Serial Nomaden : Sampit Kota Mentaya Dalam Kenangan

by - Wednesday, January 09, 2019

Hai, Bloggers!

Sudah hampir 10 tahun suamiku bekerja di Pengadilan Agama, Mahkamah Agung Republik Indonesia. Sejak saat itu pula, kami menjadi nomaden alias hidup berpindah-pindah.

2 tahun pertama sebagai calon hakim, suamiku bertugas di Sampit, Kalimantan Tengah. Di sana, walaupun awalnya sempat merasa was-was akan keamanan kotanya, yang pernah mengalami kerusuhan etnis beberapa tahun silam. Ternyata, secara mengejutkan kota tersebut sangat nyaman. Penduduknya yang tidak terlalu padat, kemudian lingkungannya yang bersih dan rapi, serta orang-orangnya yang ramah dan hangat. Membuat kita betah dan merasa diterima.



Kehangatan itu langsung terasa, bahkan sejak pertama kali, kami diterima menjadi bagian keluarga besar Pengadilan Agama Sampit. Sebagai pendatang baru, mereka hampir selalu melibatkanku dalam setiap acara, baik yang diadakan di kantor maupun di rumah salah satu hakim atau pegawai Pengadilan. Entah kegiatannya bersifat resmi atau hanya sekedar berkumpul untuk rujakan saja.

Pun demikian soal pekerjaan, mendapatkannya tak sesulit perkiraan semula.

Aku yang sengaja melepaskan karier mengajarku di salah satu sekolah swasta berbasis agama di Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, demi mengikuti suamiku bertugas di sini. Walau sempat menganggur selama 8 bulan, sebelum akhirnya aku kembali mengajar di salah satu sekolah swasta di Sampit, yaitu, SMK Muhammadiyah.

Padahal, sebelum pindah ke Sampit, aku pernah merasa khawatir tidak akan mendapat kesempatan mengajar lagi. Nyatanya, tak lama berselang usai diterima menjadi guru Bahasa Inggris di SMK, aku juga mendapat tawaran menjadi tentor Bahasa Inggris di Primagama. Boleh di bilang aku justru jauh lebih sibuk dibanding sebelumnya.

Apalagi, saat pergantian tahun ajaran baru, aku ditugaskan mengajar kelas 2 dan kelas 3. Maka, semakin bertambahlah jam mengajarku. Jika tadinya, hanya mengampu sebanyak 12 jam pelajaran selama seminggu, pada akhirnya berubah  menjadi 28 jam seminggu. Ditambah, jatah 11 jam pelajaran di Primagama. Sehingga, total beban kerjaku selama seminggu sekitar 39 jam. Luar biasa sibuk, jangankan punya waktu buat memasak, untuk istirahat pun hanya bisa setelah jam 8 malam saja.

Kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan persangkaan semula. Dikira, Sampit itu kota dan masyarakatnya seseram masa lalunya yang pernah berkonflik. Tidak ramah terhadap pendatang, dan sulit mendapatkan kesempatan berkarier. Tak tahunya, justru sebaliknya. Membuat aku dan suami merasa betah dan nyaman di sana. Seolah-olah berada di kampung sendiri. Setelah pindah dari sana pun kami mengingat Sampit sebagai kota penuh kenangan indah.

Moral Value-nya: Jangan terburu-buru berprasangka buruk terhadap sesuatu. Siapa tahu, yang tadinya tak diinginkan justru memberi banyak kebaikan. Demikian kira-kira.

Sumber Foto : Google

#Postingan ini diikutsertakan dalam tantangan one day one posting, bersama Estrilook Community
#day8



You May Also Like

0 komentar