Balada Nomaden

by - Sunday, January 13, 2019

Hai, Bloggers!

Mau berbagi perasaan dulu, nih, ya...

Sudah menjadi takdir keluarga pengadilan, yang namanya meninggalkan dan ditinggalkan. Hari ini kami memang yang ditinggalkan. Tapi, entah besok, lusa atau setahun dua tahun berikutnya pasti gantian kami yang meninggalkan Muara Teweh. Untuk hari ini, kami berada pada posisi ini. Mengantar keluarga teman yang pindah ke Tamiang Layang, mengikuti suaminya yang bertugas di sana.



Padahal, rasanya baru saja kemarin berkumpul bersama mereka. Berbagi duka dan kesenangan, kesana kemari bersama, dan hari ini harus sudah berpisah. Menempuh jalan hidup masing-masing, membangun kedekatan dan persahabatan dengan orang-orang baru.

Inilah takdir kami, yang menjadi bagian dari keluarga peradilan. Suami yang bekerja di sini, harus mengalami mutasi setiap berapa tahun sekali, mengakibatkan hidup kami  harus pindah kesana-kemari.

Ada suka dukanya tentu saja. Sukanya, keluarga kami salah satu yang beruntung bisa menginjakkan kaki ke banyak daerah di Indonesia ini. Berkesempatan kenalan dengan banyak orang, mempunyai keluarga baru di mana-mana, bersentuhan dengan budaya tertentu, mencicipi kuliner berbeda, dan lain-lain.

Namun, ada dukanya juga. Salah satunya, ya, ditinggalkan dan meninggalkan ini. Bagaimana tidak, baru saja rasanya akrab sudah harus berpisah. Sementara, bertemu orang baru kita harus mulai dari bawah lagi, penyesuaian lagi. Rasanya, kadang sangat melelahkan harus menyesuaikan diri terus-menerus dengan orang baru.

Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Inilah konsekuensi punya suami berprofesi sebagai hakim. Tetap harus bersyukur, walaupun tak bisa punya harta banyak, enggak bisa koleksi tupperware, beli rumah belum tentu ditinggali akibat hidup yang sering berpindah. Setidaknya, gaji suami masih cukup buat memenuhi kebutuhan hidup.

Makanya, gara-gara hidup tidak menetap ini, banyak istri hakim yang memilih tidak berkarier, walaupun pendidikan terakhirnya sarjana. Kalau pun toh harus bekerja juga, biasanya kami mencari pekerjaan yang tidak mengikat. Jadi, kapan-kapan suami pindah, kami bisa berhenti untuk mengikuti suami.

Termasuk aku sebelum punya anak. Kendati, sejak awal inginnya mendaftar PNS, pada akhirnya aku memilih bekerja tak terikat saja. Mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain, menjadi guru honorer selamanya.

Masalahnya, sudah banyak contoh, istri-istri hakim yang menjadi PNS. Akibat mengurus pindah yang sulit dan berbelit, banyak di antara mereka yang memilih tak mendampingi suaminya, alias hidup terpisah sebagai suami istri. Pilihan sulit namun harus tetap diambil. Dari pada sayang melepaskan karier yang dibangun dengan susah payah. Jadi, memilih bersabar saja hidup berjauhan dari suami.

Ya, demikianlah cerita hidup kami. Jalani dengan penuh syukur meskipun tak selalu indah. Mencoba menangkap pesan tersirat, bahwa, setiap pilihan ada konsekuensinya. Kita tidak boleh serakah, ingin mendapatkan semua kenikmatan tanpa bersiap kehilangan.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community
#day13


You May Also Like

0 komentar