Serial Nomaden: Singkawang Part 2

by - Saturday, January 26, 2019

Muhammad Abduh dan Firman Wahyudi tiba bersama istri-istri mereka, dan ternyata istrinya Firman sedang hamil lima bulan. Lumayan jauh perjalanan yang harus ditempuh si ibu hamil, yaitu harus naik pesawat sebanyak dua kali agar sampai di bumi khatulistiwa. Itu baru sampai Pontianak saja, belum besoknya harus ke Singkawang lagi, yang menurut informasi membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalan darat baru tiba di sana. Semoga si ibu dan bayinya sehat saja.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Reuni kecil-kecilan itu terasa menghangatkan hati. Bertemu orang-orang yang kita kenal di tempat baru yang asing, membuat perasaan tidak sendiri lagi.

Aku kenal Abduh sejak kuliah. Meskipun tidak dekat, kami pernah terlibat obrolan sekali-dua di masa lalu. Siapa yang enggak kenal Abduh yang populer, selain wajahnya yang ganteng ia juga cerdas dan seorang aktivis kampus. Setahuku banyak cewek mengidolakannya.

Sedangkan Firman, aku tidak berteman dan belum pernah bertegur sapa, karena Fakultas kami memang berbeda tapi sering melihat wajahnya wara-wiri di kampus. Termasuk istrinya juga, Budi Fithriati, pernah lihat wajahnya tapi enggak pernah teguran. Iya, kami berlima semuanya alumni IAIN Antasari Banjarmasin kecuali Gesty Febriani istrinya Abduh.

Berhubung hari sudah malam dan perut yang mulai keroncongan. Kami memutuskan segera mencari tempat makan  di seputar jalan Imam Bonjol. Ada banyak restoran tersedia, namun kami memutuskan makan di warteg sari laut saja.

Pengalaman pertama bersentuhan dengan kebiasaan berbeda, terjadi saat makan malam ini. Saat itu  beberapa orang dari kami pesan es jeruk, yang ditanggapi oleh pelayannya dengan pertanyaan “Jeruk kecil atau jeruk besar?” ujarnya.

Antara bingung dan rasa ingin tahu. Entah Abduh atau Firman sengaja pesan es jeruk kecil. Tak lama yang ditunggu pun datang. Ternyata yang dimaksud es jeruk kecil adalah es jeruk sambal. Oalah*wkwkwk* dikira varian jeruk yang mana. Aneh saja rasanya melihat jeruk yang biasanya hanya dipakai buat campuran sambal, menjadi minuman. Kalo minum es jeruk nipis, sih, sudah biasa. Jeruk sambal?  Bahkan, sampai saat ini pun lidahku tak kunjung terbiasa.

Setelah kenyang dan puas bertukar cerita, kami pun istirahat, memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan besok hari.

Bersambung ...

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day26



You May Also Like

0 komentar