facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Sejak suami menjadi hakim di Pengadilan Agama, hidup kami tidak lagi menetap karena tugas suami yang terus berpindah-pindah. Di satu sisi, hidup berpindah memberi banyak kesenangan. Mendapat banyak teman, berkesempatan merasakan hidup di kampung orang, bersentuhan dengan budaya berbeda dan lain sebagainya

Foto : pixabay.com




Tapi di sisi lain, hidup selalu berpindah juga ada tidak enaknya, perasaan seperti lagi-lagi harus memulai dari awal setiap pindah ke tempat berikutnya. Belajar lagi beradaptasi dengan orang maupun lingkungan yang baru. Hal ini membuat perasaan kurang nyaman, tidak hanya pada anak-anak, bahkan orang dewasa juga.

Terlebih pada anak-anak. Pindah ke tempat baru berarti sekolah, lingkungan dan teman-teman baru juga. Beruntung jika si anak tipe yang mudah menyesuaikan diri. Pindah tempat tinggal mungkin tidak terlampau berpengaruh pada perasaannya. Tetapi bagaimana jika yang pindah adalah anak yang enggak gampang bergaul. Tentu saja meninggalkan teman dan lingkungan yang sudah dikenalnya, sedikit banyak pasti akan mempengaruhi keadaan psikologisnya. Jika tidak ditangani dengan tepat bisa mengakibatkan si anak merasa tertekan, berubah murung, malas berteman hingga enggan turun sekolah.

Para orang tua tentu saja tak ingin hal-hal di atas menimpa putra-putrinya. Kendati tidak 100% bisa menghindarkan anak dari efek negatif pindah tempat tinggal ini, setidaknya orang tua bisa meminimalisir keadaan tersebut dengan mencoba beberapa saran berikut ini:

1. Katakan Secara Terbuka Hidup Kalian Tidak Menetap

Suatu ketika putra saya pernah berkata, "Ini rumahku," kepada temannya sambil menunjuk ke arah rumah dinas kami. Malamnya saya segera menjelaskan kepadanya bahwa rumah yang kami tempati bukanlah rumah milik kami, tetapi rumah dinas yang dipinjamkan pemerintah untuk kami tinggali. Bahwa, kami hanya sementara tinggal di tempat tersebut, dan sewaktu-waktu surat panggilan mutasi suami keluar, kami sekeluarga harus pindah lagi. Saya merasa perlu mengatakan yang sebenarnya supaya putra kami siap, andai suatu ketika kami harus pindah lagi.

Foto :pixabay.com
Awalnya dia tidak terima, karena dia sudah suka berada di lingkungan tersebut. Tetapi, saya dan suami terus mengingatkan, karena tugas sang Ayah yang terus berpindah, kami tidak bisa hidup menetap di sana. Akhirnya dia bisa menerima keadaan itu, dan segera saja bercerita kepada teman-temannya bahwa suatu saat dia akan pindah dari sana.

2. Jangan Memberi Tahu Kepindahan Secara Mendadak

Ketika mendapat kepastian akan pindah, langsung katakan kepada anak, bahwa sebentar lagi kalian sekeluarga akan pindah. Biasanya kalau nama suami berada dalam daftar yang harus pindah tugas, saya langsung mengatakan hal tersebut kepada anak. Maksudnya, untuk menyiapkan mentalnya sedini mungkin, agar pada waktu pindah nanti dirinya tidak mengalami shock. 

Saya bahkan melakukan ini sejak kepindahan kami yang pertama. Meski kala itu usia anak masih dua tahun, saya tetap mengatakan kepadanya kalau sebulan lagi kami akan pindah tempat tinggal. Cara ini lumayan efektif menyiapkan mental anak menghadapi perubahan. Dia jadi lebih siap, dan lebih tabah.

3. Memberi Kesempatan Kepada Anak Mengungkapkan Perasaan Sedihnya

Meninggalkan lingkungan dan teman-teman yang sudah dikenal pasti tidak mudah bagi anak. Perasaan sedih harus berpisah, serta kecemasan berada di lingkungan baru pasti menimbulkan perasaan kurang nyaman

Foto: pixabay.com



Nah, pada situasi inilah orang tua harus peka. Bersedia membuka telinga untuk mendengarkan keluhan anak. Biarkan dia mengungkap perasaannya mengenai kepindahan ini, dan katakan bahwa kita mengerti apa yang dia rasakan. Tapi dia tidak sendiri menghadapi perubahan tersebut, karena kedua orang tuanya akan selalu mendampinginya melewati masa-masa sulit itu.

4. Memberi Gambaran Tentang Tempat Tinggal yang Baru

Saat tahu akan pindah, tak ada salahnya mencari tahu tentang tempat tujuan dahulu. Tidak harus mendatangi langsung, cukup browsing di internet sudah cukup memberi gambaran keadaan tempat tujuan kita. Misalnya, apakah tempat tersebut cukup ramai, ada fasilitas apa di sana, ada tempat rekreasi atau tidak, kalau kurang ramai dibanding tempat tinggal sekarang kira-kira apa kelebihan kota tersebut.

Nah, hasil pencarian ini bisa kita ceritakan kepada anak, bahwa di tempat tinggal yang akan datang, tidak kalah menarik dan menjanjikan petualangan yang sama menyenangkan seperti di tempat tinggal sekarang.

5. Mendorong Anak Mendapat Teman Baru

Jika sudah berada di rumah baru, dorong anak untuk mendapat teman. Selain membuat anak segera betah, hal itu juga membantu anak melupakan kenangan dengan teman-teman lamanya.

Demikian beberapa tips menyiapkan anak saat pindah tempat tinggal. Orang tua mungkin tidak selalu mampu membuat anak nyaman dengan kepindahan, tetapi setidaknya orang tua bisa berusaha mengurangi rasa tidak nyaman yang dialami anak. Semoga bermanfaat, ya.

Salam hangat

Wednesday, October 14, 2020 No komentar
Alhamdulillah, baru saja saya selesai mendampingi putra kami belajar. Yang paling membahagiakan dari aktivitas belajar mengajar yang kami lakukan, saat Danish putra saya berkata, "Danish senang belajar, Ma. Danish juga senang belajar sama Mama."
Foto: pixabay.com


Padahal tidak sekali dua saya mengalami frustrasi saat mengajarinya, begitu pula Danish. Dia bahkan pernah sampai menangis karena selalu lupa huruf, atau tidak tahu cara mengeja. Sang Mama frustrasi karena si anak yang lambat paham, sedangkan si anak frustrasi karena si Mama yang kurang sabar

Untungnya situasi tidak menyenangkan tersebut sudah berlalu. Semakin kesini, baik si Ibu maupun si anak sudah menemukan pola menghadapi satu sama lain. Saat si anak mulai mengeja sekenanya, menyebut huruf semaunya. Sang Mama langsung dapat mendeteksi si anak sedang kurang fokus. 

Jadi, tugasnya sang Mama mengingatkan anaknya agar berhenti bermain saat belajar dan memintanya fokus kepada pelajaran. Begitu juga saat sang Mama sudah terlihat kurang sabar, sang anak langsung tahu apa yang harus dia lakukan, yaitu, mengingatkan sang Mama agar jangan terbawa emosi dan sebaiknya latihan bersabar menghadapinya *wkwkwkwk

Andai merasa cukup dengan materi dari sekolah, saya mungkin tak perlu repot-repot begini. Tinggal mengerjakan tugas yang diberikan guru, yang kebetulan tidak banyak, saya pasti bisa segera santai setelahnya.

Akan tetapi, melihat banyaknya waktu luang yang tersedia. Belum lagi, pendidikan dasar yang belum dikuasai putra kami, yang membuat saya memutuskan memberi pelajaran tambahan. 

Awalnya terasa cukup sulit, karena Danish memang serba belum bisa. Belum bisa menulis, mengeja apalagi mengaji. Jadi, saya harus mengajari dia dari dasar sekali. 

Namun setelah kelas berjalan sekitar empat bulan. Suasana belajar terasa jauh lebih nyaman karena dia sudah mulai lancar mengeja dan tulisan tangannya sudah mulai rapi. Kuncinya, kami belajarnya disiplin. Setiap hari selama lima hari, dari hari Senin- Jum'at, selama kurang lebih 1,5 jam.

Kenapa saya ngotot menjalankan kelas dengan disiplin, karena saya ingin putra kami terpola kebiasaan belajarnya, sehingga nantinya, tanpa perlu repot lagi, dia akan belajar dengan sendirinya. Jadi, tujuan tindakan saya semata-mata untuk membangun kebiasaan suka belajar pada anak kami.

Menurut saya ini poin terpenting tujuan dari sekolah, yaitu menumbuhkan kecintaan anak pada belajar, karena jika kebiasaan ini telah terbentuk, niscaya si anak nantinya pasti akan mencari ilmu secara suka rela.

Oleh karena itu, penting juga buat orang tua untuk terus belajar memahami anaknya, supaya anak yang didampingi semakin menyukai belajar dan bukan sebaliknya. 

Bahkan demi tujuan ini saya harus browsing sana-sini dan bolak-balik mantengin youtube hanya untuk mencari ilmu bagaimana cara membangkitkan semangat belajar pada anak. Maksudnya, supaya tindakan yang dilakukan efektif membuat anak saya mencintai belajar. 

Demikian usaha saya membuat anak menyukai belajar. Semoga bermanfaat, ya






Thursday, October 08, 2020 No komentar
Tak dipungkiri pandemi Corona telah mengubah pola hidup seluruh manusia di dunia, tak terkecuali di negara tercinta Indonesia.

Yang paling terasa, akibat Corona kebersamaan dengan anggota keluarga menjadi lebih banyak dibanding sebelumnya. Hal ini karena sebagian besar kerja kantoran dialihkan menjadi kerja dari rumah. Demikian juga sekolah dialihkan menjadi belajar dari rumah.

Foto: pixabay.com
Di antara bekerja dan sekolah dari rumah. Sekolah dari rumahlah yang efeknya sangat terasa bagi kami ibu rumah tangga. Bagaimana tidak, saya yang sehari-hari fokusnya hanya mengurus rumah tangga seperti memasak dan beres-beres rumah. Tiba-tiba harus mendampingi anak belajar tak ubahnya seorang murid yang juga ikut sekolah. 

Tentu saja hal ini terasa kurang nyaman awalnya. Bayangkan, saya yang selama ini sudah terlanjur dimanjakan keadaan dengan menyerahkan semua urusan pendidikan putra kami kepada sekolah, tapi karena Corona kami sebagai orang tua harus mengambil alih tugas tersebut. Bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak kami. Kalau boleh saya jujur, rasanya seperti dikeluarkan secara paksa dari zona nyaman yang selama ini sudah memanjakan saya

Namun, semakin kesini bukan hanya mulai menikmati peran sebagai pendamping belajar anak. Saya juga mulai berpikir ketika melihat banyaknya waktu luang, mengapa waktu yang ada tidak dimanfaatkan saja dengan memberi pelajaran tambahan kepada anak saya. Soalnya kalau melihat materi yang diberikan sekolah, rasanya kurang memenuhi kebutuhan pendidikan dasar buat putra kami

Berangkat dari hal itu, saya berinisiatif menyusun materi apa saja yang akan saya tambahkan, untuk diajarkan kepada anak saya. Tentu saja hal ini lumayan membuat saya semangat sekaligus gugup pada awalnya, karena meski saya berlatar sarjana pendidikan dan pernah mengajar selama kurang lebih sepuluh tahun di beberapa sekolah tetapi saya sudah berhenti mengajar selama enam tahun lebih. Makanya tetap saja kagok rasanya harus mengajar lagi, apalagi yang diajar murid TK nol besar, murid yang paling saya hindari selama ini

Tapi situasi yang dihadapi sangatlah tidak biasa. Saya tidak punya pilihan, dari pada waktu yang tersedia dihabiskan anak saya untuk bermain gadget atau nonton televisi, lebih baik saya isi dengan kegiatan belajar mengajar. Namanya saja idenya dadakan pastinya tanpa persiapan. Baik persiapan mental sebagai pengajar maupun materi apa saja yang harus diajarkan.

Beruntungnya anak saya masih TK nol besar, jadi materi yang diberikan tak jauh-jauh dari belajar menulis, membaca dan berhitung, sedangkan di bidang agama yang diajarkan bagaimana tata cara salat yang benar, mengaji dan membaca buku sirah nabawiyah maupun buku pintar iman dan islam.

Tanpa disangka, saya yang tadinya sempat merasa kurang nyaman dalam mendampingi anak saya belajar, mulai menyukai aktivitas belajar mengajar di rumah kami. Apalagi saat melihat kemajuan yang dialami anak kami, dia yang tadinya sama sekali tidak bisa menulis, mengaji dan membaca, sekarang sudah pandai menulis, mengeja dan mulai lancar mengenali huruf hijaiyah. Dia juga mulai hafal sebagian bacaan salat, sudah mengerti sebagian tata cara salat dan berwudhu yang benar. 

Alhamdulillah, Corona telah mengembalikan fungsi saya sebagai sekolah pertama bagi anak kami. Sehingga, saya yang tadinya sempat abai terhadap pendidikan anak saya, tapi karena keberadaan Corona yang memaksa kami mengambil alih tugas sekolah menjadi sadar kembali, bahwa tugas mendidik anak yang utama adalah tanggung jawab orang tua!




Saturday, October 03, 2020 No komentar
Punya bayi yang dapat tidur dengan nyenyak adalah harapan semua ibu. Terutama bagi mereka, yang mengasuh dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga tanpa bantuan siapa pun.

Sumber Foto. Grami.me

Namun, adakalanya bayi menjadi rewel dan sangat menuntut perhatian. Sulit ditidurkan atau bahkan tak mau ditinggal. Hal ini tentu saja sangat merepotkan. Mengingat tugas seorang ibu rumah tangga bukan hanya mengasuh bayi semata. Tapi, memastikan kesejahteraan seluruh anggota keluarga, dan memelihara rumah beserta isinya.

Makanya, wajar jika para ibu ingin bayi mereka dapat tidur pulas dalam waktu lama, agar si ibu dapat menunaikan tugas rumah tangga, seperti memasak dan beres-beres rumah tanpa gangguan.

Nah, dalam masyarakat Dayak, Paser dan Banjar metode membuat bayi tidur pulas disebut pukung.

Pukung atau bepukung adalah teknik melelapkan bayi agar tidurnya nyenyak dan lama. Adapun cara mempukung, yaitu, dengan merebahkan bayi dalam ayunan, kemudian angkat badan bayi dan sangga dengan lutut. Rapikan kain ayunan di badan bayi. Lipat kedua tangan si anak dan ikat sedemikian rupa, mulai dari punggungnya hingga leher dengan kain, atau selendang yang sudah disiapkan. Pastikan telinga bayi tidak terlipat, dan ikatannya tidak terlalu kuat. Sehingga bayi masih bebas bernafas. Biasanya, tak memerlukan waktu lama cara ini mampu membuat bayi tidur nyenyak.

Sepintas, pukung ini terlihat kejam dan membahayakan bayi. Namun sejauh ini belum terdengar ada anak celaka akibat di pukung. Justru yang ada si bayi malah tidur nyenyak jika menggunakan cara ini. Boleh jadi, karena pukung membuat anak tak bebas bergerak, sehingga dia tak punya pilihan lain kecuali tidur.

Akan tetapi. Meskipun pukung hal yang biasa dilakukan oleh suku Dayak, Paser dan Banjar. Tak semua bayi bisa dilelapkan dengan teknik ini. Hanya bayi yang sudah mampu mengangkat kepala, atau berusia sekitar 3 bulan hingga 1 tahun saja, yang boleh di pukung.

Selain itu, tak sembarang orang, loh, boleh melakukan pukung ini. Hanya mereka yang menguasai tekniknya saja, yang boleh menggunakan cara tersebut.

Nah, tertarik mempukung bayi? Boleh saja asal kuasai dulu tekniknya dengan benar, ya. Supaya bayinya tetap aman dan nyaman.

#SETIP day8

Tuesday, February 26, 2019 No komentar
Niatnya hanya ingin membuat Danish putra kami mencintai buku. Makanya, sebisa mungkin rutinitas membaca buku sebelum tidur kami lakukan.



Awalnya, memang berat dan terkesan sedikit dipaksa. Tapi, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Bahkan, sekarang kesannya seperti ritual wajib, yang harus dilakukan. Kalau kedua orang tuanya terlihat malas-malasan membacakan buku, malah kami yang diingatkan Danish. “Bacakan buku, Bah atau Mak, biar Danish makin Pintar”



Buku yang dibaca pun bermacam-macam. Saat masih usia 3 bulan, aku sudah biasa memberinya buku. Namun, akibat selalu berujung sobek menjadi serpihan dan sebagiannya lagi masuk mulut, diemut. Buku bacaannya kuganti buku bantal, yang enggak mempan di sobek atau digigit. Alhasil, bukunya awet sampai sekarang.

Nah, sejak 2 tahun lalu, kami membelikan buku seri Halo Balita. Buku bacaan yang terdiri dari 25 jilid. Buku yang mengajarkan tentang self help, value dan spiritual ini terbukti sangat membantu kami mengarahkan Danish mengenal konsep kemandirian, mengajarkan nilai tata krama, dan menanamkan nilai-nilai spiritual.


Sebagai contoh. Beberapa hari ini Danish sudah enggak suka lagi dimandikan Mamaknya. Ia lebih memilih mandi sendiri. “Danish, mau seperti abang Sali, bisa mandi sendiri” ujarnya, merujuk pada buku halo balita berjudul 'Aku Bisa Mandi Sendiri'

Walau pun yang tidak ingin dibantu mandinya hanya bertahan 3 hari. Hari ke-4 dia balik lagi ke mode minta dibantu. Wkwkwkwk. Syukurnya, kebiasaan mandi sendiri sudah mulai berlanjut lagi. Tugas Mamaknya hanya bagian mengawasi dan mengingatkan saja, bagian tubuh mana yang belum dibersihkan, sekaligus melakukan bilasan akhir supaya tak ada sabun yang menempel di badannya.


Tapi, belum semua nilai yang ada di buku bisa diikuti. Sebagai contoh. Danish belum sukses mengikuti anjuran menjadi anak berani sesuai buku berjudul 'Aku Anak Pemberani'. Padahal, kedua orang tuanya sudah berkali-kali mendorong agar dia menjadi anak pemberani. Akan tetapi tetap saja sifat pemalunya belum hilang-hilang. Bahkan, hanya sekadar bermain ke tempat tetangga saja dia minta ditemani. Ya, ampun.


Demikianlah, dengan adanya buku halo balita ini, sebagai orang tua yang minim ilmu kami merasa terbantu menerapkan nilai-nilai kebaikan kepada Danish. Tidak harus meraba-raba lagi.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day4






Saturday, January 05, 2019 No komentar
Hi, dears!

Cerita lagi ya...

Hari ini aku nggak ke pasar. Kebetulan persediaan ikan dan sayur, hasil oprek pasar kemaren masih ada. Setelah menghangatkan nasi untuk sarapan suami, aku minta izin untuk kembali ke tempat tidur.

Jika ada hal yang paling ku sukai menyangkut status pengangguranku. Maka saat-saat seperti inilah yang ku maksud. Memeriksa to do list yang harus ditunaikan hari ini, sambil menunggu Danish, putra semata wayangku, yang berusia 4,5 tahun  bangun tidur.

Aku senang menikmati momen intim kami, manakala Danish membuka mata, yang terlihat pertama kali adalah wajah emaknya. " Mamak" panggilnya lembut dengan raut berseri. Bahagia, karena sang emak ada disampingnya.


Kalo sudah begini. Aku akan mengabaikan semua tugas sepenting apapun, untuk sejenak bercengkerama dengannya. Kami berguling-guling di tempat tidur sambil tertawa dan saling menggoda. " Danish bau asem, tapi mamak suka cium, Danish"  godaku, sambil memeluk dan menciumnya sepuas hatiku. Biasanya, dia akan berkata " banyak-banyak, Mak, ciumnya" menandakan kalau dia juga senang dengan ritual pagi kami.


Kegiatan ini, biasanya memakan waktu 15-30 menit, sebelum akhirnya Danish harus mandi dan selanjutnya sarapan pagi.

Walaupun profesi ibu rumah tangga kurang dihargai oleh beberapa orang. Aku tetap merasa diriku beruntung. Menjadi pengangguran justru memberiku banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak. Bisa memeluk dan menciumnya sesering yang kumau, adalah kenikmatan yang terus ku syukuri.

Apalagi mengingat, 9 tahun adalah penantian panjang kami untuk mendapatkan anak. Membuat komentar miring orang tentang pilihanku menjadi ibu rumah tangga, menjadi tak berarti.

Biarlah mereka berkata apa. Menganggap keputusan yang ku ambil kurang populer untuk zaman ini. Yang penting, sebagai orang yang menjalaninya, aku tidak keberatan sama sekali.

Hidup, toh, pilihan. Mau mengambil peran seperti apa, tergantung yang bersangkutan saja. Karena sejatinya, nyaman di orang lain belum tentu enak di kita. Dan yang bagus terlihat belum tentu nyaman dirasa. Yang penting terus berusaha hidup dalam ketaatan, dan tidak mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.


Begitu aja, ya, Mak. Semoga semua emak di dunia hidupnya happy...

#Postingan ini diikutsertakan dalam tantangan one day one posting bersama Estrilook Community



Tuesday, October 16, 2018 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose