facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara perempuan bekerja atau di rumah, seperti tidak pernah ada habisnya. Dikira kontroversi dua hal ini akan mereda dengan sendirinya di tahun-tahun mendatang. Namun, pada saat tertentu atau munculnya momen-momen yang menjadi pemicu, perdebatan antara dua hal ini pasti memanas kembali

Foto. Pixabay.com


Saya sendiri pernah mengalami keduanya. Meski saat ini saya adalah ibu rumah tangga penuh waktu. Di masa lalu, saya pernah bekerja sebagai guru. Saya memutuskan berhenti dari karier mengajar karena harus mengasuh putra kami yang baru lahir, dan terus berlanjut hingga sekarang

Sebenarnya pernah mendapat tawaran untuk mengajar lagi, tapi saya tolak. Saya enggak mau memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak bisa dinikmati, karena saya tahu persis. Bahwa alasan saya kembali mengajar hanya untuk mengisi waktu luang saja dan bukan karena kecintaan saya pada dunia mengajar. Dari pada menghabiskan waktu melakukan sesuatu dengan setengah hati, lebih baik tawaran itu ditolak saja memberi kesempatan kepada mereka yang lebih berdedikasi dengan tugas tersebut.

Awalnya keputusan menjadi ibu rumah tangga mendapat banyak tentangan dari keluarga. Terutama keluarga suami. Menurut mereka, seharusnya saya jangan berhenti bekerja karena sayang ijazah. Sudah capek-capek sekolah sampai sarjana, masa ujung-ujungnya hanya menjadi ibu rumah tangga saja.

Tetapi karena pertimbangan tidak ingin menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain, pendapat yang menyudutkan itu diabaikan saja. Lagi pula keputusan saya untuk tinggal di rumah sudah mendapat dukungan penuh dari suami.

Dari kejadian ini saya berpendapat, cara memanusiakan seorang perempuan itu sebenarnya gampang, tinggal beri dia kemerdekaan untuk menentukan sendiri apa yang dia inginkan, serta tidak memaksanya membuat pilihan yang bertentangan dengan hatinya. Entah nantinya dia memilih untuk bekerja di luar rumah sebagai wanita karier atau menjadi ibu rumah tangga saja. Keputusan tersebut haruslah dihormati.

Perempuan meski sering dianggap sebagai manusia kelas dua, bukanlah barang yang hidup serta keinginannya harus selalu mengikuti kehendak orang lain. 

Masih menurut saya juga, yang penting apa pun pilihan yang diambil perempuan, dia harus bertanggung jawab dengan pilihan itu, dan tidak mengeluh atas konsekuensi yang menyertai pilihan tersebut. Contohnya, seorang perempuan lulusan sarjana mungkin akan mendapat cemoohan karena keputusannya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga

Nah, cemoohan itu haruslah diterima dengan lapang dada sebagai akibat pilihan kita. Tidak bersedih hati apalagi sampai merasa rendah diri. Dia harus sadar bahwa ada harga yang harus dibayar dari setiap keputusan yang dibuatnya. 

Awalnya mungkin terasa menyakitkan. Tetapi bukankah rasa sakit itu sepadan dengan kemerdekaan yang berhasil diraih karena sudah mampu memutuskan apa yang terbaik bagi diri sendiri? 

Lagi pula, hidup sebagai ibu rumah tangga tidak bermakna seorang perempuan lantas tidak bisa berkiprah untuk dunia. Asal si perempuan tersebut mau terus meng- upgrade dirinya, dia juga bisa melakukan banyak hal yang tidak kalah keren dibanding mereka yang berkarier di luar rumah. 

Apalagi pada zaman kemajuan teknologi seperti saat ini. Di mana kesempatan untuk belajar semakin dimudahkan. Ibu rumah tangga bisa memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengikuti berbagai kelas yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Ambil kesempatan tersebut untuk memperkaya diri dengan berbagai skill sehingga tidak ada alasan lagi ibu rumah tangga malu dengan pilihan hidupnya.


Tuesday, October 06, 2020 No komentar
Sejak dulu saya sering menjadi tempat curhat teman-teman. Padahal saya bukan tipe yang pandai memberi solusi. Risiko yang entah mengapa tetap saja mereka ambil. Terus saja curhat sama saya walau tanpa mendapat solusi. Wkwkwk

Foto : Koleksi Pribadi

Pas masih gadis dulu, yang sering dibicarakan biasanya tentang asmara. Kalo sekarang karena sudah menikah, topiknya pun beralih tentang pasangan atau keluarga.

Rata-rata mereka menceritakan tentang pernikahan yang tidak bahagia. Ada yang punya suami keras dan suka memaksakan kehendak, serta jarang memberi uang belanja. Ada juga yang punya pasangan tukang selingkuh, putus dari satu selingkuhan berlanjut ke selingkuhan lainnya. Ada juga yang suaminya sudah pengangguran bertingkah pula, minta dilayani bak raja dan suka marah-marah jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai maunya.

Nah, yang terbaru teman saya curhat tentang rumah tangganya yang kelewat hambar. Enggak ada KDRT atau perselingkuhan, sih. Hanya hambar saja. Kebetulan si laki-laki tipe suami super kalem. Saking kalemnya jangankan menggombal istri, lha wong ngomong aja jarang. Kalo duduk di dekat bini kerjanya cuma main hp doang.

Sedangkan si istri tipe perempuan berapi-api yang penuh semangat. Language love-nya senang dipeluk, atau dibujuk pake kata-kata mesra yang lemah lembut. Menurut si istri, dia sudah mencoba menjadi manual book buat suaminya dengan memberi tahu apa saja yang bisa membuat si istri senang dan bahagia. Tetapi tetap saja sang suami enggak berubah juga. Tetap saja bawaannya sunyi macam kuburan di tengah hutan.

Padahal kalo menilik dari penampakan lahiriah. Mereka ini pasangan yang membuat iri.  Pasangan rupawan. Yang laki-lakinya ganteng, dan yang perempuan cantik. Tapi siapa sangka ternyata rumah tangga mereka saat ini sedang sakit, karena sang istri yang merasa selalu mengambil inisiatif mulai merasa lelah dan desperate luar biasa.

I felt pity for her

Mau sebenarnya membantu. Masalahnya saya sendiri paling bingung kalo dimintai nasihat. Lah, saya ini psikolog juga bukan. Penyeru yang banyak mengetahui ilmu agama juga bukan. Saya itu jagonya cuma menggombal dan menye-menye saja. Tapi menasihati orang. Aduh! Serem sekali itu. Bukan apa. Menurut sebagian orang saya ini sesat dan menyesatkan. Omongan Golde kok didengar. Membantu dari segi mananya? Ya, jadi takut aja kalo mereka malah terperosok ke lubang buaya gara-gara saya? Hehe

Lagi pula suami saya selalu mengingatkan, "jangan ngasih nasihat yang mama sendiri tidak pernah melakukan nasihat itu. Itu namanya sok tahu, Ma. Bahaya itu!"

Akhirnya setelah menimbang-nimbang keluar juga saran saya buat dia.

Kalo situasinya tidak bisa diubah, sementara kita masih ingin mempertahankan rumah tangga. Jalan satu-satunya ya berdamai dengan keadaan. Karena sumber ketidakbahagiaan dia adalah mengharapkan pasangan berubah sesuai maunya. 

Bagaimana kalo mindset-nya diubah. Mulai sekarang berhenti mengharap suaminya berubah, karena itu sama saja menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan. Bagaimana kalo fokusnya dialihkan saja kepada membahagiakan diri sendiri. Menyayangi dan mencintai diri sendiri sedemikian rupa.Teknisnya terserah. Bisa menekuni hobi, menuntut ilmu lagi, memanjakan diri, mencoba hal-hal baru dan lain sebagainya. Pokoknya apa saja yang bisa membuat bahagia dan itu positif lakukan saja.

Konsep ini baru berapa tahun terakhir saya dengar, tapi kalo mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sudah sejak dulu saya lakukan. Memang cara ini belum tentu mengubah situasi seperti yang diharapkan, tetapi setidaknya bisa mengalihkan pikiran buruk dari terus menyesali ketidakbahagiaan rumah tangga dan upaya menyelamatkan diri sendiri dari kehancuran juga.

Harapannya itu begini. Orang lain/ pasangan mau bersikap atau bertingkah laku macam apa, ya, itu urusannya dia. Bukan urusan saya. Persetan dengan mereka. Yang menjadi urusan saya bagaimana membuat diri sendiri bahagia, damai di batin, tentram di perasaan. Agak egois, sih kedengarannya. Ya, apa boleh buat. Namanya juga sedang menyelamatkan kewarasan diri kan.

Kayaknya gampang, ya? Hahaha
Bohong banget itu. Saya yang nulis aja capek, apalagi mempraktikkannya. Butuh kesabaran dan waktu yang lumayan lama itu. Tapi mengingat meraih self happines juga penting, apa salahnya dicoba. Mana tahu dengan semakin berbahagia kita, situasi akan berubah lebih baik dengan sendirinya.

Demikian kira-kira masukan dari saya. Entah ini solusi atau bukan, embuhlah. Semoga bermanfaat aja, ya

Wallahu'alam


Wednesday, February 12, 2020 4 komentar
Dalam hidup ini lumrah saja jika kita mengalami keterpurukan. Entah karena musibah atau serbuan masalah yang seolah datang tak henti-hentinya. Yah, namanya juga hidup di dunia. Mustahil seperti di surga yang akan terus merasa senang dan bahagia. Meski demikian, tak mungkin juga selamanya menderita bagaikan hidup di neraka yang pasti tersiksa.

Foto : pixabay.com

Selama hidupnya masih di dunia, sedih, senang, bahagia, nestapa pasti silih berganti saja. Seperti malam berganti menjadi siang. Seperti pelangi yang terbit setelah badai.

Nah, ternyata musibah tak selamanya buruk, loh, karena di balik musibah banyak juga hikmah positifnya. Apa saja hikmahnya, cekidot, ya:

1. Musibah Sebagai Sarana Melembutkan Hati

Musibah seringnya membuat kita kembali mendekatkan diri pada Allah. Dengan menumpahkan segala gundah gulana kepadaNya, bisa dikatakan sebagai upaya menjalin kemesraan kembali dengan Allah yang boleh jadi jarang kita lakukan saat hati senang.

Hal ini menunjukkan pengakuan bahwa kita ini hanyalah makhluk lemah. Sehebat apa pun manusia, tetap saja kita ini seorang hamba yang akan selalu bergantung kepada Allah. Setinggi apa pun kedudukan kita tetap saja kita bukan siapa-siapa yang akan selalu membutuhkan Allah.

Alhasil, kesedihan berguna untuk melembutkan hati, karena rasa tak berdaya seolah mengingatkan kita agar kepala yang selalu ditegakkan harus ingat untuk sering-sering menunduk dan bersujud. Nah, jika dihayati dengan baik, bukankah musibah justru dapat menanggalkan kesombongan dan ke-akuan manusia yang sering lupa bahwa sifat-sifat tersebut seharusnya milik Allah.

2. Saatnya Naik Kelas

Suka atau tidak, musibah yang menimpa adalah tanda kita mau naik kelas. Entah  itu dari segi keimananan ataupun taraf hidup yang biasanya akan meningkat. Memang musibah membuat kita sedih. Hal itu wajar saja, namanya juga kita hanya manusia biasa. Yang penting tidak berlarut-larut saja

Dari pada meratapinya yang berujung keluh kesah dan menolak takdirNya, lebih baik bersabar sambil terus berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah tidak mungkin menguji hambanya diluar batas kesanggupan kita menanggungnya. Mana tahu kejadian ini caraNya mengangkat derajat kita ke tempat yang lebih tinggi. Oleh karena itu stay positif, aja, ya!

3. Menjadi Semakin Tangguh

Salah satu hikmah tertimpa musibah adalah membentuk pribadi menjadi lebih tangguh. Situasi sulit biasanya membuat kita jadi lebih kreatif memikirkan caranya bertahan, dan keberhasilan melewati semua badai akan membuat kita semakin kuat dan tumbuh menjadi lebih bijaksana.

Percayalah! Manusia tangguh bukanlah mereka yang terlahir kuat. Tetapi, orang lemah yang memilih bertahan melewati badai yang menerpanya tanpa melarikan diri.

4. Ujian Akan Menentukan Siapa Sebenarnya Dirimu

Kalo ingin melihat watak asli seseorang. Lihat dirinya saat berhadapan dengan masalah. Apakah dia akan lagi menghindar dari masalah tersebut atau justru menghadapinya dengan gagah berani dan penuh tanggung jawab?

Jika ujian ternyata membuat kita lari dari masalah. Berarti ini saatnya kita harus berubah, karena tantangan hidup ke-depannya hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang berani dan bukan untuk mereka yang suka melarikan diri.

5. Introspeksi

Saat menghadapi musibah sebaiknya kita introspeksi diri. Apakah peristiwa yang menimpa diri ini karena kelalaian atau tidak. Jika musibah terjadi karena ke-alpa-an berarti ini waktu yang tepat untuk memperbaikinya. Namun, jika musibah terjadi karena sesuatu di luar kendali kita berarti tugas kita hanyalah bersabar.

Demikian hikmah dibalik musibah. Ternyata, banyak hal positif yang bisa dipetik bahkan dari musibah sekali pun. Semoga kita semua di mampukan mengambil pelajaran dari hal tersebut. Amin.

Thursday, February 06, 2020 3 komentar

Ini cerita tentang kamu. Kamu yang seperti tak pernah menderita. Padahal menurutmu, kamu hanyalah orang yang pandai menikmati hidup. Bertubi-tubinya cobaan tak menghalangimu merasakan bahagia. Berhubung masalah adalah makanan yang sering terhidang untukmu. Kamu justru semakin pandai menyesuaikan diri, kapan harus menikmati derita dan kapan saatnya meninggalkan semua masalah di belakang dan sejenak menikmati kebahagiaan.

Sumber Foto. Pexels.com

Ini mungkin terdengar absurd. Namun, nyatanya kamu mampu beradaptasi. Derita itu bandel. Dihindari sekuat tenaga justru enggan menjauh. Jika kamu menunggu dia pergi menghilang. Kamu bisa kehabisan waktu. Lebih baik fokus memperbaiki hidupmu dan tak menyediakan waktu untuk meladeni penderitaan. Itulah mengapa pilihan yang tersisa untukmu hanyalah berdamai, bahwa kamu tak akan pernah lepas darinya.

Berdamai. Itu yang kamu lakukan. Sekilas, orang tak percaya kamu memiliki beban. Pembawaanmu yang periang, tawamu yang lepas, jiwamu yang hangat, senyummu yang tulus, cerita-cerita baik yang engkau bagikan, seolah-olah menyiratkan hidupmu bergelimang kesenangan dan kebahagiaan.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Dirimu sama seperti orang lain. Mempunyai masalah dan menanggung beban. Hanya bedanya, kamu tidak suka berbagi penderitaan dengan sembarang orang. Pengalaman sudah mengajarkanmu, bahwa ada manusia yang benar-benar peduli kepada orang lain. Namun, tidak sedikit juga manusia yang sebaliknya. Tidak peduli dan menganggap masalahmu bukan urusan maupun tanggung jawab mereka. Kamu harus berhati-hati.

Di samping kamu merasa bukan tindakan bijak menghambur masalahmu ke sana ke mari. Membebani siapa saja yang kau temui. Tindakan itu selain tidak adil buat orang lain yang harus menerima sampah darimu, juga akan membongkar aibmu sendiri. Padahal semakin terbuka aibmu, semakin tidak berdaya dirimu di hadapan manusia.

Itulah mengapa, kamu memilih menampilkan hal-hal baik dan menyembunyikan duka nestapa hanya untuk dirimu sendiri. Jika kamu merasa mampu mengatasi gejolak kepiluan, kamu akan menahannya saja. Akan tetapi jika kamu sudah tidak kuat lagi menahan himpitan beban, kamu menangis atau berdoa. Mau bagaimana lagi. Hanya dua hal itu yang bisa kamu lakukan, jika ingin melindungi jiwamu. Satu-satunya bagian diri yang kendalinya tak pernah kau berikan pada siapa pun.

Pengalaman juga telah mengajarkanmu. Menyandarkan pengharapan kepada manusia jangan terlalu-lalu. Karena seharusnya setiap orang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan diri sendiri, dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai tanggung jawab orang lain.

Maka dari itu. Untuk dirimu yang sangat tabah, izinkan aku memberi hormat dan berdoa, semoga Allah berkenan meridhoi kesabaranmu dan selalu melindungi jiwamu agar senantiasa dalam kebaikan. Amin.

Muara Teweh, 29 Agustus 2019
Friday, September 06, 2019 2 komentar
Aku enggak tahu harus berpandangan seperti apa, pas suatu waktu menghadapi seorang teman yang selalu mengeluhkan tentang "ketidak hebatan" suaminya karena menjadi pengangguran. Sekali dua aku hanya mendengarkan saja, namun selanjutnya aku tak sanggup lagi untuk menahan lidahku dengan memberikan komentar seperti ini.

Sumber Foto. Pexels.com

"Yang menyuruh mengawini suamimu itu siapa? dipaksa atau pilihan sendiri?"

Bukan tanpa alasan mengapa aku jadi berkomentar seperti ini, aku merasa kesal dengan ulah si teman yang selalu merendahkan suaminya hanya karena si suami belum mendapatkan pekerjaan alias pengangguran.

Padahal aku yakin si teman menikah dengan si suami atas pilihan sadar alias menikahnya bukan karena di jodohkan, jika pernikahan itu atas kemauan sadar sudah barang tentu si teman telah mengetahui kelemahan si pasangan jauh-jauh hari, makanya akhirnya memutuskan untuk tetap menikahinya.

sebagai istri harusnya menanamkan pemahaman di kepala, bahwa laki-laki itu adalah pemimpin, kepala rumah tangga didalam rumahnya, dan selayaknya seorang pemimpin, suami berhak mendapat rasa hormat dan ditinggikan dari orang yang di pimpinnya. Bukan malah direndahkan dan dihinakan di wilayah kekuasaannya sendiri. ikut merasakan bagaimana terhinanya perasaan sang suami yang tak mendapat perlakuan yang semestinya itu, pasti menyakitkan.

Aku merasa yakin dan percaya kepengangguran si suaminya itu bukan karena di sengaja, tapi kebetulan saja zamannya memang lagi susah mendapatkan pekerjaan, plus faktor keapesan yang diakibatkan oleh banyak hal membuat si suami belum kunjung mendapat pekerjaan.

Pada dasarnya tak ada satupun laki-laki terutama yang telah mempunyai istri yang berniat untuk menjadi pengangguran, semua suami pasti ingin membahagiaan sang istri, memberi yang terbaik serta menjadi kebangaan. Tapi yang namanya keinginan kita belum tentu selalu sejalan dengan kenyataan.

Ada banyak faktor, di antaranya telah di sebutkan di atas tadi. Zaman yang serba sulit membuat keinginan mendapatkan pekerjaan yang diidamkan menjadi kian berat., dan sudah barang tentu beban itu terasa kian berat ketika sang istri yang di harapkan menjadi orang yang paling mengerti akan keadaan suami, justru malah membuat tertekan dengan tindakannya yang selalu memaksa suami agar segera mendapatkan pekerjaan hingga berkata yang menyakitkan mengenai kepengangguran suami.

Padahal agama telah banyak mengajarkan kepada kita, bagi seorang perempuan untuk masuk surga itu tak susah, hanya 3 hal yang perlu dilakukan, yaitu sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan dan taat kepada suami. Dan menurutku bersabar dengan kedaan suami yang belum mendapatkan pekerjaan itu dapat di kategorikan sebagai taat kepada suami.

Yang namanya rumah tangga itu tak selalu mulus dan sesuai harapan, tapi pernahkah terlintas di kepala kita, bahwa situasi tidak menguntungkan yang dialami oleh suami merupakan salah satu ujian cinta yang harus kita tangani dengan bijaksana, alih-alih menyiksa suami dengan tindakan yang menyudutkannya, mengapa kesempatan itu tak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mempererat ikatan cinta diantara kita dan suami dengan selalu memberi dorongan padanya, mengingatkan suami untuk terus berusaha dan sabar.

Menggenggam tangannya ketika dia lemah, memberi pelukan hangat ketika dia resah, meyakinkannya bahwa dia mampu menjadi laki-laki yang berhasil seperti yang dia inginkan.

Bukankan lebih nikmat rasanya jika keberhasilan suami yang capai dengan susah payah itu dengan di belakanganya si istri yang tak pernah lelah untuk selalu mendukung. Suami tentu tak akan lupa dengan jerih payah istri yang sudah sedemikian sabarnya selalu mendampingi suami dalam suka dan duka itu. Membuat kita merasakan betapa bersyukurnya kita karena telah di anugerahi satu sama lainnya.

Memang, akan mudah membanggakan suami yang terlihat berhasil baik secara materi atau kekuasaan, ketimbang yang biasa-biasa saja. Tapi biarlah, meski rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri, dengan mensyukuri hidup yang ada beserta jodoh baik yang kita terima. akan lebih menyadari ternyata kebahagiaan tak bisa selalu diukur melalui banyaknya materi, karena tak berpunya bukan berarti tak bahagia atau miskin rasa, selama kita masih saling memiliki dengan cinta terhadap satu sama lain yang tak luntur, bukankah itu lebih dari cukup?


Aku sendiri pernah mengalami beratnya hidup ketika memulai berumah tangga, dengan penghasilan suami yang kecil dan tak menentu itu. Syukurnya hidup tak terasa berat sama sekali, prinsipnya selama hidup dengan suami, yakin semuanya akan baik-baik saja. Menyadari dan mempercayai bahwa suami mampu membawa keluarga ke kehidupan yang baik, pemahaman ini yang menghantar kita pada kondisi ingin selalu mengerti keadaan suami dan tetap bersabar.

Begitu pun ketika suami mengalami keberhasilan dalam hidupnya, supaya tak menjadi istri yang mabuk kepayang, caranya dengan menetapkan dalam pikiran bahwa keberhasilan suami karena usaha suami itu sendiri. Sama sekali bukan karena aku, di kehidupannya yang lebih baik ini posisiku hanya penumpang yang ikut mencicipi jerih payahnya. Aku tak terlalu berhak untuk menyatakan apa yang di peroleh suamiku sebagai sepenuhnya juga milikku, yang cape’ kerja kan suamiku.


Harapannya jangan sampai rumah tangga yang di bangun dengan cinta ini rusak hanya karena materi yang tak kekal itu, materi hanya pendukung kelangsungan hidup, dan bukan materi yang seharusnya mengendalikan kebahagiaan rumah tangga kita, kaya atau miskin yang paling penting adalah rasa saling memiliki terhadap satu sama lain yang lebih diutamakan. Demikian kira-kira. Wallahu'alam

#setip d


Monday, May 06, 2019 No komentar


Pulang kampung kali ini. Saya sempat bertemu seorang kawan lama. Laiknya pertemuan setelah lama tak jumpa, kami pun bercerita ngalor-ngidul mengenai berbagai hal.

Sumber foto. Pexels.com
Namun, ada yang menjadi perhatian saya dari cerita teman tersebut, tentang orang-orang yang pernah terhubung dengan kami di masa lalu. Sayangnya, ceritanya bukanlah kisah yang nyaman didengar, karena menyangkut perbuatan buruk yang dilakukan beberapa orang. Kita sebut saja mereka oknum.

Oknum-oknum ini diduga menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan manipulasi laporan dengan tujuan akhir penggelapan dana. Memang, kalau dilihat sekilas, gaya hidup oknum-oknum ini sedikit tak sesuai dengan keadaan. Pendapatan sekian, tetapi gaya hidupnya udah macam kaum the have saja.

Saat tiba di rumah, oleh-oleh berupa cerita yang kami dengar dari rumah teman tersebut menjadi topik diskusi antara saya dan suami, yang membawa kami pada kesadaran lagi. Untung kami tidak seperti oknum-oknum itu. Betapa kami sangat bersyukur dengan hidup yang ada. Fakta bahwa apa yang kami makan dan minum masih dibeli dari pendapatan yang sah atau uang halal, adalah nikmat yang luar biasa.

Walaupun saya pernah beberapa kali harus memasang tampang bodoh kala mendengar penilaian semena-mena orang lain yang mencap kami kurang sukses untuk ukuran jabatan suami. Akibat kami tidak memiliki benda-benda simbol kesuksesan. Ya, enggak papa juga. Anggap saja kami dan mereka berbeda pandangan soal makna sukses.

Apapun anggapan orang di luar sana insyaallah tak mengurasi rasa syukur kami. Selalu merasa beruntung karena merasa dianugerahi pemahaman baik, bahwa kemuliaan diri tidak tergantung pada harta benda yang dimiliki. Pemahaman yang mengantar kami punya perasaan biasa-biasa saja terhadap berbagai benda. Kalau ingin beli dan kebetulan uangnya ada, ya, dibeli. Tetapi, jika dananya tidak ada, tidak memaksakan diri.

Saya sudah hidup cukup lama di muka bumi ini, dan pernah merasakan berbagai kesakitan hidup dan hinaan manusia. Ada hubungannya dengan harta benda. Namun, yang lebih berat untuk ditanggung justru rasa bersalah akibat perbuatan dosa, bukan karena dihina karena tak berpunya.

Kembali lagi ke soal harta halal tadi. Karena menikmati yang halal adalah keharusan bagi siapa saja yang ingin hidup dalam kebaikan, atau bagi siapa saja yang meyakini alam akhirat tempat kembali yang nyata. Maka, sudah sewajarnya cara meraih rezekinya pun harus sesuai cara-cara yang dibenarkan juga. Demikian kira-kira. Wallahu'alam

Martapura, April 2019

#SETIP day 27
Wednesday, April 24, 2019 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose