Kelas Rusuh!

by - Thursday, January 24, 2019

Aku menuruni tangga menuju kelasku. Saat asyik berjalan, aku berpapasan dengan pak Edi, guru IPA yang kebetulan berstatus masih bujangan.


Sumber Foto. Koleksi Pribadi

“Temanmu yang enggak hadir siapa, Gol?”

Tanya beliau kepadaku. Dari pertanyaan ini aku langsung tahu, bahwa pak Edi pasti sedang piket, dan sepertinya, salah satu tugas guru piket adalah mencatat siswa-siswa yang tidak hadir.

“Enggak tahu, Pak. Bapak cek aja sendiri!”

Jawabku santai, sambil melempar senyum penuh arti.

Tentu aku paham alasan beliau mencegatku begini. Pasti si bapak sedang terserang virus malas, yang ditandai dengan perasaan ingin maju mundur cantik ala lagunya Syahrini, kemudian ditambah si kaki yang terasa berat melangkah menuju kelas kami. Kelas tiga IPS.

Sebenarnya, perasaan enggan yang menghinggapi beliau bisa dipahami. Mengingat, reputasi kelas kami yang sudah terkenal sebagai tempat berkumpulnya murid-murid paling beringas, berisik, banyak mulut, tukang protes, sok tahu, dan suka menindas siapa saja yang lemah*wkwkwk* tidak pernah takut sama guru mana pun kecuali pak Santoso sang kepala sekolah.

Membuat siapa pun termasuk guru-guru berpikir ulang untuk terlibat dengan kami. Kalau enggak penting betul, lebih baik tak pernah berurusan dengan kelas tiga IPS. Takut dengan kami, sih, pastinya enggaklah, ya. Cuma risi dan kesal iya. Apalagi kalau status gurunya masih bujangan. Wah, itu mah santapan empuk buat di macem-macemin *hahaha* dan pak Edi termasuk dalam kelompok ini.

Lihat saja bagaimana nasib beliau saat menjalankan tugasnya sebagai guru piket. Belum juga kakinya melangkah memasuki kelas, kami sudah bersuara begini “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuuh” serempak dan kompak. Padahal, beliau belum mengucap sepatah kata pun, apalagi salam.

Dasarnya otak anak IPS banyak yang mengalami korsleting, demi berhadapan dengan raut wajah beliau, bukannya berlaku sopan penuh tata krama, yang berputar-putar di kepala justru seruan-seruan kurang beradab ini “Hore, ada mainan!”

“Wah, hari ini bapak cakep!”

“Bapak, suit, suit!”

“Ih, baju bapak motifnya ular, gitu, ya,” dan lain sebagainya.

Untungnya, beliau sudah paham lagunya. Alih-alih memarahi kami, si bapak paling juga hanya senyum-senyum doang. Enggak ada gunanya memarahi murid-murid kurang dua ons ini. Mungkin demikian ia membatin. Buang-buang energi saja.

Kalau ingin membuat kami para murid bandel ini anteng mudah saja sebenarnya. Tinggal minta tolong saja sama pak kepala Sekolah agar menambah jam pelajaran matematika. Kombinasi sempurna antara satu-satunya guru yang paling ditakuti, dan mata pelajaran yang tidak dikuasai oleh hampir seluruh siswa, sangat mampu membungkam bahkan mulut paling cerewet sekali pun.

Kendati demikian, bukan berarti kami siswa yang suka berbuat onar dan tidak peduli dengan belajar. Ya, enggak juga. Kami banyak tingkah itu sudah pasti, tapi dalam urusan belajar dan nilai kami justru sangat kompetitif. Bersaingnya malah enggak mengenal batas, sampai teman sebangku pun dianggap sebagai rival juga. Istilahnya, urusan teman kita, yes. Soal nilai kita adalah lawan. Berkompetisi dan saling mengungguli

Ada pun soal sikap kurang sopan yang sering diperlihatkan. Bukan berarti tak hormat. Intinya, kami suka bermanja-manja dengan para guru, dan merasa nyaman bertingkah seaneh apa pun, karena merasa yakin kami tetap disayang walau sering memusingkan.

Yes, that's it. Guru-guru kami adalah orang baik dan hebat. Jejak tangan mereka dalam mendidik, bisa dilihat dari kehidupan murid-murid mereka sekarang, yang sebagian besar hidup baik dan menjadi orang baik. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati guru-guru kami, bukan hanya di dunia tapi hingga ke akhirat kelak. Aamiin.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop

#day23


You May Also Like

0 komentar