertanyakan orang kepada kami. Kami ingin. Lagian yang tidak mau mempunyai mobil dan rumah siapa?

Sumber Foto. Pexels.com

Kalau sampai saat ini kami belum memilikinya, ya, karena ada beberapa pertimbangan. Salah satunya karena hidup kami yang sering berpindah-pindah. Dengan keadan ini yang membuat kami berpikir, rumah dan mobil belum terlalu mendesak untuk dimiliki. Kami enggak ingin beli rumah kalau hanya untuk disewakan saja. Sayang rasanya.

Punya rumah atau mobil itu gampang, kok, tinggal mengambil utang ke bank dengan jaminan SK hakim pasti dikabulkan dengan segera. Hanya saja, aku dan suami menahan diri. Jelek-jelek begini *wkwkwk" aku pernah belajar tentang financial planning. Dimana hampir semua penasihat keuangan yang kutahu menganjurkan untuk mengambil utang yang produktif dan bukannya meminjam uang untuk tujuan konsumtif belaka.

Sumber Foto. Pexels.com

Yang dimaksud utang produktif dan konsumtif itu yang bagaimana? 

Yang dimaksud utang produktif yaitu seseorang meminjam sejumlah uang untuk tujuan produktif sehingga menghasilkan keuntungan bagi si peminjam. Contoh, pinjam uang di bank untuk membangun rumah sewa. Sedangkan yang dimaksud utang konsumtif adalah kebalikan dari utang produktif. Contoh, pinjam uang ke bank untuk liburan.

Itu yang aku dan suami lakukan. Kami tidak menghindari utang. Kami juga punya utang di bank, tapi peruntukannya bukan untuk menaikan gengsi, atau gaya hidup melainkan buat membeli kebun kelapa sawit. 

Dari pada meributkan gengsi kami yang turun dimata orang lain, lebih baik kami memikirkan bagaimana cara menambah aset. Makanya uang yang kami pinjam dari bank kami gunakan untuk membeli kebun sawit dan tanah.

Selain meminjam uang untuk tujuan produktif. Berutang pun ada aturan mainnya supaya tidak mengganggu kenyamanan hidup. Yaitu, hanya boleh berutang sekitar 30%-35% dari total penghasilan. Sebagai contoh jika pendapatan kita sebesar 10 juta. Maka dari total gaji tersebut yang digunakan buat membayar utang sekitar 3-3,5 juta saja. Jangan lebih dari itu.

Nah, karena alasan itulah, yang membuat kami tidak menambah utang lagi untuk membeli rumah maupun mobil. Sebenarnya pendapatan kami masih cukup seandainya mau mengambil utang lagi untuk membeli mobil atau rumah. Namun, kami merasa utang yang ada jangan ditambah lagi. Kalau mau beli ini dan itu lebih baik menabung saja. Memang mengumpulkan uang butuh waktu. Ya, tidak papa. Kami tidak keberatan. Toh, kepentingan akan benda yang dibeli tidak mendesak juga. Jadi, ya santai saja.

Kenyamanan hidup itu hanya kita yang rasa. So, jangan menyandarkan kebahagiaan berdasarkan pendapat dan pandangan orang lain.

#SETIP
#day6


You May Also Like

0 komentar