facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Aku enggak tahu harus berpandangan seperti apa, pas suatu waktu menghadapi seorang teman yang selalu mengeluhkan tentang "ketidak hebatan" suaminya karena menjadi pengangguran. Sekali dua aku hanya mendengarkan saja, namun selanjutnya aku tak sanggup lagi untuk menahan lidahku dengan memberikan komentar seperti ini.

Sumber Foto. Pexels.com

"Yang menyuruh mengawini suamimu itu siapa? dipaksa atau pilihan sendiri?"

Bukan tanpa alasan mengapa aku jadi berkomentar seperti ini, aku merasa kesal dengan ulah si teman yang selalu merendahkan suaminya hanya karena si suami belum mendapatkan pekerjaan alias pengangguran.

Padahal aku yakin si teman menikah dengan si suami atas pilihan sadar alias menikahnya bukan karena di jodohkan, jika pernikahan itu atas kemauan sadar sudah barang tentu si teman telah mengetahui kelemahan si pasangan jauh-jauh hari, makanya akhirnya memutuskan untuk tetap menikahinya.

sebagai istri harusnya menanamkan pemahaman di kepala, bahwa laki-laki itu adalah pemimpin, kepala rumah tangga didalam rumahnya, dan selayaknya seorang pemimpin, suami berhak mendapat rasa hormat dan ditinggikan dari orang yang di pimpinnya. Bukan malah direndahkan dan dihinakan di wilayah kekuasaannya sendiri. ikut merasakan bagaimana terhinanya perasaan sang suami yang tak mendapat perlakuan yang semestinya itu, pasti menyakitkan.

Aku merasa yakin dan percaya kepengangguran si suaminya itu bukan karena di sengaja, tapi kebetulan saja zamannya memang lagi susah mendapatkan pekerjaan, plus faktor keapesan yang diakibatkan oleh banyak hal membuat si suami belum kunjung mendapat pekerjaan.

Pada dasarnya tak ada satupun laki-laki terutama yang telah mempunyai istri yang berniat untuk menjadi pengangguran, semua suami pasti ingin membahagiaan sang istri, memberi yang terbaik serta menjadi kebangaan. Tapi yang namanya keinginan kita belum tentu selalu sejalan dengan kenyataan.

Ada banyak faktor, di antaranya telah di sebutkan di atas tadi. Zaman yang serba sulit membuat keinginan mendapatkan pekerjaan yang diidamkan menjadi kian berat., dan sudah barang tentu beban itu terasa kian berat ketika sang istri yang di harapkan menjadi orang yang paling mengerti akan keadaan suami, justru malah membuat tertekan dengan tindakannya yang selalu memaksa suami agar segera mendapatkan pekerjaan hingga berkata yang menyakitkan mengenai kepengangguran suami.

Padahal agama telah banyak mengajarkan kepada kita, bagi seorang perempuan untuk masuk surga itu tak susah, hanya 3 hal yang perlu dilakukan, yaitu sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan dan taat kepada suami. Dan menurutku bersabar dengan kedaan suami yang belum mendapatkan pekerjaan itu dapat di kategorikan sebagai taat kepada suami.

Yang namanya rumah tangga itu tak selalu mulus dan sesuai harapan, tapi pernahkah terlintas di kepala kita, bahwa situasi tidak menguntungkan yang dialami oleh suami merupakan salah satu ujian cinta yang harus kita tangani dengan bijaksana, alih-alih menyiksa suami dengan tindakan yang menyudutkannya, mengapa kesempatan itu tak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mempererat ikatan cinta diantara kita dan suami dengan selalu memberi dorongan padanya, mengingatkan suami untuk terus berusaha dan sabar.

Menggenggam tangannya ketika dia lemah, memberi pelukan hangat ketika dia resah, meyakinkannya bahwa dia mampu menjadi laki-laki yang berhasil seperti yang dia inginkan.

Bukankan lebih nikmat rasanya jika keberhasilan suami yang capai dengan susah payah itu dengan di belakanganya si istri yang tak pernah lelah untuk selalu mendukung. Suami tentu tak akan lupa dengan jerih payah istri yang sudah sedemikian sabarnya selalu mendampingi suami dalam suka dan duka itu. Membuat kita merasakan betapa bersyukurnya kita karena telah di anugerahi satu sama lainnya.

Memang, akan mudah membanggakan suami yang terlihat berhasil baik secara materi atau kekuasaan, ketimbang yang biasa-biasa saja. Tapi biarlah, meski rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri, dengan mensyukuri hidup yang ada beserta jodoh baik yang kita terima. akan lebih menyadari ternyata kebahagiaan tak bisa selalu diukur melalui banyaknya materi, karena tak berpunya bukan berarti tak bahagia atau miskin rasa, selama kita masih saling memiliki dengan cinta terhadap satu sama lain yang tak luntur, bukankah itu lebih dari cukup?


Aku sendiri pernah mengalami beratnya hidup ketika memulai berumah tangga, dengan penghasilan suami yang kecil dan tak menentu itu. Syukurnya hidup tak terasa berat sama sekali, prinsipnya selama hidup dengan suami, yakin semuanya akan baik-baik saja. Menyadari dan mempercayai bahwa suami mampu membawa keluarga ke kehidupan yang baik, pemahaman ini yang menghantar kita pada kondisi ingin selalu mengerti keadaan suami dan tetap bersabar.

Begitu pun ketika suami mengalami keberhasilan dalam hidupnya, supaya tak menjadi istri yang mabuk kepayang, caranya dengan menetapkan dalam pikiran bahwa keberhasilan suami karena usaha suami itu sendiri. Sama sekali bukan karena aku, di kehidupannya yang lebih baik ini posisiku hanya penumpang yang ikut mencicipi jerih payahnya. Aku tak terlalu berhak untuk menyatakan apa yang di peroleh suamiku sebagai sepenuhnya juga milikku, yang cape’ kerja kan suamiku.


Harapannya jangan sampai rumah tangga yang di bangun dengan cinta ini rusak hanya karena materi yang tak kekal itu, materi hanya pendukung kelangsungan hidup, dan bukan materi yang seharusnya mengendalikan kebahagiaan rumah tangga kita, kaya atau miskin yang paling penting adalah rasa saling memiliki terhadap satu sama lain yang lebih diutamakan. Demikian kira-kira. Wallahu'alam

#setip d


Monday, May 06, 2019 No komentar
Sudah dua hari sejak penembakan jamaah di Masjid Al Noor dan Linwood, christchurch, Selandia Baru pada jum'at 15/3/2019 lalu masih menyisakan kesedihan. Belum bisa move on rasanya membaca dan melihat tragedi yang menimpa saudara-saudara kami, yang tengah menunaikan salat jum'at tersebut.
Sumber Foto. News. Okezone.com
Peristiwa yang diperkirakan menewaskan sekitar 49 orang tersebut sontak menggegerkan dunia. Apalagi tempat kejadiannya di Selandia Baru yang selama ini relatif tidak terdengar huru-hara alias aman dan damai.

Jujur, aku merasa sedih dan terpukul. Atas nama kemanusiaan perbuatan tersebut tak bisa diterima. Walaupun tindakan brutal tersebut bukan yang pertama kali menimpa umat islam tetap saja hati rasanya sakit sekali. Hanya manusia biadab yang menyerang orang yang sedang beribadah. Manusia pengecut yang hanya berani melawan orang lengah dan mengotori tempat ibadah. Manusia yang buta mata hatinya karena diperbudak dendam kesumat.

Itulah teroris. Terorist is no religion. Pelaku teror meski merupakan penganut agama tertentu bisa dianggap sebagai orang tak bertuhan, karena tak ada satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan demi mencapai tujuannya.

Dalam suasana masih merasa berduka, suamiku memberi nasihat bahwa, seharusnya aku tak boleh bersedih, karena insyaAllah mereka yang gugur pada peristiwa itu beroleh syahid. Hamba terpilih yang memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah.

Walaupun jiwa manusia kita mendidih, marah dan tidak terima melihat perbuatan tersebut, tetap saja mereka yang meninggal adalah orang-orang beruntung. Meninggal ketika sedang menunaikan salat, di tempat mulia dan pada hari jum'at pula, hari yang mulia.

Tangan teroris hanya dipinjam untuk mengantarkan mereka pada Allah saja. Sang teroris boleh jadi merasa bangga dan puas atas aksinya, tapi yang rugi sejujurnya adalah dia. Di samping semakin membuka mata dunia jika kata-kata teroris bukan disematkan manakala pelaku terornya orang islam saja, karena teroris bisa dari penganut agama mana pun juga.

Efek peristiwa tersebut kepada diriku adalah rasa gelisah. Ternyata sebagai muslim hidupku dari hari ke hari hanya begini-begini saja. Aku memang menunaikan salat, mengaji, puasa dan sedekah tapi hanya itu yang kulakukan. Apa yang telah kulakukan untuk menolong agama Allah ini boleh dibilang, ya, tidak ada. I do nothing.

Aku begitu larut dengan dunia dan hidupku sampai demikian abai berbuat sesuatu untuk menolong agama Allah ini. Termasuk mendalami atau mempelajarinya.

Yang terjadi padaku bisa jadi gambaran umum yang terjadi pada sebagian muslim. Makanya muslim di belahan bumi mana pun selalu mengalami penindasan. Alasannya karena umatnya sendiri yang menjauh dari agamanya.

Yah. Serangan di Selandia Baru bisa jadi adalah sinyal bagi muslim sedunia untuk kembali pada agamanya. Belajar lagi dan lebih nurut sama perintah Allah.

Dan sebagai penulis aku bisa memulainya dari banyak membaca buku-buku islam, mendalami sejarahnya yang gemilang agar bisa menyampaikan keagungan budaya dan ajarannya. I hope so

#SETIP day16

Sunday, March 17, 2019 No komentar
Saat pulang kampung tadi aku mengunjungi rumah beberapa orang kenalan dan kerabat. Ada hal yang lumayan membuatku terkejut dalam kunjunganku tersebut. Yaitu, aku selalu ditanyakan mengenai apakah aku punya mobil atau tidak. Kebetulan karena memang enggak punya, ya, kujawab saja tidak punya.

Sumber Foto. Pexels.com

Jujur, sikap orang-orang yang kukunjungi ini membuatku sedikit merasa risih. Padahal aku mengunjungi mereka setelah hampir 20 tahun enggak bertemu, seharusnya kami berbagi cerita yang asyik-asyik saja dan tidak membahas hal-hal kurang penting dan sangat duniawi seperti harta.

Rupanya dunia sudah sangat berubah. Bukannya senang mendapat kunjungan untuk bersilaturahmi, yang orang ributkan dariku justru apakah aku sudah punya mobil atau belum. Seolah-olah benda tersebut jauh lebih penting dibanding pertemuan itu sendiri.

Menurut mereka aneh saja seorang hakim seperti suamiku tidak mempunyai benda seperti mobil. Bukankah mobil simbol kesuksesan? Dan suamiku yang dianggap sukses karena menjadi hakim, mengapa tidak mempunyai mobil?

Tak ayal pertanyaan ini sempat menggerus sedikit rasa syukurku. Aku yang selama ini merasa hidupku lebih dari cukup, nyaman-nyaman saja kesana kemari menggunakan taksi tiba-tiba seperti dipaksa menyadari kesalahan, bahwa aku dan suami pasangan yang terlampau santai dan kurang berusaha mempunyai harta seperti mobil. Untungnya suamiku segera menasehatiku agar tak usah mempedulikan pandangan orang tentang kami.

Ya, boleh jadi mereka benar dengan pendapat itu. Kami mungkin kurang berusaha terlihat kaya dan sukses menurut ukuran manusia. Terlalu cuek dengan pendapat orang lain dan hanya fokus pada hidup serta kebutuhan akan rasa nyaman yang sesuai dengan konsep kami saja.

Selama ini jika menyangkut harta benda aku dan suami memang hanya membeli yang kami butuhkan saja dan sebisa mungkin tidak membeli barang atau benda yang kami inginkan tapi tidak kami butuhkan. Di tambah suamiku selalu menasehatiku agar jangan terlalu menghamba kepada harta. Harta ditangan saja dan jangan sampai dibawa kedalam hati.

Begitu juga dengan gaya hidup. Kami memilih yang biasa-biasa saja. Tidak terlampau memaksakan diri, maupun menghinakan diri. Ambil yang tengah-tengahnya saja. Mengindari utang demi gaya hidup karena masih sayang sama diri sendiri. Itulah alasan penampakan hidup kami yang kurang kaya.

#SETIP
#day5


Monday, February 18, 2019 No komentar
Beberapa hari yang lalu. Aku cerita ke suami, kalau seseorang mengabaikanku alias bersikap cuek. Kubilang juga ke suami, bahwa aku enggak marah menerima perlakuan tersebut. Boleh jadi, ia bersikap demikian sebagai reaksi terhadap sikapku, yang juga pernah tak acuh terhadap dirinya.

Sumber Foto. Pexels.com


Suamiku pun berkata “Cuek-mencueki itu biasa aja, kita pun sering begitu sama orang lain. Enggak perlu dimasukin hati”

Iya, aku setuju dengan pendapat suamiku ini. Dalam pergaulan antar sesama. Hal tersebut lumrah saja terjadi, gesekan-gesekan kecil, benturan-benturan ringan hingga berat, yang berujung pada saling mengabaikan, menimbulkan riak-riak kekesalan dan perasaan tidak nyaman. Padahal, penyebabnya mungkin sepele saja.

Kejadian seperti ini tentu saja merupakan ujian kedewasaan. Bagaimana cara mengelola perasaan, saat harus berhadapan dengan situasi kurang nyaman. Agar reaksi yang keluar enggak merusak kenyamanan semua orang.

Jujur, enggak mudah untuk selalu menjadi bijak. Kadang, ada saat-saat tertentu ingin rasanya memanjakan hati. Bertingkah egois. Terang-terangan menunjukkan rasa tersinggung, marah dan kesal. Menghambur kemarahan ke sana-kemari, hingga bertarung mati-matian memanjakan emosi.

Tapi, tentu saja sikap tersebut ada efek sampingnya. Selain, akan membuat orang lain menjauh, mengucilkan diri kita. Menanggung rasa malu sehabis mengumbar emosi, akan menimbulkan rasa sesal di hati. Dua akibat yang sama-sama tak mengenakkan. Makanya, kalau tidak siap menghadapi risiko ini, lebih baik pikir-pikir dulu sebelum bertindak.

Tapi, kita kan manusia biasa. Enggak bisa selalu mengorbankan perasaan sendiri demi ketenangan dunia. Orang lain berbuat sekehendak hatinya. Masa kita santai saja, enggak boleh tersinggung, enggak boleh marah.

Tetap boleh, kok. Aku pun sering juga tersinggung. Namun, belajar dari pengalaman terdahulu, tidak semua perbuatan buruk orang lain harus di balas. Kadang, ada yang lebih baik di bawa bersabar saja. Apalagi, kalau persoalannya sepele. Tak perlu banyak drama, tidak membesar-besarkan, alias mengabaikannya, seolah-olah tak ada yang terjadi adalah pilihan bijak.

Terus, bagaimana jika rasa tersinggungnya sudah tak tertahankan lagi? Biasanya, aku akan menghindar dulu. Menjauh dari orang atau kelompok tertentu, sampai aku mampu menguasai perasaanku lagi. Bahkan, aku tak segan-segan menolak ajakan atau undangan orang lain, demi menenangkan diri. Aku benar-benar harus menjauh dari siapa pun saat emosi.

Cara ini cukup efektif untukku dalam mengurangi dampak kekesalan hati, dan hubungan dengan orang lain pun enggak rusak atau pun hancur.

Dengan catatan, kemarahan yang dimaksud di atas adalah kemarahan dalam hal-hal duniawi saja. Bukan berkaitan dengan agama. Sebagai manusia beragama, kita wajib marah saat ada yang menghina agama kita.

Ya, begitu saja.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day15


Wednesday, January 16, 2019 No komentar
Hai, Bloggers!

Mau berbagi perasaan dulu, nih, ya...

Sudah menjadi takdir keluarga pengadilan, yang namanya meninggalkan dan ditinggalkan. Hari ini kami memang yang ditinggalkan. Tapi, entah besok, lusa atau setahun dua tahun berikutnya pasti gantian kami yang meninggalkan Muara Teweh. Untuk hari ini, kami berada pada posisi ini. Mengantar keluarga teman yang pindah ke Tamiang Layang, mengikuti suaminya yang bertugas di sana.



Padahal, rasanya baru saja kemarin berkumpul bersama mereka. Berbagi duka dan kesenangan, kesana kemari bersama, dan hari ini harus sudah berpisah. Menempuh jalan hidup masing-masing, membangun kedekatan dan persahabatan dengan orang-orang baru.

Inilah takdir kami, yang menjadi bagian dari keluarga peradilan. Suami yang bekerja di sini, harus mengalami mutasi setiap berapa tahun sekali, mengakibatkan hidup kami  harus pindah kesana-kemari.

Ada suka dukanya tentu saja. Sukanya, keluarga kami salah satu yang beruntung bisa menginjakkan kaki ke banyak daerah di Indonesia ini. Berkesempatan kenalan dengan banyak orang, mempunyai keluarga baru di mana-mana, bersentuhan dengan budaya tertentu, mencicipi kuliner berbeda, dan lain-lain.

Namun, ada dukanya juga. Salah satunya, ya, ditinggalkan dan meninggalkan ini. Bagaimana tidak, baru saja rasanya akrab sudah harus berpisah. Sementara, bertemu orang baru kita harus mulai dari bawah lagi, penyesuaian lagi. Rasanya, kadang sangat melelahkan harus menyesuaikan diri terus-menerus dengan orang baru.

Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Inilah konsekuensi punya suami berprofesi sebagai hakim. Tetap harus bersyukur, walaupun tak bisa punya harta banyak, enggak bisa koleksi tupperware, beli rumah belum tentu ditinggali akibat hidup yang sering berpindah. Setidaknya, gaji suami masih cukup buat memenuhi kebutuhan hidup.

Makanya, gara-gara hidup tidak menetap ini, banyak istri hakim yang memilih tidak berkarier, walaupun pendidikan terakhirnya sarjana. Kalau pun toh harus bekerja juga, biasanya kami mencari pekerjaan yang tidak mengikat. Jadi, kapan-kapan suami pindah, kami bisa berhenti untuk mengikuti suami.

Termasuk aku sebelum punya anak. Kendati, sejak awal inginnya mendaftar PNS, pada akhirnya aku memilih bekerja tak terikat saja. Mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain, menjadi guru honorer selamanya.

Masalahnya, sudah banyak contoh, istri-istri hakim yang menjadi PNS. Akibat mengurus pindah yang sulit dan berbelit, banyak di antara mereka yang memilih tak mendampingi suaminya, alias hidup terpisah sebagai suami istri. Pilihan sulit namun harus tetap diambil. Dari pada sayang melepaskan karier yang dibangun dengan susah payah. Jadi, memilih bersabar saja hidup berjauhan dari suami.

Ya, demikianlah cerita hidup kami. Jalani dengan penuh syukur meskipun tak selalu indah. Mencoba menangkap pesan tersirat, bahwa, setiap pilihan ada konsekuensinya. Kita tidak boleh serakah, ingin mendapatkan semua kenikmatan tanpa bersiap kehilangan.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community
#day13


Sunday, January 13, 2019 No komentar
Revisi naskah buku solo baru memasuki bab 5. Terlambat sekitar 2 bulan dari rencana penggarapan semula. Masalahnya, bukan karena sengaja menunda-nunda atau tidak mau mengerjakan.



Kebetulan, sejak mengambil kelas menulis di sekolah perempuan tempo hari, laptopku rusak. Kupikir si laptop cuma sekedar merajuk. Minta dielus-elus saja, di otak-atik bisa kembali sembuh seperti sediakala.

Memang, sejak berhenti mengajar sekitar 5 tahun lalu. Aku jarang menggunakan laptop ini. Sekali dua saja aku menghidupkannya. Itu pun hanya buat menonton drama korea saja. Rupanya, akibat jarang digunakan, justru
membuat si laptop rusak.



Malangnya, jadwal kerusakannya yang bertepatan dengan aku mengikuti kelas menulis, saat-saat begitu membutuhkan laptop. Makanya, sebagian besar tulisan hanya dikerjakan melalui gawai saja.

Agar menulisnya tetap terasa nyaman, dan hurufnya tidak terlalu kecil, setting handphone-nya dirubah sesuai tampilan seluler. Alhamdulillah, tugas menulis naskah tetap bisa dilakukan, meskipun banyak kekurangan di sana-sini

Akan tetapi, ketika merevisi naskah sesuai arahan cikgu mentor, hanya dengan menggunakan ponsel mulai terasa menyulitkan. Terutama, saat dicek tulisan yang sudah disetor rupanya mengalami banyak kesalahan. Misalnya, tanda baca yang dilanggar, bertebarannya kalimat bertele-tele dan sangat tidak efektif, belum lagi diksi yang kacau, dan cerita yang tidak berkaitan dengan tema justru dijelaskan secara berlebihan. Singkat cerita, naskahnya, memerlukan perombakan besar-besaran, dengan cara harus ditulis ulang. Di situlah terasa sekali betapa aku butuh laptop

Namun, aku harus pakai laptop yang mana? Laptop suami dipakai buat bekerja, disamping akhir-akhir ini laptopnya pun sering nge-hank juga. Sementara harddisk laptopku tak bisa diperbaiki sama sekali alias rusak total. Ya, bingung. Ya, pusing jadinya.

Minta dibelikan laptop baru sama suami, aku merasa enggak nyaman. Mengingat harga laptop tak semurah harga payung cantik. Kalaupun ingin beli baru, aku  harus menabung dulu, yang berarti membelinya tak bisa dalam waktu dekat. Mesti sabar menunggu.

Akhirnya, aku meminta izin kepada suami. Bagaimana, kalau hari sabtu dan minggu, aku gunakan buat merevisi naskah menggunakan komputer di kantornya. Toh, di akhir pekan kantornya juga libur. Sempat tercenung sejenak, suamiku pun mengizinkan saja.

Namun, rupanya ia merasa tak nyaman kalau aku harus menumpang mengetik di kantornya. Setelah mengalami pergulatan batin, suatu sore sekitar awal bulan Desember, secara mengejutkan suamiku mengatakan akan membeli PC ( Personal Computer) khusus buat dipakai di rumah, dan akhir tahun 2018 kemarin, PC baru kami sudah mendarat di rumah dengan selamat. Alhamdulillah



Sebagai wujud syukur, malam harinya, aku langsung menggunakan komputer baru kami, buat merevisi naskahku yang sudah lama terbengkalai.

Aku sadar, komputer baru adalah bentuk dukungan suami kepadaku agar serius menekuni dunia menulis. Semangatnya tidak boleh cuma dimulut saja, istilahnya hanya panas-panas kotoran ayam*wkwkwkwk* saja.

Semoga saja aku mampu tetap konsisten menulis, dan bersedia terus belajar. Setidaknya, pikir-pikir kalau mau bermalas-malasan. Ingat akan pengorbanan suami yang sudah membelikan PC baru. Semoga!

Sumber foto: pexels.com

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community
#day7

Tuesday, January 08, 2019 No komentar
Hallo bloggers...

Kalau nurut keinginan hati. Inginnya sebagian besar waktu, di habiskan di depan laptop atau smartphone untuk menulis. Lebih mengutamakan menulis ketimbang yang lain-lain.


Sayangnya, kenyataannya tak bisa begitu. Meskipun hanya ibu rumah tangga, tetap saja ada urusan yang menjadi skala prioritas.

Seperti yang terjadi padaku hari ini.

Dari semalam sudah menetapkan hati, hari ini, mau menuntaskan tugas one day one posting se pagi mungkin. Supaya, sisa waktunya bisa buat yang lain.

Eh. Tak tahunya malah bangun kesiangan. Nengok jam dinding sudah pukul 05.30 aja. Mentang-mentang sholatnya libur, bangun paginya juga semena-mena alias molor.

Terpaksa menulisnya di tunda dulu, karena jam 06.00 pagi harus ke pasar untuk membeli kebutuhan hari ini. Lagian kemarin sudah janji sama Abah, mau masak sup tulang kesukaannya duo lelakiku.

Setibanya dari pasar langsung menyiapkan sarapan pagi suami, dengan sengaja membawa si Android ke dapur. Maksud hati, kalau ada waktu luang di sela-sela menunggu masakannya matang. Mau menyicil tulisan. Siapa tahu, siang hari tugasnya bisa kelar



Duduk bersantai sambil menunggu sup tulangnya masak, aku meraih gawai,  hendak menulis tentu saja.

Namun, baru saja mulai memikirkan ide, terdengar seruan dari kamar " Mamak. O, mamak!" .

Alamak...

Danish putra semata wayangku sudah bangun rupanya. Wah. Berarti masih belum bisa menulis, nih. Kalau dia sudah bangun, si emak harus ngurus dia dulu. Memandikan, menyuapi dan menemaninya bermain.

Menulisnya gagal lagi

Ya, sudah. Nulisnya nantu siang saja, kalau suami istirahat untuk makan siang. Sisa waktunya, biar Danish main sama Abah dulu. Supaya mamak bisa fokus nyicil tugas.

Maunya begitu, kenyataannya lain lagi.

Si Abah yang di harapkan bisa menjaga Danish harus rapat jam 14.00. Otomatis, selepas makan siang harus kembali ke kantor lagi. Sementara Danish anaknya jarang tidur siang, dan tipe yang sangat menuntut perhatian.

Ya, mana bisa menulis.

Badan lelah dan sedikit frustrasi, lebih baik merebahkan diri. Siapa tahu terlelap barang satu dua jam. Kan, lumayan dari pada melek tapi nggak bisa nulis juga.

Baru saja hampir tertidur, tiba-tiba Danish sudah naik ke atas badan emaknya sambil mencium bertubi-tubi. Membuat mata yang tadinya ngantuk jadi segar kembali.

Ya ampun. Sudah gagal menulis, gagal pula tidur siangnya, sedangkan matahari telah condong ke barat.

Gimana ini?

Jam segini bukan waktu yang tepat lagi buat menulis. Deretan tugas menjelang malam sudah menanti, seperti menyapu, nyuci piring dan memandikan anak menunggu segera di tunaikan.

Aduhai. Masa mau menulis saja rintangannya sudah begini banget. Berliku dan tak sampai-sampai namanya ini.

Ah. Siapa tahu sebelum maghrib ada waktu buat menulis, batinku menghibur. Meskipun rencananya molor terus aku tetap berharap tugas dari Estrilook bisa selesai secepatnya.

Ternyata, sehabis memandikan Danish, menyapu dan cuci piring, aku tak lantas bisa mojok demi menulis. Karena terasku rupanya kotor dan perlu di pel dulu. Tak berhenti disana, tugasnya berlanjut membersihkan kamar mandi dan menyikat lantai teras belakang.

Tak lama berselang

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Sekaligus sebagai tanda, keinginanku menyelesaikan tugas sebelum Maghrib sudah gagal total.

Kesempatan yang tersisa hanya setelah sholat Maghrib atau Isya.

Berhubung sehabis sholat Maghrib harus ikut ke pasar malam, menulisnya di undur setelah tiba di rumah.

Untunglah. Setelah mengalami keterlambatan dari jadwal yang di kehendaki, tugas ini akhirnya selesai juga.

Demi konsisten menulis memang butuh perjuangan. Tapi karena hati sudah menetapkan komitmen, tak ada jalan lain kecuali menunaikannya. Bukan untuk orang lain, melainkan demi diri sendiri.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community














Monday, October 22, 2018 No komentar
Dear Bloggers!

Sejak nge-blog lagi, hidupku terasa lebih menyenangkan.

Berbeda dengan media sosial yang lebih berisik. Blog itu ibarat rumah di komplek pemukimam yang tenang dan damai



Apalagi facebook sebagai media sosial yang paling sering ku gunakan. Akhir-akhir ini rasanya sudah tidak seru lagi.

Efek tahun politik, ya begini. Banyak orang mendadak berubah jadi pakar politik. Bahkan, emak-emak yang kegiatan hariannya berjibaku dengan sutil dan centong nasi, mendadak fasih ngomong politik. Walaupun pandangannya lebih banyak hasil nge-share pendapat orang lain, atau sekedar membeo sang junjungan.



Ya, tidak masalah. Ini, toh, negara demokrasi. Siapa saja bebas mengutarakan pendapat. Apalagi jika menyangkut pemilu yang merupakan kegiatan rutin lima tahun sekali. Wajar saja jika semua perhatian tertuju kesana.

Sayangnya, akhir-akhir ini suasana demokrasi kita ternodai, akibat gesekan politik para elit yang merambat hingga masyarakat bawah.

Hoax bertebaran seolah menjadi konsumsi harian, dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan. Perbuatan rendah yang tak tahu malu, menghalalkan segala cara digunakan demi mengungguli saingan. Ditambah saling sindir dan saling mengejek para pendukung yang berseberangan, adalah wajah demokrasi Negeriku sekarang.


Sungguh melelahkan ...

Tak pelak, situasi ini membuat rasa berbangsa dan bernegara tidak nyaman.

Soal dukung mendukung kandidat tidak salah. Yang salah itu caranya. Kedua kandidat dan pendukung mereka, bukannya perang gagasan, malah berlomba-lomba membongkar aib dan kelemahan lawan. Betul-betul suguhan politik yang memuakkan.

Entah apa maunya orang-orang ini.

Bayangkan. Kita diam saja di sindir juga. Di cap sebagai manusia anti politik yang tidak perduli keadaan bangsa. Seolah-olah hanya mereka yang siang malam memikirkan Negeri ini.

Omong kosong ...

Tuduhan sepihak yang sok tahu. Tahu apa mereka mengenai beratnya merawat kedamaian. Bersabar menghadapi orang-orang yang hatinya diliputi kebencian terhadap sesama anak negeri. Menahan diri dari orang-orang seperti mereka.

Aku atau kami tetap diam. Semata-mata karena di tengah-tengah orang penuh kemarahan ini, harus ada yang tetap menjaga kewarasan otaknya. Tidak membalas hinaan dan kenyinyiran demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Terlalu mahal harganya, demi mendorong terwujudnya tujuan politik seseorang harus mengorbankan keutuhan Negara. Memangnya Indonesia ini milik nenek moyangmu saja.

No way ...

Indonesia milik bersama. Dan sudah kewajiban anak Negeri menjaga keutuhannya.


Karena dibanding meladeni orang egois yang merasa pandangan politiknya paling benar. Negara lebih penting, persatuan dan kesatuan itu yang utama.

Tidak ada jalan lain. Demi menjaga kesehatan pikiran dan perasaan. Untuk sementara teman-teman yang selalu nyolot memaksakan pendapat politiknya, di unfollow saja sampai pemilu selesai. Berteman lagi kalau situasi sudah kembali tenang

Semoga situasi ini cepat berlalu. Negaraku tercinta kembali damai. Aamiin.


#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community



Friday, October 19, 2018 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose