facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Tidak seperti yang sudah-sudah. Liburan yang lalu kami, aku dan keluarga kakak ipar memutuskan mengunjungi museum Lambung Mangkurat yang terletak di kotamadia Banjarbaru. Sebenarnya sudah lama berniat mampir ke sana. Cuma entah mengapa selalu lupa. Ada saja kegiatan lain yang didahulukan. Sehingga mengunjungi museum tak pernah dilakukan.

Museum Lambung Mangkurat

Apa mungkin karena letak museum yang tidak terlalu jauh? Biasanya sih begitu. Mungkin akibat letaknya yang dekat dari rumah mertua. Hanya memerlukan sekitar dua puluh menit menggunakan kendaraan, yang membuat niat mendatangi museum ini selalu terpinggirkan diganti mengunjungi tempat lain yang lebih nge-hits. Mikirnya, toh, mengunjungi museum bisa nanti-nanti saja.

Padahal mengunjungi museum tidak kalah asyik juga, karena selain bisa cuci mata kita akan mendapat pengetahuan baru tentang banyak hal.

Foto : Koleksi Pribadi. Rumah Adat Banjar

Benar saja, saat tiba di museum putra saya dan para keponakan merasa excited. Bertolak belakang dari perkiraan museum Lambung Mangkurat ternyata tempat yang sangat nyaman buat dikunjungi. Ruangannya yang ber-AC terasa adem dan membuat betah.

Tetapi tentu saja daya tarik utamanya adalah melihat-lihat benda peninggalan sejarah, diorama, membaca informasi tentang silsilah kerajaan Banjar, ulama-ulama kharismatik dan karya-karya mereka yang terpampang di sana, semua itu sungguh membantu pengunjung mendapatkan perspektif baru tentang hidup di masa lalu.

Kitab Sabilal Muhtadin karangan Syekh Arsyad Albanjari

Nah, apa saja keuntungan piknik ke museum, simak penjelasan di bawah ini:

1. Menambah Wawasan

Mengunjungi museum akan menambah wawasan. Maksudnya, melihat benda-benda atau fosil peninggalan zaman dulu kita jadi bisa mengira-ngira kehidupan seperti apa yang dijalani orang pada zaman dahulu. Alat-alat apa yang mereka gunakan untuk bertahan maupun mengatasi tantangan hidup yang penuh keterbatasan. Hal ini dapat membuka wawasan kita dalam melihat dunia ini

2. Tempat Terbaik Mempelajari Masa Lalu

Masa lalu memang sudah berlalu. Akan tetapi tidak berarti harus dilupakan. Bahkan, sering kita mendengar anjuran untuk belajar pada sejarah mengenai beberapa hal. Contohnya, memperkuat rasa cinta tanah air. Untuk hal ini kita bisa belajar dari kehidupan pahlawan atau orang-orang dulu yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Alat apa yang mereka pergunakan untuk mengusir penjajah atau bagaimana cara mereka melakukan diplomasi. Semua itu selain akan kita temui di buku-buku sejarah, bisa kita temukan di museum. Tak heran jika museum dikatakan sebagai tempat terbaik mempelajari masa lalu.

3. Semakin Menghargai Sejarah

Jangan lupakan sejarah, karena yang membentuk keadaan kita sekarang, entah itu mental atau cara pandang adalah kejadian di masa dulu. Oleh karena itu anggap saja kunjungan ke museum untuk menyerap semangat kebaikan yang dilakukan orang zaman dulu. Bagaimana mereka berjuang untuk merdeka, atau bagaimana cara mereka memperlakukan alam dan hidup berdampingan secara harmonis, serta upaya mengatasi kesulitan yang dipenuhi keterbatasan demi hidup yang lebih baik.

4. Mensyukuri Hidup yang Ada dan Mengisinya dengan Hal-hal Positif

Salah satu hikmah mengunjungi museum, kita jadi semakin mensyukuri hidup yang  ada. Bayangkan jika hidup di masa yang penuh keterbatasan seperti di masa lalu. Bahkan, untuk makan saja harus berpayah-payah mengelola kebun, ladang atau sawah. Hidup tanpa penerangan yang memadai. Mau ke sana ke mari harus berjalan kaki karena tidak ada transportasi yang tersedia.

Itu belum termasuk menghadapi penindasan penjajah yang merampas kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik kita. Sudah sepatutnyalah kita mensyukuri keadaan sekarang yang serba nyaman dan serba tersedia, sehingga ada kesadaran baru unyuk bertekad mengisi hidup dengan hal-hal bermanfaat.

5. Tempat Wisata Alternatif

Kalo kamu sudah bosan mengunjungi tempat wisata pada umumnya. Ada baiknya mengunjungi museum. Selain mendapat informasi tentang sejarah, melihat-lihat peninggalan zaman dulu bisa asyik juga, loh. Kamu juga bisa memiliki foto yang unik dengan latar belakang benda-benda peninggalan zaman dulu, yang pastinya tak kalah berkesan dibanding berfoto di tempat wisata mainstream

Demikian ulasan tentang manfaat mengunjungi museum. Dengan banyaknya kegunaan yang bakal kita dapatkan. Ternyata mengunjungi museum tak kalah asyik dibanding mendatangi tempat yang sedang ngehits ya. Semoga bermanfaat



Monday, February 03, 2020 3 komentar

Salah satu tempat ziarah yang wajib di kunjungi ketika kita berada di tanah suci adalah gunung tsur. Sekilas tak ada yang istimewa dengan tempat ini.

Jabal Tsur

Sejauh mata memandang yang terlihat hanya gugusan beberapa gunung besar dan kecil yang memanjang dan sambung menyambung satu sama lain. Tak ada pepohonan. Tak ada padang sabana, semak belukar. Yang ada hanya bebatuan.

Tapi pernah terjadi peristiwa besar disini.

Tanah yang tandus ini. Pegunungan yang isinya hanya bebatuan ini, adalah saksi sejarah bahwa islam pernah mengalami titik nadir disini.

Telah 13 tahun sejak pertama kali Rasulullah SAW menerima wahyu dan berdakwah kepada penduduk Mekkah. Selama itu pula beliau menerima semua perlakuan buruk orang kafir Quraisy tanpa amarah apalagi patah semangat. Meski beliau ditekan, ditentang, dihina beliau tetap berdiri sendiri menentang kekafiran tanpa bantuan dari luar.

Hingga akhirnya...

Perintah hijrah itu turun juga. Melalui malaikat jibril Rasulullah menerima perintah untuk hijrah. Nabi Muhammad SAW pun hijrah dengan ditemani
Abu Bakar As Siddiq RA.

Saat melarikan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya. Rasulullah bersembunyi di gua tsur yang letaknya di puncak gunung tsur ini.

Begitu dekatnya baginda Rasulullah dengan musuh. Begitu gentingnya nasib islam disini. Jika saja para pemburu itu menengok kebawah niscaya mereka akan melihat Rasulullah dan Abu Bakar yang sedang bersembunyi disana. Pasti Rasulullah SAW akan tertangkap. Jika itu terjadi entah bagaimana nasib agama dan pemeluknya ini di kemudian hari.

Namun syukur alhamdulillah, Allah yang maha kuasa tak mengizinkan para pembuat makar itu berhasil melakukan rencana jahat mereka, Allah mengirimkan pertolongannya berupa sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi mulut gua.

Membuat para pemburu berkesimpulan bahwa tak mungkin Rasulullah bersembunyi di situ. Kalau ada yang memasuki gua, sarang laba-laba dan sarang burung merpati itu pasti sudah rusak.

Demikianlah. Para pemburu akhirnya menjauh dan Rasulullah SAW serta Abu Bakar pun selamat.

Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di gua tsur selama 3 hari. Untuk urusan logistik mereka tidak kekurangan karena setiap sore Asma Binti Abu Bakar selalu mengantarkan makanan bersama Abdullah. Sementara Amir bin Fuhairah pembantu Abu Bakar bertugas memerah susu kambing untuk keperluan minumnya Rasulullah SAW dan Abu Bakar.

Setelah 3 hari kepanikan di Mekkah mereda. Rasulullah dan Abu Bakar pun berangkat ke Madinah.

Dan Periode Kebangkitan Islam pun di mulai.

Sejarah gunung tsur yang mendebarkan ini tak ayal membuat kita akhirnya memandang pegunungan terjal dan tandus ini dengan tatapan yang berbeda. Penuh sayang dan rasa terima kasih.

Gunung yang isinya hanya bebatuan ini pernah menyelamatkan manusia yang paling agung di muka bumi. Manusia yang paling baik akhlaknya, lemah lembut dan sangat dicintai umatnya. Sang nabi terakhir. Yang kelahiran, kehadiran serta ajarannya menjadi berkah bagi seluruh alam.

Allahumma Sholli 'ala Muhammad wa'ala 'alii Muhammad.

Wallahu'alam bishowab

#SETIP day21
Tuesday, March 26, 2019 No komentar

Menurutku. Salah satu tempat ziarah di tanah suci yang menggetarkan jiwa adalah jabal uhud. Mengingat peristiwa besar dan tragis pernah terjadi disini, yaitu perang uhud.
Jabal Uhud
Saat itu pasukan muslimin mengalami kekalahan besar.

Awalnya, kaum muslimin telah mengalami kemenangan.

Namun, sebagian kaum muslimin yang terus memburu musuh kemanapun sampai mereka meletakkan senjata. Dihadapkan dengan pemandangan harta benda dan rampasan yang berserakan di medan pertempuran. Kuda-kuda yang tangguh, baju besi, unta yang sarat muatan, makanan-makanan lezat dan perhiasan-perhiasan mahal.

Membuat silau pasukan muslim sehingga mereka lupa dengan perintah Rasulullah untuk terus mengejar musuh sampai mereka tercerai berai sehingga tidak mampu lagi berkumpul dan balas menyerang.

Pasukan muslim kemudian disibukkan dengan aktivitas mengumpulkan harta rampasan perang.

Dan semua tindakan itu disaksikan oleh pasukan pemanah di lereng gunung yang pada akhirnya tergiur juga merebut harta rampasan perang yang berserakan dimana-mana. Mereka meninggalkan lereng gunung dan mereka melanggar disiplin.

Padahal...

Rasulullah telah berpesan kepada pasukan pemanah untuk tidak meninggalkan tempat ini.

" tetaplah ditempat kalian sehingga kami tidak dapat diserang dari arahmu. Jika kalian melihat kami mengumpulkan harta rampasan, jangan ikuti kami, dan jika kalian melihat kami dibantai, jangan bantu kami!"

Lereng gunung itu hampir kosong. Yang masih tinggal hanya beberapa orang saja.

Dan kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh seorang jenderal Quraisy yang terkenal lihai dan gagah.

Khalid bin Walid.

Segera saja Khalid bin Walid memanfaatkan kesempatan baik itu dengan mengerahkan pasukan berkudanya untuk menyerang pasukan muslim dari belakang.

Mendengar teriakan perang Khalid bin Walid, pasukan Quraisy yang telah berlarian mundur, kini kembali lagi. Membuat pasukan muslim terkepung di tengah-tengah.

Seolah tersadar pasukan muslimin melempar harta rampasan dan mencabut pedang mereka untuk bertarung. Namun sayang, semuanya sudah terlambat. Musuhnya terlalu banyak sementara pasukan muslim lengah dan barisan mereka sudah centang perenang.

Pasukan muslim pun mengalami kekalahan besar.

Bahkan Rasulullah dan pasukan yang tersisa harus mendaki tingginya gunung uhud untuk menyelamatkan diri karena kekalahan yang demikian parahnya.

Tak kurang 70 orang dari pasukan muslim yang gugur menjadi syuhada termasuk paman kesayangan dan pembela nabi yang bergelar singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthollib yang juga gugur dengan cara yang mengenaskan.

Jasadnya sudah dianiaya dengan perut yang terburai.

Membuat Rasulullah merasa sedih, sedih sekali. Sampai beliau berkata " takan pernah ada orang yang mengalami malapetaka seperti ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini "

Selanjutny, beliau bersabda, " Demi Allah, kalau pada suatu ketika Allah memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang arab. "

Saat itu turunlah firman Allah,

" Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi, kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Allah. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan pula engkau besesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu ( QS An Nahl, 16: 126-127)

Dan setelah firman itu turun, Rasulullah pada akhirnya memutuskan untuk memaafkan pihak musuh. Ditabahkannya hatinya dan beliau melarang orang melakukan penganiayaan.

Cerita tragis perang uhud ini membuat perasaan kita pun menjadi emosional ketika menjejakkan kaki disini. Terutama pada saat berdoa dan menyapa para syuhada uhud yang dimakamkan jadi satu di tempat ini. Kisah heroik mereka yang telah berkorban jiwa dan raga demi tegaknya agama Allah. Membuat perasaan jadi campur aduk antara sedih, hormat, haru dan terima kasih yang mendalam.

Dengan dada membuncah dan mata berkaca-kaca....
Menyapa...

Assalamu'alaikum ya Hamzah..
Assalamu'alaikum ya syuhada uhud..

Tuan-tuan sekalian pasti sudah bahagia di sisi Allah. Terima kasih sudah berjuang melindungi Rasulullah dan agama ini dengan nyawa tuan-tuan sekalian. Dan semoga kami dan generasi anak cucu kami bisa mewarisi semangat, pengorbanan dan keberanian tuan-tuan semua dalam membela agama Allah ini. Amin.

Disadur atau disalin dan diceritakan ulang menyesuaikan dengan gaya bertuturnya si penulis dari Buku Muhammad Teladanku jilid 8, Tim Syaamil Books.

Wallahu'alam bishowwab

#SETIP day20
Tuesday, March 26, 2019 No komentar
Malam harinya, kami mendapat pesan akan dijamu makan malam oleh pak Rustam dan istri. Kebetulanlah kalo begitu. Perut memang sudah keroncongan, dan tidak tahu harus ke mana mencari makan.

Bubur Pedas. Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Oleh pak Rustam kami dibawa ke rumah makan padang. Yes, Makan enak, nih! Rasanya, makan malam kali ini terasa nikmat sekali. Mungkin karena perut sudah sangat lapar, sehingga apa pun yang masuk mulut terasa enak. Alhamdulillah.

Puas bercerita dengan pak Rustam dan Ibu, kami kembali ke kontrakan buat istirahat. Besok, kami para istri akan turut menghadiri acara pelantikan suami-suami kami.

Pelantikan itu tiba juga, dengan dihadiri beberapa orang hakim senior, pegawai dan perwakilan Dharmayukti Karini, acara pelantikan berjalan khidmat, tertib dan lancar. Dengan berakhirnya pelantikan tersebut berarti suamiku dan teman-temannya telah resmi menjadi hakim Pengadilan Agama.

Malam harinya, kami berenam memutuskan melihat-lihat kota Singkawang. Tapi, karena di Singkawang tak ada taksi, dan kami tidak memiliki kendaraan. Kami pun terpaksa berjalan kaki saja. Menjangkau lokasi terdekat yang tidak terlalu jauh.

Hingga tibalah kami di area pertokoan jalan Yos. Sudarso. Keluar masuk beberapa toko melihat-lihat siapa tahu ada yang menarik minat. Sampai akhirnya kami pulang membawa belanjaan masing-masing. Aku dan suami enggak beli apa pun, sedangkan Abduh membeli karpet kecil, dan Firman beserta istri membeli souvenir. Ada yang aneh soal cenderamata yang dibeli oleh istri Firman, yaitu, boneka santa klaus dan patung Budha. Mungkin karena kedua boneka tersebut terlihat sangat imut yang membuatnya tergerak membeli. Entahlah.

Kami pasti terlihat aneh, sehingga banyak orang melihat rombongan kami dengan pandangan ingin tahu. Bayangkan, enam orang sedang berjalan kaki, satunya ibu hamil, satunya membawa karpet, dan empat lainnya membawa kresek belanjaan, yang kadang bercanda dan tertawa riang, mirip seperti tunawisma bahagia, membuat perjalanan bolak-balik dari kontrakan ke tempat kami belanja yang lumayan jauh, tak terasa sama sekali.

Esok harinya, pak Rustam dan istri mengajak kami berjalan-jalan seputar Singkawang. Tapi sebelum itu, paginya kami sarapan dulu di warung dekat kontrakan.

Di warung ini kami pesan berbagai menu sarapan, ada yang pesan nasi kuning, lontong sayur dan aku sendiri pesan bubur pedas. Menu-menu ini tak luput jadi topik bahasan kami. Ternyata, nasi kuning di Singkawang lauknya sedikit berbeda, yaitu, telur, sambal goreng teri dan tempe, bihun dan sedikit sayuran. Jangan cari ikan haruan sambal habang, karena sudah pasti enggak ada di sini. Kenyataan ini membuat ibu hamil sedikit kerepotan. Menunya enggak sesuai selera. Kada nyaman, jar! Hehe ...

Lain nasi kuning lain lagi bubur pedas. Demi menjawab rasa penasaran aku sengaja memesan menu ini. Sekilas penampakannya seperti bubur Manado tapi warnanya lebih pekat. Pas di coba. Wah, hanya bisa mengungkapkan satu kata tentang rasanya, aneh.

Pertama-tama rasanya sama sekali enggak ada pedas-pedasnya, dan ada aroma entah dari bahan atau bumbu-bumbunya yang terlampau tajam. Membuatku berujar dalam hati “Rasanya macam makan rumput aja” enggak enak banget. Di kemudian hari aku tahu, aroma yang tajam itu dari daun kesum. Salah satu komponen yang wajib ada saat membuat bubur pedas, makanan khas orang Melayu yang tumbuhnya hanya ada di Kalbar.

Selesai sarapan kami dijemput pak Rustam dan istrinya untuk dibawa berkeliling kota Singkawang. Mendatangi berbagai obyek wisata yang ada di sana. Di Singkawang rupanya banyak terdapat tempat wisata, mulai dari pantai, taman hingga kebun binatang.

Salah satu yang membuat kami heboh, saat melihat sepanjang jalan banyak dijumpai klenteng. Di mana-mana ada klenteng. Di bukit, di sawah, di pinggir lautan, di pulau di tengah lautan, dan lain-lain. Ternganga-nganga kami melihatnya macam orang udik yang tak pernah melihat klenteng sebelumnya, padahal pemandangan tersebut wajar saja, mengingat di Singkawang salah satu etnis terbesarnya adalah Tionghoa yang penganut khong hu chu


Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Ada yang menarik soal etnis Tionghoa ini. Kalau di daerah lain umumnya kita menjumpai etnis ini rata-rata hidup makmur dan mewah. Di Singkawang kita akan melihat pemandangan berbeda. Banyak orang Tionghoa yang hidupnya pas-pasan bahkan di bawah standar. Seolah-olah pemandangan biasa melihat mereka ada yang berjualan sayur, ikan, buah, bahkan ada yang jadi tukang becak dan pengemis. Sehingga ada kelakar di antara kami “Kalau mau lihat Agnes Monica jualan buah, silakan datang ke Singkawang”

Tak terasa waktu kunjungan kami para istri di Singkawang berakhir. Iya. Kami memang tidak menyertai kepindahan suami-suami kami ke Singkawang karena terhalang pekerjaan. Kalau aku tetap pindah ke Singkawang, tapi setelah menyelesaikan tugasku mendampingi murid-murid SMK Muhammadiyah Sampit lulus ujian, jadi, masih sekitar 5-6 bulan baru bisa menyusul suamiku. Sedangkan istri Firman dan Abduh positif tak mendampingi suami-suami mereka karena bekerja sebagai guru PNS daerah, yang tidak mudah pindah ke sana ke mari.

Tamat

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day28










Monday, January 28, 2019 No komentar
Hari yang ditentukan ke Singkawang tiba. Sekitar jam 09.00 pagi taksi pesanan yang akan membawa kami ke Singkawang tiba di Wisma. Kami pun berangkat menuju Singkawang.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Ada beberapa pemandangan dalam perjalanan yang membuat kami terheran-heran, seperti melihat kambing diikat dengan posisi tiarap di atas bus. Karuan saja pemandangan tak berperi kehewanan tersebut menjadi topik bahasan hangat, membuat sopir justru melihat kami dengan tatapan aneh, karena menurutnya hal tersebut menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat Kalbar.

Menurut pak sopir, atap bus menjadi wadah serba guna. Tak hanya hewan yang berada di sana, kadang kalau penumpang bus sesak, sebagian penumpang duduk di atap tersebut.

Alkisah, ada satu cerita menyangkut atap bus yang menjadi penampung apa saja termasuk manusia ini. Suatu ketika dalam perjalanan, seorang penumpang yang duduk di atap bus, asyik bercerita dengan kawan di sampingnya, tanpa menyadari ada pohon kayu di hadapan. Saat tersadar ia tidak sempat lagi menghindar dari si pohon. Ya, terjadilah. Si orang tersebut menyangkut di pohon kayu sementara bus-nya terus berjalan melenggang jauh. Cerita ini menurut pak sopir sangat terkenal di kalangan sopir taksi. Soal kebenarannya, apa memang demikian peristiwa yang terjadi hanya mereka dan Allah yang tahu.

Di pertengahan perjalanan kami singgah di kedai makan di Sungai Duri. Aku sengaja memesan bakso saja. Sudah dua kali aku menikmati bakso di Kalbar, sekali di Pontianak dan di Sungai Duri ini. Lagi-lagi ada yang berbeda dengan bakso di sini dengan yang biasa kumakan di tiga Kalimantan. Untuk mie putihny bukan sohun seperti yang biasa ditemui, tapi campuran antara bihun dan mie tiaw (kwetiaw), dari segi taste pun terasa berbeda.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam kami pun tiba di Pengadilan Agama Bengkayang, yang langsung disambut oleh ibu Nisa Istantri selaku Panitera Sekretaris. Kami langsung menghadap pak Rustam dan istrinya yang merupakan ketua Pengadilan Agama di situ. Ternyata, beliau ini suku banjar juga tapi sudah menjadi warga Kalbar sejak puluhan tahun yang lalu.

Pertemuan itu diakhiri dengan melihat-lihat rumah kontrakan para suami-suami. Letaknya tidak jauh dari kantor Pengadilan Agama, hanya tinggal menyeberang saja. Kontrakan berbentuk barak yang sangat minimalis karena hanya terdiri dari sebuah kamar, kamar mandi dan sebuah tempat tidur, tanpa dapur apalagi ruang tengah. Menurut ibu Nisa kontrakan ini tempat tinggal sementara saja sebelum mendapatkan rumah yang sesuai keinginan.

Bersambung ...

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day27



Sunday, January 27, 2019 No komentar
Muhammad Abduh dan Firman Wahyudi tiba bersama istri-istri mereka, dan ternyata istrinya Firman sedang hamil lima bulan. Lumayan jauh perjalanan yang harus ditempuh si ibu hamil, yaitu harus naik pesawat sebanyak dua kali agar sampai di bumi khatulistiwa. Itu baru sampai Pontianak saja, belum besoknya harus ke Singkawang lagi, yang menurut informasi membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalan darat baru tiba di sana. Semoga si ibu dan bayinya sehat saja.

Sumber Foto. Dokumen Pribadi

Reuni kecil-kecilan itu terasa menghangatkan hati. Bertemu orang-orang yang kita kenal di tempat baru yang asing, membuat perasaan tidak sendiri lagi.

Aku kenal Abduh sejak kuliah. Meskipun tidak dekat, kami pernah terlibat obrolan sekali-dua di masa lalu. Siapa yang enggak kenal Abduh yang populer, selain wajahnya yang ganteng ia juga cerdas dan seorang aktivis kampus. Setahuku banyak cewek mengidolakannya.

Sedangkan Firman, aku tidak berteman dan belum pernah bertegur sapa, karena Fakultas kami memang berbeda tapi sering melihat wajahnya wara-wiri di kampus. Termasuk istrinya juga, Budi Fithriati, pernah lihat wajahnya tapi enggak pernah teguran. Iya, kami berlima semuanya alumni IAIN Antasari Banjarmasin kecuali Gesty Febriani istrinya Abduh.

Berhubung hari sudah malam dan perut yang mulai keroncongan. Kami memutuskan segera mencari tempat makan  di seputar jalan Imam Bonjol. Ada banyak restoran tersedia, namun kami memutuskan makan di warteg sari laut saja.

Pengalaman pertama bersentuhan dengan kebiasaan berbeda, terjadi saat makan malam ini. Saat itu  beberapa orang dari kami pesan es jeruk, yang ditanggapi oleh pelayannya dengan pertanyaan “Jeruk kecil atau jeruk besar?” ujarnya.

Antara bingung dan rasa ingin tahu. Entah Abduh atau Firman sengaja pesan es jeruk kecil. Tak lama yang ditunggu pun datang. Ternyata yang dimaksud es jeruk kecil adalah es jeruk sambal. Oalah*wkwkwk* dikira varian jeruk yang mana. Aneh saja rasanya melihat jeruk yang biasanya hanya dipakai buat campuran sambal, menjadi minuman. Kalo minum es jeruk nipis, sih, sudah biasa. Jeruk sambal?  Bahkan, sampai saat ini pun lidahku tak kunjung terbiasa.

Setelah kenyang dan puas bertukar cerita, kami pun istirahat, memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan besok hari.

Bersambung ...

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan odop bersama Estrilook Community

#day26



Saturday, January 26, 2019 No komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose