facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Bangun tidur pagi ini badan rasanya lelah sekali. Padahal tadi malam enggak terlambat tidur seperti beberapa hari ini. Kalau menurut keinginan hati. Rasanya ingin melanjutkan tidur saja dari pada beraktivitas.

Sarden homemade

Namun, keinginan itu hanya ada dalam otak saja. Sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab menyediakan hidangan sehat buat keluarga. Aku enggak bisa lagi menuruti keinginan hatiku bermalas-malasan. Soalnya, sudah dua hari aku tidak masak. Jadi, kendati rasanya sangat berat, aku harus ke pasar untuk berbelanja kebutuhan kami.

Rencananya, sehabis dari pasar. Ikan atau apa pun yang dibeli akan disimpan di dalam kulkas saja, supaya aku bisa melanjutkan tidur, dan urusan memasak bisa dilakukan nanti kalau badan sudah fresh. 

Akan tetapi, rencana tinggal rencana. Sepulang dari pasar, aku hanya sempat istirahat sebentar. Badan yang terlalu lelah malah tak bisa tidur. Dengan menguatkan diri, aku pun memasak.

Aku membeli ikan layang dan tulang iga. Yang iga di masak asem-asem, sedangkan ikannya dibuat sarden. Kebetulan ketemu resep membuat ikan sarden dari facebook. Ketika bertanya pada suami. Apa ia mau dibuatkan sarden? Suami pun menjawab mau.

Syukur, bahan-bahannya mudah dan cara membuatnya gampang.

Oke, supaya enggak berpanjang lebar. Intip bahan dan cara membuat sarden, yuk!

Sarden homemade

Bahan :

- ikan layang
- Bawang Merah
- Bawang Putih
- Tomat
- Jahe
- Laos
- Daun salam
- Serai
- Saus tiram
- Saus tomat

Cara Membuat:

- kukus tomat. Kupas kulitnya, blender. Sisihkan.

- Haluskan bawang merah dan putih. Tumis bersama jahe, laos, dan serai yang sudah di kepruk, daun salam sampai harum. Kemudian masukan tomat yang sudah di blender, tambah garam, saus tomat dan saus tiram.

- Tata ikan di presto, masukan bumbu yang sudah di tumis, tambah air sampai ikan terbenam. Masak hingga susut. Dan sarden siap dinikmati.

Sangat mudah bukan membuatnya. Selamat mencoba!

#SETIP day19
Sunday, March 24, 2019 No komentar
Sudah sekitar dua minggu setelah aku merampungkan naskah buku soloku. Sejak saat itu tak banyak kegiatan tulis menulis yang kuikuti. Memang, aku masih ikut tantangan SETIP yang diselenggarakan estrilook.com.
Kari Umbit. Sumber Foto. Koleksi Pribadi
Di luar itu, tidak banyak kelas menulis yang kuikuti untuk bulan ini. Aku hanya mengikuti kelas “Menulis tiga bab yang menggugah” yang dimentori oleh ibu Rosi L. Simamora dan kelas menulis opini yang dimentori cikgu Anna Farida.

Jadi, boleh dibilang bulan ini aku lebih banyak bersantai. Sepertinya aku mengalami kelelahan mental yang lumayan berat, sehingga macam orang tak punya tenaga buat menulis.

Dari pada memaksakan diri menulis malah bikin senewen, lebih baik main di dapur. Masak-masak, terus posting resep masakan, deh!

Kali ini aku mau membagi resep kari umbut. Apa itu umbut?

Umbut adalah batang pucuk pohon yang masih muda. Tanaman yang biasanya diambil umbutnya adalah pohon kelapa atau kelapa sawit.

Kalau di kampung kami, sayur kari umbut umumnya menjadi jamuan saat upacara adat atau selamatan. Rasa umbut yang manis di campur labu dan ayam kampung. Menghasilkan cita rasanya yang nikmat sekali.

Oke, supaya aku enggak semakin melantur ke sana ke mari lebih baik kita langsung saja membuat kari umbutnya, ya.
Kari Umbut

Bahan:

- ½ kg umbut kelapa atau sawit
- Labu kuning
- Ayam kampung
- Santan kelapa

Bumbu yang dihaluskan:

- Bawang merah
- Bawang putih
- Cabai merah
- Jahe
- Kunyit
- Kemiri
- Jintan

Cara membuat:

- Tumis bumbu yang dihaluskan
- Masukan ayam kampung
- Tuang santan encer, masak sampai ayam      empuk
- Masukan umbut dan labu kuning
- Saat mendidih tuang santan kental
- Tunggu sampai masak. Tes rasa. Angkat

-Hidangkan dengan taburan bawang     goreng.

Kari umbut ini juga nikmat sekali jika disantap dengan ikan asin bilis goreng bersama sambal terasi. Apalagi makannya bersama keluarga besar atau teman-teman. Rasanya pasti menjadi lebih nikmat. Silakan dicoba, ya!

#SETIP day14



Tuesday, March 12, 2019 No komentar
Hari jumat kemarin aku sengaja bangun kesiangan *wkwkwk* jangan ditiru, ya. Alasannya karena malam sebelumnya tidak tidur semalaman, akibat ngebut merampungkan bab terakhir naskahku.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Tadinya enggak ingin begadang juga. Mikirnya menulis semampunya kalau ngantuk, ya, ditinggal tidur aja. Eh, enggak tahunya malah keterusan ngetik sampai masuk waktu subuh.

Syukurnya bab terakhir yang dikerjakan dengan penuh perjuangan itu selesai juga. Tinggal memperbaiki bagian-bagian tertentu, ngecek ejaan maupun dialog tag yang masih salah, sebelum akhirnya dikumpul ke ibu mentor.

Sebelum membalas tidur malam tadinya, aku minta tolong kepada suami untuk dibelikan iga sapi beserta bumbu-bumbunya. Rencananya kalau sudah bangun tidur aku ingin membuat asem-asem tulang. Itung-itung sebagai sumber tenaga buatku yang masih kelelahan akibat mengerjakan tugas.

Bangun tidur cek bahan yang dibeli suami. Ternyata tulangnya kurang banyak. Padahal seingatku minta dibelikan 1/2 kilogram, tetapi yang dibeli hanya 1/4 saja. Berarti enggak cukup sampai hari sabtu. 1/4 kilogram cuma cukup buat dua kali makan saja. Padahal esoknya hari sabtu jadwal berleha-leha. Tidak ada jadwal ke pasar pas hari sabtu.

Namun, ya, sudahlah yang penting keinginan menikmati asem-asem tulang terpenuhi. Oke, supaya enggak panjang lebar pembukaannnya. Yuk, kita cek bahan dan cara membuat asem-asem tulang iganya.

Asem-asem tulang iga

Bahan-bahannya:
- Tulang iga sapi 1/2 kg
- Belimbing Wuluh
- Lengkuas
- Daun Salam
- Tomat hijau
- buncis 1/4 kg

Bumbu yang diiris
- Bawang merah
- Bawang putih
- Cabe merah dan hijau
- Cabe Rawit

Cara Membuat:

- Buang air rebusan iga yang pertama
- Rebus iga.
- Tumis bumbu yang diiris bersama laos dan daun salam
- Masukan bumbu yang ditumis ke dalam rebusan
- Tunggu hingga empuk masukan, belimbing wuluh, tomat dan buncis.
- Tes rasa, tunggu hingga masak kemudian angkat dan hidangkan!

Sangat mudah, bukan? Selamat mencoba, ya.

#SETIP day 7


Saturday, February 23, 2019 No komentar

Salah satu aktivitas yang kulakukan kala merasa lelah menulis adalah bebikinan. Entah memasak atau membuat kue. Saat-saat paling menyenangkan ketika akan memanjakan lidah dengan makanan sesuai selera.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi


Seperti yang kulakukan minggu tadi. Akibat lelah jiwa dan raga ketika berpacu dengan waktu menyelesaikan revisi naskah buku solo. Aku sempat mengalami disorientasi. Jadwal tidur yang berantakan, dan aktivitas menulis yang lebih banyak diselesaikan malam hari, membuat hari-hariku berubah.

Malam menjadi siang dan siang yang menjadi malam. Daripada senewen tak tentu arah, aku memutuskan membuat kue saja. Kebetulan Danish dan Abahnya tengah berada di Kantor si Abah. Aku memutuskan membuat kue france Petite Madeleine resep dari Tintin Rayner. Mengapa memilih resep tersebut? Jawabnya karena membuatnya mudah. Walaupun adonannya harus didiamkan semalaman, tapi membuatnya tidak memerlukan mixer

Tengok bahan yang tersedia adanya tepung, butter, gula, susu dan pasta Vanilla, tapi minus telur. Jadi, aku memutuskan membeli telur setengah kilogram. Telur sudah tersedia saatnya beraksi.

Apa saja bahan dan cara membuat France Petite Madeleine, cekidot, ya:

Bahan A

- 130 gr gula pasir
- 120 gr tepung low protein
- 1/8 sdt garam
- ¾ sdt baking powder

Bahan B

- 2 Telur ukuran besar
- 1 sdm susu cair
- 1 sdm pasta Vanilla/ biji Vanilla

Bahan C

- 115 gr Butter, lelehkan.

Cara Membuat :

- Campurkan semua bahan A aduk sampai rata pakai whisk

- Kocok bahan B sampai rata campur ke bahan A

- Masukan bahan C secara perlahan, aduk rata tapi jangan diaduk berlebihan. Perlahan saja, supaya hasilnya enggak keras.

- Tutup adonan dengan cling wrap, diamkan 3 jam- semalaman.

- Masukan pipping bag semprotkan di loyang madeleine . Karena aku enggak punya loyang yang dimaksud, aku pakai cup muffin saja.

- Panggang sampai masak.

Angkat, tunggu suhu ruang baru dikeluarkan dari loyang.

Walaupun penampakannya enggak sesuai dengan resep asli, yang penting rasanya enak banget. Iya, France Petite Madeleine ini selain enak, aromanya pun wangi banget perpaduan antara butter dan Vanilla. Selamat mencoba, ya!


#SETIP day4

Tuesday, February 12, 2019 No komentar
Tema menulis bahagia hari ini adalah memasak. Eits, jangan buru-buru beranggapan, aku memasak sesuatu yang wah dengan bumbu berat nan susah. Sama sekali tidak.



Hari ini aku justru masak yang simpel-simpel saja. Berhubung harinya mendung, inginnya menikmati makanan olahan rumah, tapi lagi malas masak yang berat-berat. Maka, diputuskanlah, menunya asem-asem ikan saja. Gampang membuatnya, dan rasanya pun menyegarkan.

Musim durian, sepertinya enggak lama lagi akan berakhir. Hal tersebut bisa dilihat dari lapak Acil penjual ikan, yang kembali terisi ikan, setelah sempat membuat galau para Mamak, akibat beliau beralih profesi menjadi penjual durian beberapa waktu lalu. Ah, syukurlah! Setidaknya, sekarang aku enggak kebingungan lagi, harus beli ikan ke mana.

Durian berkurang, ikan tersedia kembali, dan pilihannya pun banyak. Tapi, sayang harganya sedang melonjak naik. Menurut Acil penjual, kenaikan ini ada hubungannya dengan air sungai yang pasang. Membuat kegiatan menangkap ikan lebih sulit dibanding biasanya.

Ya, enggak papa. Beli saja sesuai kemampuan. Aku pun memutuskan membeli ikan jelawat ¼ kg, ikan layang ½ kg, dan ikan kecil-kecil enggak tahu namanya*wkwkwk* juga sebanyak ½ kg. Beli ikan sampai tiga macam, padahal jumlah penghuni rumah cuma bertiga. Banyak amat! Hihi ...

Ikan-ikan tersebut enggak habis sekali makan, kok. Cukup buat persediaan sampai tiga hari. Dimasak setengah matang, kemudian disimpan di kulkas. Jadi, saat hendak dikonsumsi tinggal dipanaskan saja. Idealnya, sih, dimakan sekali habis dalam sehari, tapi kalau ingat kegiatan bolak-balik ke pasar yang merepotkan. Cara ini adalah pilihan supaya tidak harus ke pasar setiap hari.

Oke, berikut ini resep asem-asem ikan layang ala Mamak Danish, ya. Cekidot:

Bahan-bahannya:

- Ikan Layang ½ kg
- Bawang merah 5 siung iris kasar
- Bawang putih 4 siung iris kasar
- Jahe 3 cm iris kasar
- Kunyit 3 cm iris kasar
- Tomat 3 buah belah 4       
- 1 batang serai/ 1 ikat kemangi

Cara membuatnya sangat gampang. Semua bahan direbus jadi satu, dan beri garam. Tunggu mendidih. Tes rasa. Angkat, dan hidangkan!

Sangat mudah, bukan? Selamat mencoba!

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day17







Thursday, January 17, 2019 No komentar
Hai, Bloggers!

Ketemu weekend lagi, ya, kita. Berhubung duo lelakiku dalam menyambut tahun baru justru sedang tidak enak badan. Makanya, akhir pekan ini kami mendekam di rumah saja.



Awalnya, Danish yang mengalami demam. Di tengarai, sih, akibat hiruk-pikuk malam tahun baru, ketika para tetangga menggelar acara karaoke tepat berada di depan rumah. Membuat Danish ikut-ikutan tidak bisa tidur juga. Betul saja. Besok paginya badan Danish langsung panas.

Tak lama berselang, Danish sudah mulai sembuh dari sakitnya, giliran si Abah yang demam. Sepertinya, Abah kurang istirahat akibat banyaknya pekerjaan.


Menyangkut Abah, ia punya fenomena tahunan. Hampir setiap bulan Desember, bulan kelahirannya. Ia pasti mengalami sakit. Entah itu demam atau hanya sekedar terkena diare. Hanya saja, untuk tahun ini sedikit mengalami perubahan pola. Sakitnya, bukan pas bulan Desember lagi, tapi molor ke bulan Januari.

Demi mengembalikan mood yang berantakan, akibat kurang tidur. Aku memilih memasak. Asal tahu saja, duo lelakiku itu sama-sama aktif. Tapi, kalau sakit mereka berdua penuh drama banget. Manjanya luar biasa. Rasanya, macam punya dua anak, dan bukannya suami dan satu orang anak. Hihi ...

Agar yang berdua itu cepat pulih, si Mamak memutuskan memasak sup tulang saja, makanan favorit si Abah dan anaknya, serta membuat sambal kesukaan keluarga kami.

Mengingat, resep sup tulang sudah pernah tayang di postingan sebelumnya. Kali ini aku fokusnya pada resep sambal kesukaan keluarga kami, saja. Yaitu, sambal bawang paser. Langsung saja, ya.



Untuk membuat sambal bawang paser, kita membutuhkan bahan-bahan, sebagai berikut:

- Bawang merah kira-kira segenggam
- Bawang paser satu ikat
- Cabai rawit sekitar 30 buah
- Tomat 5 buah.



Cara membuatnya.

- Tumis bawang merah yang sudah dirajang

- Kemudian masukan cabai yang juga              dirajang, irisan bawang paser, dan                  terakhir tomat.

- Beri garam dan gula, tunggu hingga                sambal matang. Tes rasa. Angkat, dan            sambal siap dihidangkan.

Sambal ini bisa tahan selama 2 hari, dan bisa lebih jika rutin dipanaskan. Biasanya, aku bikin agak banyak supaya tahan minimal sampai satu minggu. Sebagai antisipasi kalau malas buat sambal.

Selamat mencoba dan semoga bloggers dan seluruh anggota keluarga selalu sehat, ya. Salam!

Sumber Foto : pexel.com dan koleksi pribadi

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community
#day5



Sunday, January 06, 2019 No komentar
Hai, Bloggers!

Postingan kali ini masih tentang durian kok, ya. Mumpung masih musimnya. Meskipun di pasar jumlahnya sudah berkurang banyak, tapi masih ada, kok, satu dua orang yang jual. Serunya, ide cerita mengenai si buah musiman ini, ternyata belum habis juga.

Bedanya, kali ini aku akan mengangkat 3 olahan durian yang menjadi makanan kesukaanku. Bukan yang umum dijumpai orang kebanyakan. Hanya fokus pada 3 macam olahan yang kusukai saja. Apa saja 3 olahan yang di maksud, jawabannya sebagai berikut:

1. Dempok/ lempok durian.

Dempok atau biasa dikenal dengan lempok adalah cara lain menikmati durian. Penganan berbahan hanya durian ini berbentuk seperti dodol. Kalau di kampung kami dempok durian dibuat tanpa menggunakan bahan tambahan apa pun seperti tepung dan gula. Hanya menggunakan durian saja.


Cara membuatnya pun sangat gampang. Daging  buah durian hanya tinggal di masak sampai mengental dan berbentuk seperti dodol. Setelah dingin baru dikemas.

Dulu, kalau musim durian. Nenek sama Datokku pasti pergi ke hutan buat mencari buah. Biasanya, mereka membuat pondok di area dekat pohon durian yang diincar, dan menginap di sana hingga 2 minggu lamanya. Tujuannya, supaya bisa mendapatkan durian, layung maupun ketungen sebanyak-banyaknya buat dibikin dempok ini. Hasilnya, berkilo-kilo dempok diperoleh, lumayanlah buat persediaan selama beberapa waktu.

Dempok umunya dimakan langsung begitu saja, tapi, sebagian orang ada juga yang membuatnya menjadi kudapan teman minum teh. Caranya sangat gampang. Dempok di campur tepung terigu kemudian di goreng, seperti membuat pisang goreng. Rasanya enak juga, loh.

2. Tempuyak/ tempoyak

Tempuyak ini juga salah satu cara menikmati durian. Terbuatnya dari durian masak yang di fermentasi. Rasanya, kecut-kecut manis. Umumnya, tempuyak ini dijadikan sambel teman makan. Ada yang langsung di makan begitu saja cuma ditambah cabe dan bawang merah. Kalau aku sukanya yang ditumis, pakai bawang merah, bawang putih dan cabe. Rasanya endeus banget. Tapi, apa pun pilihannya tergantung selera saja.


3. Bubur Kacang Hijau Durian

Ini juga salah satu kesukaanku. Bubur kacang hijau campur durian. Memang, bukan cuma durian yang umum dijadikan campuran bubur kacang hijau. Layung juga enak. Hanya saja, karena durian yang paling mudah ditemukan. Makanya, kami lebih sering menggunakan durian sebagai tambahan si bubur. Paduan antara santan, gula merah, kacang hijau dan durian. Menghasilkan cita rasa gurih dan wangi. Rasanya yummy banget dah.


Nah, itu 3 olahan durian yang menjadi favoritku. Bagi yang ingin mencicipi bisa membuatnya sendiri atau membeli di pasar. Sudah banyak, kok, yang jual dempok atau tempuyak siap olah. Tinggal  dikreasikan sesuai selera saja, ya.

Sumber foto :Cookpad.com

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community

#day3


Thursday, January 03, 2019 No komentar
Tahun ini sedikit istimewa dibanding tahun sebelumnya, karena bukan hanya jumlah durian yang membludak. Tapi, keberadaan buah-buahan seperti layung dan ketungen/karantungan, yang terlihat lebih banyak dibanding biasanya.

Berkesempatan bertemu lagi dengan buah-buahan ini, membuat aku sangat gembira. Mengingatkanku pada kenangan masa lalu, ketika masih kanak-kanak. Saat itu aku ingat, buah layung maupun karantungan tidak seperti sekarang, masih sering dijumpai. Tinggal pergi ke hutan, berjaga di bawah pohonnya menunggu jatuhnya si buah incaran, kita pasti akan puas memakan buah-buahan tersebut. Tak perlu membayar, karena semuanya gratis.

Aku ingat, aku kurang begitu suka mencicipi buah ketungen. Walaupun dagingnya tebal, menurutku aromanya yang langu dan rasanya terlampau gurih. Membuat cepat eneg tiap habis memakannya. Makanya, buah ketungen tidak termasuk buah favoritku. Kecuali yang sudah jadi dempok/lempok.


Sebaliknya, aku suka sekali dengan buah layung. Kendati daging buahnya sangat tipis, aku tetap menyukainya. Alasannya, aku tergila-gila sama wanginya. Memang di antara durian dan sepupu-sepupunya, durian, layung, karantungan dan paken atau buah lai. Buah layunglah yang wanginya paling kuat. Selain di makan begitu saja, layung juga paling enak dijadikan campuran bubur kacang hijau. Harumnya menguar kemana-mana.

Makanya, ketika ketemu lagi buah-buahan, ada yang hampir 20 tahun tak pernah lagi dicicipi ini, aku langsung beli. Hanya berani beli sebiji buah karantungan, karena takut perasaanku terhadapnya masih sama seperti dulu. Kurang suka sama aromanya. Hasilnya, weh, dikira indra pencicipku sudah lupa sama rasanya, ternyata tidak. Meskipun dagingnya tebal, perasaanku terhadapnya masih belum berubah, aku begidik saat mencicipinya. Rupanya, aku belum kunjung menyukai buah ini.

Sementara berbeda halnya dengan layung. Saat tiba di rumah dari membeli buah ini. Aku langsung saja memakannya tanpa mengajak siapapun. Kebetulan, aku tahu persis, suamiku kurang suka buah layung. Baginya, sewangi apapun aroma layung, dan setebal apapun daging buah ketungen, atau paken, tetap tidak ada yang mengalahkan enaknya rasa durian. Baginya, durian tetaplah is the best di hati. Artinya, aku boleh banget menikmati buah layung sendirian. Hehe!

Layung, masih sama seperti dulu. Daging buahnya tetap tipis, dan belum ada keajaiban tiba-tiba berubah menjadi setebal durian. Syukurnya, kenyataan ini tak terlalu menjadi masalah buatku, yang memang lebih mencintai aromanya ketimbang rasanya. Baunya yang semerbak mewangi seharum kenangan masa lalu. Menghangatkan hati karena tetap membuatku terhubung dengan akar budaya dari mana diri ini berasal.

Semoga tahun-tahun mendatang masih bisa mencicipi buah-buahan ini.

#postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one post bersama Estrilook Community

#day2



Wednesday, January 02, 2019 5 komentar
Hai, Bloggers!

Di Muara Teweh lagi banjir durian. Di mana-mana ada durian. Semua dijual dengan harga yang bervariasi, antara Rp. 5000,-/ buah, hingga Rp.20.000/buah.

Bahkan, menurut tetangga seberang rumah, yang tahun ini ikutan latah menjadi penjual durian. Harga durian di kampung lebih mengejutkan lagi, yaitu cuma Rp. 1500,- saja/ buah. Saingan sama harga bayam, atau kangkung. Betul-betul tak berharga sama sekali

Makanya, jika di tahun-tahun sebelumnya, setiap kami beli durian paling 2-3 buah saja sekali beli, untuk tahun ini, sekali beli minimal 4 buah. Murah banget soalnya. Sampai aku yang biasanya paling kuat makan sebuah sehari, tahun ini makannya bisa sampai 2 buah sehari. Alasannya, mumpung murah, sayang dong kalau makannya cuma sedikit.

Sayangnya, putra semata wayang kami, Danish, enggak suka durian. Jangankan mau mencicip, mencium baunya saja dia mengeluh, "Aduh, Mamak, pusing kepalaku cium bau durian ini" protesnya kesal. Membuatku tak bisa menahan diri intuk menggodanya. "Mamak makan durian, ah! Abis itu baru cium, Danish" ujarku sambil tertawa. Kontan saja dia berlari menjauh sambil menjerit-jerit. "Enggak mau dicium, jangan!" Katanya. Ketidaksukaan Danish pada durian ini, juga sering menjadi bulan-bulanan mertua dan ipar-iparku. Mereka sengaja mencolek sedikit durian, kemudian dioles di bibir Danish. Alhasil yang bersangkutan kesal bukan kepalang. Hehe!

Tapi ada enggak enaknya juga, sejak banjir durian. Jadi kesulitan mendapatkan ikan, karena hampir semua penjual ikan yang biasa, pindah profesi menjadi pedagang durian. Aduh! Agak sedikit merepotkan kalau begini ceritanya. Masa, lauk makan harus diganti durian?

Mengakibatkan harga ikan mahal dan pilihannya pun tidak banyak. Kalau biasanya, ikan sungai besar berbagai varian seperti jelawat, patin, lawang, lais, pipih, tapah, dan lain sebagainya mudah dijumpai. Saat ini, ikan-ikan tersebut macam menghilang dari dunia. Entah migrasi kemana. Hanya ikan laut saja yang tersisa, itu pun dengan kondisi sudah tak segar lagi, mengingat Muara Teweh sangat jauh dari laut.

Untungnya, musim durian tidak terjadi sepanjang tahun. Jadi, meskipun harga ikan pepuyu 1/2kg lebih mahal dari durian 1/2 lusin. Ya, dinikmati saja. Ikannya dibeli saja walaupun mahal, dan jangan lupa nikmati juga pesta duriannya, mumpung jumlahnya membludak dan harganya yang murah. Belum tentu tahun-tahun mendatang harganya semurah ini. Iya, kan?!

#postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community.

#Day1



Tuesday, January 01, 2019 6 komentar
3. Terong Asam

Salah satu sayuran kampung tempo dulu yang masih ada si Muara Teweh adalah terong asam.


Terong asam atau suku dayak menyebutnya dengan rimbang, seperti namanya terong asam memang terasa asam atau kecut. Biasanya, untuk mengatur tingkat keasaman bisa dengan membuang bijinya. Semakin banyak bijinya dibuang, rasa asamnya semakin berkurang.

Cara mengolahnya agar menjadi sayur yang lezat tergantung selera saja.

Kalau aku lebih suka terong asamanya disayur bening saja, ditambah bawang pasir plus ikan air tawar segar. Dijamin, perpaduan manisnya daging ikan dan rasa sayurnya yang asam akan menghasilkan cita rasa segar dan menggugah selera.

Tak hanya disayur bening, terkadang ditumis dengan sulur keladi terong asam juga cocok.

4. Bawang Pasir

Orang Batak menyebut bawang ini sebagai bawang Batak. Sedangkan suku paser, Kalimantan Timur menyebut bawang ini sebagai bawang paser.

Dulu, bawang paser ini hanya terdapat di ladang saja, makanya setiap melihat atau mencicip bawang ini rasanya nikmat banget. Ya, rasa dan aromanya. Ya, kenangannya. Apalagi jika dibuat sambel bersama tomat buah kecil. Wah! Rasanya semakin mantap

Makanya, kalau lagi malas bikin sambel yang diulek, aku sengaja bikin sambel rajang, dengan bahan-bahan seperti tomat, cabai, bawang merah dan bawang pasir yang semuanya di rajang. Rasanya, enak banget. Silakan dicoba, ya.

#Golde-day3



Tuesday, November 06, 2018 No komentar
Sudah berhari-hari, aku malas bikin sambel. Alasannya, berulang kali buat sambel selalu nggak habis. Ujung-unjungnya selalu dibuang. Rasanya sayang banget. Macam buang tomat, cabai, garam dan bawang dengan percuma.

Serba salah memang. Bikin sambel terbuang percuma, tidak nyambel gantian makannya terasa kurang nikmat.

Untungnya, selalu ada cara menikmati pedasnya cabai dengan nikmat. Yaitu, dengan membuat cacapan.

Cacapan adalah teman makan nasi sejenis acar bawang. Umumnya, sebagai cocolan ikan atau lauk sejenis lainnya. Bahan utamanya bisa mangga muda, binjai, atau asam jawa.

Cara membuatnya cukup mudah. Bawang merah diiris tipis di campur cabai, asam jawa atau buah mangga muda dan air. Kemudian diremas hingga layu. Cacapan siang dinikmati bersama lauk dan nasi. Rasanya? Pokoknya endes banget, dah!

Photo Credit by: www.pexels.com

#Golde-day2

Monday, November 05, 2018 No komentar
Setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Mulai dari adat istiadat hingga kulinernya. Ciri khas yang ada adalah identitas budaya setempat, yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Sebagai contoh mandai.


Mandai adalah, kuliner dari kulit cempedak yang di fermentasi. Cara mengolahnya, tergantung selera saja. Ada yang hanya di goreng seperti menggoreng ikan. Ada juga yang di suwir halus kemudian ditumis bersama bumbu-bumbu, atau bahkan di goreng tepung macam menggoreng ayam tepung. Suka-suka yang buat saja lah.

Mandai ini, kuliner primadona segala zaman dan usia bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Rasanya khas perpaduan antara gurih dan sedikit asam, menerbitkan selera makan. Tak heran, orang yang tadinya hilang nafsu makan, biasanya, tiba-tiba makan dengan lahap setelah ditemani lauk mandai ini.

Meskipun, inovasi kuliner tiada henti dengan berbagai menu-menu baru, yang menggugah selera. Tetap saja tak ada yang mampu menggeser posisi mandai ini dari hati orang Banjar, tua muda, kaya miskin hampir semua orang menyukai mandai.

Makanan khas orang Banjar, Kalimantan Selatan ini.

Oke. Salam mandai ya

#Golde-1






Sunday, November 04, 2018 No komentar
Salah satu resep kesukaan duo lelakiku  di rumah, adalah sup tulang. Sup tulang menu andalan penggugah selera, sangat tepat disantap pada saat musim hujan begini. Apalagi saat badan lelah, dan daya tahan tubuh menurun akibat perjalanan jauh, atau perubahan cuaca yang ekstrim. Tak diragukan lagi, sup tulang adalah pilihan pas untuk memulihkan semangat.


Sebenarnya, banyak aja warung makan yang jual sup tulang ini. Tapi, aku lebih senang membuatnya sendiri di rumah. Selain, terjamin kebersihannya, harganya pun jauh lebih ekonomis. Dengan dana tidak sampai Rp. 100.000 cukup untuk bikin sepanci sup tulang buat orang serumahan. Hemat, kan? 

Oke, mari langsung saja kita praktek membuat sup tulang seperti berikut ini.

Siapkan bahan-bahan, seperti :

- 1/2 kg tulang iga sapi. Pilih yang banyak dagingnya, ya.
- 1/4 kg kentang. Potong dadu
- 1/4 kg wortel
- 1 bungkus sohun
- Tomat hijau 3 buah

Bumbu yang di haluskan: 

- 10 siung bawang merah
- 10 siung bawang putih
- 1/2 sdt lada bubuk
- seruas ibu jari jahe
- 1/4 biji pala

Bahan-bahan yang di cemplungkan kedalam kuah :

- 5 biji pekak
- 3 biji kapulaga
- 3 butir cengkeh
- secukupnya adas manis, pedas, merica butiran

- 1 batang bawang prei
- satu ikat daun seledri
- Bawang goreng
- kecap manis
-1 buah jeruk nipis
- cabe untuk membuat sambel

Cara Membuat : 
1. Didihkan air, rebus tulang sebentar kemudian buang airnya. Rebus tulang dengan air yang baru dengan mencemplungkan rempah-rempah seperti pekak, cengkeh, kapulaga, adas manis, pedas yang sudah dibuat di dalam wadah khusus.

2. Tumis bumbu yang dihaluskan sampai wangi. Tunggu sampai kuah mendidih masukan bumbu. Masak hingga daging empuk

3. Masukan wortel dan kentang, masak hingga kuah mendidih, masukan tomat dan bawang prei, kemudian tunggu hingga semuanya matang

4. Hidangkan sup tulang dengan sohun, seledri, taburan bawang goreng, jeruk nipis dan sambel.

Sup siap dinikmati.

Selamat mencoba, ya.

# postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community





Tuesday, October 30, 2018 No komentar
Akhirnya jadi juga bikin donat untuk Danish. Padahal berjanjinya sejak dua hari lalu. Berhubung bahan-bahannya belum tersedia, ditambah si emak lagi terserang virus malas. Membuat eksekusi pembuatan donatnya baru dilakukan hari ini.


Semoga hasilnya tak mengecewakan.

Mengingat riwayat bebikinanku yang sering gagal. Aku harus menyiapkan hati, menghadapi segala kemungkinan. Jangan sampai gara-gara membikin donat justru terkena hipertensi.

Dulu, kupikir nge-baking itu mudah saja. Kurang lebih sama lah dengan belajar memasak. Yang penting bahan dan takarannya pas, pasti sukses. Pada prakteknya, tidak semudah yang kubayangkan juga. Nyatanya, tak terhitung berapa kali percobaanku gagal.

Hitung saja, sudah tiga kali membuat bolu gulung, hasilnya selalu tak sesuai harapan. Macam-macam problemnya, letak oven yang miring lah, durasi memanggangnya kurang lama lah, sampai kebanyakan mengolesi topping mengakibatkan rasa yang kelewat manis.

Itu belum termasuk dua kali gagal bikin cake orange. Membuat teman yang memberikan resep berseloroh, sedih ngeliat cake kesukaan anak-anaknya dirusak oleh tanganku. Hehe.


Dan masih banyak lagi yang gagal.

Padahal semua instruksi pembuatan sudah mengikuti perintah. Entah mengapa ada saja salahnya. Rasanya, mau menangis bergulung-gulung, dah. Lelah mental, bah!

Untungnya, pembuatan donat malam ini cukup sukses. Walaupun penampakannya kurang cantik, setidaknya adonan yang mengembang dengan baik, menghasilkan donat yang renyah.

Ya, lumayan lah!

#Postingan ini diikutsertakan pada one day one posting bersama Estrilook Community


Saturday, October 20, 2018 2 komentar
Hallo, dears!

Kemaren, Danish dan abahnya kurang semangat makan. Rupanya, menu ikan tuna di masak kuning, yang kubuat kurang membangkitkan selera mereka. Di tambah, tidak tersedianya sayur berkuah, membuat si abah hanya makan sekedarnya saja.



Si Danish parah lagi. Sarapan pagi cuma sekitar 6 suap, nggak mau nambah lagi. Meskipun sudah di bujuk-bujuk dia tetap bersikeras berhenti makan. Bahkan, keengganannya bertahan hingga malam hari.

Aduh. Pasti gara-gara menunya bukan seleranya! Memang, sudah berapa kali Danish minta dibuatkan udang goreng tepung, tapi karena si emaknya yang sok sibuk, lupa terus meluluskan permintaannya itu.

Kejadianlah, ya. Seharian dia cuma makan sekali saja. Itu pun cuma sedikit. Padahal, biasanya Danish makan 2-3x sehari.

Untungnya, si abah membelikan kue terang bulan (martabak manis) dan martabak telor. Lumayanlah, buat cemilan kami dan pengisi perut Danish yang lagi mogok makan nasi.


Demi memulihkan selera dua lelakiku itu, aku bertanya kepada si abah. Besok minta dibuatkan sayur apa?

Sayur karuh aja, kata abah, plus jangan lupa belikan ikan patin sungai, buat campuran sayur supaya rasanya lebih mantap.

Okelah. Hari ini si emak ke pasar untuk membeli bahan-bahan sayur karuh.

Setelah hunting sana sini, berhasil juga menemukan jantung pisang, kangkung dan ubi keladi.

Biasanya, jenis sayuran untuk membuat sayur karuh itu terdiri dari, jantung pisang, kangkung, ubi keladi atau singkong dan daun susuban. Sayangnya, daun susubannya nggak ada yang jual. Jadi, bagiannya susuban di skip saja.

Memang sudah rezeki, ikan patin sungai pesanannya abah kebetulan lagi ada, dengan harga lebih murah pula dibanding 3 hari lalu. Yaitu, hanya Rp. 100.000,-/kg, sedangkan beberapa hari sebelumnya, harganya Rp 150.000,-/kg

Ikan patin sungai memang lebih mahal dibanding yang budidaya, tapi harga segitu sesuai saja dengan keadaanya, dagingnya manis dan aromanya, sama sekali tidak amis. Makanya, meskipun harganya lebih mahal, patin sungai tetap diburu warga Muara Teweh.
Sedangkan untuk bumbu sayur karuhnya, aku menggunakan bawang merah, bawang putih, kunyit sedikit, laos di geprek, sereh di geprek, sedikit terasi dan setengah biji buah keminting.

Semua bumbu di haluskan kecuali yang di geprek, kemudian dimasukan ke dalam panci yang sudah terisi jantung pisang, ubi keladi, 2 fillet ikan patin sungai, dan santan encer. Masak sampai mendidih, masukkan santan kental dan kangkung, garam dan gula, tunggu hingga matang, tes rasa, selesai.

Jadilah, sayur karuh salah satu menu favorit si abah.


Oke, semua. Enjoy your meals ya...

#Postingan ini diikutsertakan pada one day one posting bersama Estrilook Community




Thursday, October 18, 2018 No komentar
Hallo Blogger...

Dua hari yang lalu, seperti biasa aku pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Salah satu dari sekian hal, yang menyenangkan tinggal di Teweh , kita masih bisa ketemu beberapa jenis sayuran tempo dulu. Sayuran yang biasa di konsumsi saat masih kecil, yang saat ini keberadaannya sudah mulai langka. Walaupun tidak semua sayuran itu disukai, tetap saja aku suka melihatnya. Bagiku, ini bukan hanya soal rasanya, melainkan cerita dan kenangan dibaliknya yang berharga.

Baiklah. Di bawah ini ada beberapa jenis sayuran masa lalu, yang syukurnya masih bisa kutemui saat ini. Diantaranya:

1. Umbut Jua



Sebagian orang  ada yang menyebut umbut jua ini sebagai umbut rotan. Tapi kalau di kampung kami, orang-orang biasa menyebutnya umbut jua. Umbut ini rasanya pahit banget, ya. Pahitnya sengak.Tapi entah kenapa banyak yang suka, terutama para tetua.

Cara mengolahnya sederhana saja, ada yang di sayur dengan bumbu-bumbu atau hanya di tumis biasa. Kalau dikeluarga kami, biasanya cuma di tumis pake bawang merah dan putih saja. Para orang tua nggak suka diberi banyak bumbu. Katanya, sih, takut menenggelamkan rasa asli dari si umbut. Apa itu alasan yang sebenarnya, entahlah! Hanya Allah dan mereka yang tahu.

Anehnya, menurut mamak dan nenek ada rasa manis dibalik kepahitan rasanya. Pernyataan yang sukses membuat aku tak habis pikir. Manis apanya. Lha wong, pahitnya begitu. Di mana letak manisnya?

Suatu ketika, untuk membuktikan omongannya mamak dan nenek, aku mencoba memasak si umbut sendiri. Sebelumnya, aku memang belum pernah memberi kesempatan si pahit ini masuk dalam daftar hidanganku. Alasannya, ya, karena nggak kuat sama rasa pahitnya. Aku sengaja menambah cabe yang banyak, maksudnya untuk mengurangi rasa pahitnya. Pas di icip. Ah! Dikira pahitnya berkurang. Ternyata, tetap aja sengak. Suamiku bahkan cuma menyantap secubit dua cubit, nggak mau nambah lagi. Menurutnya, aku kurang berhasil membuat si umbut layak di makan. Di tanganku taste-nya malah semakin ancur. Aduhai!

2. Sawi Pahit (Jabung)

Aku suka sawi. Tapi, dari semua variannya, sawi pahit ini yang ter-favorit. Kalau di kampungku, kami menyebutnya jabung.

Jabung ini rasanya pahit tapi tak sepahit umbut jua. Kurang lebih seperti pare aja. Jadi, pahitnya masih enak lah.

Dulu, waktu zaman aku masih kecil, kami tidak setiap saat bisa mengkonsumsi jabung ini. Ada semacam kebiasaan tak tertulis, jabung, bayam, bayam merah dan jagung adalah sayuran yang di tanam berbarengan dengan saat menugal saja. Entah mengapa hampir tak ada  (kalau pun ada, hanya satu dua orang) orang kampung kami yang menanam sayur-sayuran ini diluar jadwal berladang padi. Makanya, sayur-sayuran ini identik dengan sayuran ladang.

Dan bagiku, jabung ini tak hanya sekedar hidangan pelengkap nasi, lebih dari pada itu, menyantapnya membuat aku tetap terhubung dengan kenangan indah masa lalu. Masa kanak-kanak, saat sering bermain di ladang atau hutan.

Untuk cara mengolah jabung ini gampang ya, tinggal di lalap mentah, di rebus atau di tumis. Dan jangan lupa banyakin cabe pas numisnya, di jamin rasanya enak banget.


Okeh. Untuk sementara, sayuran kampung dan cerita dibaliknya yang di ekspos, cuma dua macam aja, ya, sisanya insyaallah di lanjut lain kali...

Emak mau istirahat dulu

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community
Wednesday, October 17, 2018 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose