facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Postingan hari ke-31 ini, masih tentang ulah penghuni kelas rusuh yang suka usil terhadap para guru. Sepertinya, hanya guru-guru tertentu yang selamat dari keusilan kami.

Fani, Ma'u dan aku. Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Di antara yang selamat, sebut saja ibu Hesti Handayani guru bahasa Inggris. Hampir semua penghuni kelas rusuh segan terhadap si ibu, sehingga beliau aman dari kejailan kami. Alasannya, entah karena pelajaran bahasa Inggris sulit dikuasai yang membuat kami takut berbuat macam-macam terhadap beliau.

Berikutnya yang selamat tentu saja pak Santoso Adi sang kepala sekolah. Alasannya sudah jelas, karena beliau kepala sekolah, di samping ia juga orang yang tegas. Seganas-ganasnya kami tak ada seorang pun yang punya nyali berhadapan dengan beliau.

Bayangkan saja, setiap pelajaran matematika kelas ips yang biasanya berisik jadi sunyi dan damai. Sepertinya kami semua takut sama kepada beliau.

Lihat saja kalau beliau menerangkan kami semua diam dan sok memperhatikan. Padahal mengerti apa yang ia bahas juga enggak. Beda sekali ketika beliau keluar ruangan barulah tampak tabiat kami yang sebenarnya, semuanya melepaskan napas lega, dan sisanya ada juga yang terengah-engah macam sehabis dikejar-kejar binatang buas.

Begitulah sikap kami terhadap pak Santoso, jangankan hendak mengusili atau mengerjai, melempar canda saja kami pikir-pikir. Takut kalo salah terus beliau jadi murka. Padahal, memarahi kami habis-habisan saja beliau tidak pernah. Entah mengapa kami takut sekali sama pak Santoso.

Itulah di antara guru pelajaran umum yang selamat dari keusilan kami. Sementara sisanya, ya, begitu deh. Contohnya nasib bu Sri, dan pak Ali Minaryo.

Kalau ibu Sri guru bahasa Indonesia pernah juga jadi korban kenakalan kami. Pelakunya, temanku si Fani. Kebetulan dinding penghubung kelas kami ada yang bolong.

Nah, kesempatanlah keadaan itu bagi Fani mengerjai ibu Sri. Sebelum melancarkan niat nakalnya Fani sudah bersekongkol dengan Muhammad Taufik adik kelas kami, penghuni kelas sebelah yang tempat duduknya berdempetan dengan lubang di dinding itu.

Jadi, oleh Fani kursinya ibu Sri sengaja di letakkan di dinding yang bolong tersebut, dan saat Fani berteriak 'cucuk' itu tandanya M. Taufik harus melancarkan serangan dengan mencucuk tubuh bagian belakang beliau dengan lidi. 'Cucuk' kata Fani berulang kali. Cucuk, cucuk, cucuk. Untungnya, ibu Sri segera sadar dan memindahkan tempat duduknya menjauh dari lubang itu. Selamatlah beliau dari perkara cucuk-cucuk itu.

Lain ibu Sri lain lagi nasib pak Ali Minaryo. Kejadiannya saat mata pelajaran tata negara. Akibat mata yang mengantuk dan bosan, aku sengaja minta izin keluar ruangan. Maksud hati hanya ingin menyegarkan diri, tapi lama kelamaan jadi semakin malas kembali ke kelas alias ingin bolos saja.

Supaya tak merasa bersalah aku sengaja pergi ke perpustakaan, mikirnya kalo enggak baca buku, ya, tidur-tiduran. Tak lama kemudian satu demi satu teman-teman sekelasku mengikutiku ke perpustakaan juga, sampai akhirnya menuruti rasa penasaran, aku menengok ke arah kelas. Firasatku Betul adanya. Tak ada satu pun murid tertinggal di sana karena semuanya keluar kelas, yang tersisa hanya pak Ali Minaryo seorang yang duduk tenang di mejanya.

Ya, begitulah kelakuan kelas tiga IPS. Semoga bapak dan ibu guru yang pernah menjadi sasaran kenakalan kami selalu mendapat Rahmat dan Ridho Allah, tetap sehat serta hidup bahagia dunia dan akhirat. Aamiin.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan Odop bersama Estrilook Community

#day31


Friday, February 01, 2019 No komentar
Kelas kami mendapat tugas mengisi majalah dinding sekolah. Mengetahui hal tersebut kami pun berbagi tugas. Ada yang menulis salam redaksi, membuat artikel, humor, pojok mading, anekdot, tips menarik, opini, info unik, puisi, cerpen, cerbung dan lain sebagainya.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Aku menawarkan diri menulis cerpen fiksi yang kuberi judul Balada Anak Kelas Dua. Dengan mengambil setting suasana belajar kelas kami. Di kelas dua IPS, dan menggunakan nama-nama temanku sebagai tokohnya.

Ya, namanya saja cerita fiksi, bukan kisah nyata. Idenya boleh jadi diambil dari kisah nyata, tapi ceritanya sendiri sudah banyak mengalami penambahan agar tercipta efek dramatis bagi pembacanya.

Nah, pada bagian-bagian tertentu aku menggambarkan si tokoh utama sebagai orang yang tidak cerdas. Narasinya kubuat seperti ini 'Totok memperlihatkan wajah blo'on-nya yang khas'

Tak disangka kalimat tersebut memicu kemarahan dari teman kelasku yang bernama Totok. Memang, nama tokoh utama ceritaku adalah si Totok. Akibat merasa tersinggung ia pun merobek sebagian cerpenku yang sudah terpampang di mading sekolah.

Karuan saja, perbuatan Totok ini membuat teman yang lain murka. Mereka marah karena melihat cerpenku yang disobek dengan semena-mena oleh si Totok. Padahal teman-teman merasa sudah bersusah payah menerbitkan mading tersebut.

Perseteruan tak terhindarkan, dan perang mulut antara teman-temanku dan Totok berlangsung sengit. Dari gayanya kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak merasa bahwa diri mereka lah yang paling benar. 

Sampai akhirnya berita mengenai percekcokan ini sampai ke telinga kepala sekolah. Akhirnya, kami semua pun dipanggil kepala sekolah agar berkumpul pada pertemuan OSIS, maksud beliau mungkin menyidangkan pihak-pihak yang berseteru. Berarti persidangan ini digelar untuk mendamaikan antara aku dan teman-temanku melawan Totok.

Ada kejadian lucu. Sebelum sidang dimulai, salah seorang adik kelas bernama Daud Yusuf berujar kepada Totok “Jangan khawatir, Tok. Nanti kalo pas sidang aku akan membela dirimu mati-matian,” ujarnya memberi dukungan kepada Totok, sambil tersenyum menenangkan

Tak lama berselang usai berkata begitu, datanglah rombongan teman-temanku, Rahmawati Umar, Rahmawati Rahman dan Nurjannah Daud. Mereka ini teman-teman yang sangat marah melihat perbuatan Totok. Kedatangan mereka memberi efek kehebohan. Soalnya, belum masuk ke dalam ruangan baru di pintu saja, mereka sudah mulai ngomel-ngomel panjang lebar, menyemprot Totok dengan kalimat-kalimat menyalahkan, menghardik dengan tensi kemarahan yang tinggi.

Tak mau kalah Totok balas menyerang. Mempertahankan pendapat, mati-matian bersikukuh perbuatannya tersebut adalah tindakan, yang diambil dalam rangka membela kehormatan dirinya yang sudah diinjak-injak olehku. 

Oh, lihatlah wajah Daud Yusuf yang tadinya sempat menawarkan pembelaan kepada Totok. Jangankan membela Totok, bersuara saja ia tak mampu. Ia hanya duduk sambil meringis di samping Totok. Sebagai pembaca situasi ia termasuk cerdas karena mundur sebelum bertanding. Ia paham ini adalah pertempuran yang tak mungkin dimenangkan olehnya.

Boleh dibilang, dibanding kemarahan teman-teman, kemarahanku sebagai pengarang cerpen yang sudah di robek malah kurang ganas. Entahlah, melihat perdebatan sengit antara Totok dan teman-teman justru membuatku meringis. Ya, bingung. Ya, mau ketawa.

Selain dua grup yang saling bersahutan tersebut, kami yang berada di ruangan itu hanya bisa menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Kadang melihat ke arah Totok. Kadang melihat ke arah teman-temanku, persis adegan film kokos Tweety menonton pertandingan tenis antara beruang dan harimau. Tengok kiri, tengok ke kanan. Iya, hajar terus *Wkwkwk*

Untungnya, tak lama pak kepala sekolah memasuki ruangan, sehingga suasana dapat sedikit terkendali.

Intinya, pak Santoso tidak membelaku maupun Totok. Demi menenangkan Totok, pak Santoso mengatakan bahwa ceritaku hanya lah fiktif belaka, tak perlu merasa tersinggung.

Sedangkan kepadaku pak Santoso berpesan teruslah berkarya tapi tetap harus berhati-hati. Sebaiknya sebelum menerbitkan karya fiksi dengan tokoh-tokoh yang nyata, kasih pemberitahuan terlebih dahulu bahwa tulisan ini hanya lah fiktif belaka.

Demikianlah peristiwa cerpen yang menghebohkan itu, menjadi kenangan yang konyol dan lucu buat kami semua.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day 30


Wednesday, January 30, 2019 No komentar
Namanya saja kelas rusuh, bisa dipastikan tingkah laku penghuninya kurang lebih saja seperti namanya. Rusuh juga. Itulah kelas tiga IPS. Sepertinya sebagian besar penghuni kelas ini mempunyai struktur otak yang ora umum, makanya tingkah lakunya sering bikin geleng-geleng kepala para guru.

Kelas 3 IPS. Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Tak alang tanggung sampai kepala sekolah juga ikutan dibuat geleng-geleng kepala ini. Ceritanya, beliau masuk kelas kami untuk memberi motivasi belajar, karena salah satu guru tidak masuk sekolah.

Hal pertama yang beliau lakukan adalah mengecek kehadiran kami. Malang buat beliau buku absennya menghilang entah kemana. jadi untuk mengetahui nama kami satu persatu, ia menggunakan nama yang tertera pada daftar piket kebersihan kelas. Alangkah terkejutnya beliau saat melihat daftar tersebut. Tak satu pun nama yang ditulis di situ ia kenali. Semuanya asing dan terlihat aneh.

Si bapak akhirnya bertanya “Ini nama-nama siapa, kok saya tidak ada yang kenal satu pun,” Kata beliau

“Nama kami, Pak” ujar kami hampir serempak dan mantap.

“Nama siapa? Maksudnya gimana ini?” beliau terus saja menuntut penjelasan kami.

Akhirnya, beberapa dari kami memberi penjelasan bahwa, nama yang tertulis pada daftar tersebut memang nama kami. Tapi, hanya berupa penggalannya saja. Ada sebagian nama yang dibalik dulu baru diambil penggalannya. Contohnya namaku Golde Meyer Kindangen, diambil Meyernya baru dibalik menjadi Reyem, dan hasil akhirnya diambillah suku kata Rey sebagai nama yang merujuk pada diriku. Nah, itulah yang ditulis. Mulyani jadi Muli. Rahmawati Umar jadi Ma'u. Budiono jadi Dion. Amir Hamzah jadi Amzah. Muhammad Rifani jadi Ifan. Murniansya jadi Ansyah. Dori Rosita menjadi Idor. Agustin Dewi Trisnawati menjadi Iwed dan lain sebagainya.

Karuan saja jawaban kami membuat si Bapak geleng-geleng kepala. Campuran antara gemas dan takjub akan isi kepala sebagian dari kami, yang kelewat kreatif. Beliau memperlihatkan raut wajah mangkel tapi tak berdaya untuk marah.

Tak hanya pak kepala sekolah tentunya, yang merasa bingung dan aneh soal daftar piket itu, wali kelas kami pak Ali Mansyur pun tak luput terbengong-bengong juga. Menurut beliau ini mungkin nama daftar piket teraneh yang pernah ia temui.

Kreatif sih kreatif. Tapi sayangnya kreatifnya kami tidak disalurkan untuk tujuan yang pasti-pasti saja. Semisal, kreatif menemukan cara menguasai mata pelajaran paling sulit di seantero bumi, yaitu matematika.

Meskipun anak IPS terkenal tak pernah kekurangan akal. Tapi kalau menyangkut pelajaran matematika, entah mengapa mendadak berubah menjadi gagu, gagap dan pendiam semua.

Apalagi yang mengampu mata pelajaran sulit ini adalah pak kepala sekolah, yang terkenal tegas dan disiplin. Wah, jangan tanya, deh, pasti pada aneh melihat kami yang tiba-tiba kalem dan pendiam. Tak ada lagi kicauan berisik, semuanya berubah menjadi sok sibuk ngurek-ngurek kertas mencari jawaban.

Sok sibuk tentunya beda dengan sibuk beneran . Tanya saja ke yang bersangkutan apakah gaya sok mumet mencari jawaban tersebut membuahkan hasil? Pasti sebagian besar jawabannya tidak. Kenyataan yang membuat pak Santoso Adi gemas bukan kepalang. Sampai-sampai beliau
mengeluarkan pernyataan legendarisnya

“Kalian ini macam orang nun jauh di sana”
Ujar beliau sambil menunjuk ke arah gunung, hutan pedalaman nun jauh di mata.

Ekspresi kesal karena sudah dijelaskan berulang kali tapi tetap saja kami enggak mengerti. Mengangguk-angguk seolah-olah mengerti, iya, betulan mengertinya tidak. Mungkin maksud beliau kami macam orang gunung buta huruf yang enggak pernah belajar matematika. Masa dijelaskan sampai berbusa-busa enggak nangkap juga. Begitu kira-kira pendapat beliau. Entahlah ... Hanya beliau dan Allah yang tahu kebenarannya

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan Odop bersama Estrilook Community

#day29

Tuesday, January 29, 2019 No komentar
Aku menuruni tangga menuju kelasku. Saat asyik berjalan, aku berpapasan dengan pak Edi, guru IPA yang kebetulan berstatus masih bujangan.


Sumber Foto. Koleksi Pribadi

“Temanmu yang enggak hadir siapa, Gol?”

Tanya beliau kepadaku. Dari pertanyaan ini aku langsung tahu, bahwa pak Edi pasti sedang piket, dan sepertinya, salah satu tugas guru piket adalah mencatat siswa-siswa yang tidak hadir.

“Enggak tahu, Pak. Bapak cek aja sendiri!”

Jawabku santai, sambil melempar senyum penuh arti.

Tentu aku paham alasan beliau mencegatku begini. Pasti si bapak sedang terserang virus malas, yang ditandai dengan perasaan ingin maju mundur cantik ala lagunya Syahrini, kemudian ditambah si kaki yang terasa berat melangkah menuju kelas kami. Kelas tiga IPS.

Sebenarnya, perasaan enggan yang menghinggapi beliau bisa dipahami. Mengingat, reputasi kelas kami yang sudah terkenal sebagai tempat berkumpulnya murid-murid paling beringas, berisik, banyak mulut, tukang protes, sok tahu, dan suka menindas siapa saja yang lemah*wkwkwk* tidak pernah takut sama guru mana pun kecuali pak Santoso sang kepala sekolah.

Membuat siapa pun termasuk guru-guru berpikir ulang untuk terlibat dengan kami. Kalau enggak penting betul, lebih baik tak pernah berurusan dengan kelas tiga IPS. Takut dengan kami, sih, pastinya enggaklah, ya. Cuma risi dan kesal iya. Apalagi kalau status gurunya masih bujangan. Wah, itu mah santapan empuk buat di macem-macemin *hahaha* dan pak Edi termasuk dalam kelompok ini.

Lihat saja bagaimana nasib beliau saat menjalankan tugasnya sebagai guru piket. Belum juga kakinya melangkah memasuki kelas, kami sudah bersuara begini “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuuh” serempak dan kompak. Padahal, beliau belum mengucap sepatah kata pun, apalagi salam.

Dasarnya otak anak IPS banyak yang mengalami korsleting, demi berhadapan dengan raut wajah beliau, bukannya berlaku sopan penuh tata krama, yang berputar-putar di kepala justru seruan-seruan kurang beradab ini “Hore, ada mainan!”

“Wah, hari ini bapak cakep!”

“Bapak, suit, suit!”

“Ih, baju bapak motifnya ular, gitu, ya,” dan lain sebagainya.

Untungnya, beliau sudah paham lagunya. Alih-alih memarahi kami, si bapak paling juga hanya senyum-senyum doang. Enggak ada gunanya memarahi murid-murid kurang dua ons ini. Mungkin demikian ia membatin. Buang-buang energi saja.

Kalau ingin membuat kami para murid bandel ini anteng mudah saja sebenarnya. Tinggal minta tolong saja sama pak kepala Sekolah agar menambah jam pelajaran matematika. Kombinasi sempurna antara satu-satunya guru yang paling ditakuti, dan mata pelajaran yang tidak dikuasai oleh hampir seluruh siswa, sangat mampu membungkam bahkan mulut paling cerewet sekali pun.

Kendati demikian, bukan berarti kami siswa yang suka berbuat onar dan tidak peduli dengan belajar. Ya, enggak juga. Kami banyak tingkah itu sudah pasti, tapi dalam urusan belajar dan nilai kami justru sangat kompetitif. Bersaingnya malah enggak mengenal batas, sampai teman sebangku pun dianggap sebagai rival juga. Istilahnya, urusan teman kita, yes. Soal nilai kita adalah lawan. Berkompetisi dan saling mengungguli

Ada pun soal sikap kurang sopan yang sering diperlihatkan. Bukan berarti tak hormat. Intinya, kami suka bermanja-manja dengan para guru, dan merasa nyaman bertingkah seaneh apa pun, karena merasa yakin kami tetap disayang walau sering memusingkan.

Yes, that's it. Guru-guru kami adalah orang baik dan hebat. Jejak tangan mereka dalam mendidik, bisa dilihat dari kehidupan murid-murid mereka sekarang, yang sebagian besar hidup baik dan menjadi orang baik. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati guru-guru kami, bukan hanya di dunia tapi hingga ke akhirat kelak. Aamiin.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop

#day23


Thursday, January 24, 2019 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose