facebook instagram twitter youtube rss linkedin
  • Home
  • Inspirasi
  • Life Style
    • Parenting
    • Food
    • Travel
  • Writing
  • About Me
  • Contact
Powered by Blogger.

Golde Kindangen's Blog

Alhamdulillah. Akhirnya bisa nge-blog lagi. Rasanya sudah sekian purnama sejak terakhir kali ngisi blog ini dengan berbagai celotehan.

Foto : Pixabay.com

Sok sibuk dan lemah komitmen sih alasan sebenarnya. Alasan sibuk itu terkesan mengada-ngada dan terkesan menutupi penyebab utamanya, yaitu, malas *tutup muka*

Padahal, akhir tahun kemarin sempat bertekad akan aktif nge-blog lagi tahun ini. Tapi apalah daya. Naskah kasar di kelas menulis novel belum selesai juga ditulis, meskipun sudah memasuki bulan ke-lima penulisannya. Sebenarnya ceritanya hampir saya buat tamat, tapi karena adanya permintaan dari kang mentor untuk menambah lagi cerita yang ada, karena dianggap terlalu sedikit. Terpaksalah ceritanya saya tambah lagi.

Masalahnya, kalau berpatokan pada outline cerita yang ada sudah hampir habis dijabarkan. Nah, untuk menyiasatinya saya harus improvisasi. Menulis tidak tetapi tidak berdasarkan outline.

Ternyata menulis tanpa outline bagi penulis pemula seperti saya bukan hal yang mudah. Apalagi sejak awal ceritanya bukan saya yang buat. Bertambah besarlah tantangan yang harus saya hadapi.

Itulah mengapa, sudah diakhir bulan ke-lima naskah ini belum kunjung selesai juga walau ditulis setiap hari.

Di tambah ada satu pekerjaan yang juga harus diselesaikan, yaitu, menyadur cerita rakyat kabupaten Paser ke dalam cerita anak. Itu belum termasuk mengikuti kelas menulis di sana-sini lengkap dengan tugas-tugasnya, sehingga semakin banyaklah tugas menulis yang harus diselesaikan.

Otomatis kalau sudah begini, blog inilah yang menjadi korban. Hampir tak pernah lagi ditengok apalagi dibelai-belai*lebay wkwkwk* andai blog ini sebuah rumah, pasti sudah penuh semak belukar di dalamnya, akibat tak pernah diurus lagi.

Sayang, sih sebenarnya. Mengingat awal-awal terjun ke dunia literasi, saya memulainya dari nge-blog dulu. Walaupun kontennya tidak memenuhi standar blog yang profesional. Tetap saja saya sayang sama blog ini. Dan bertekad ke depannya harus semakin pandai membagi waktu agar menulis buku maupun menulis di blog bisa berjalan beriringan tanpa ada satu pun yang diabaikan.

Makanya, langkah awal yang saya lakukan adalah mempercantik blog ini dulu. Maksud, blog ini ibarat rumah, supaya betah ngadem di sini harus dibikin cantik dulu.

Nah, berhubung saya kurang pandai mendandani blog ini. Tepatny kurang telaten. Saya memerlukan bantuan jasa mempercantik blog.

Beruntung di komunitas blogger yang saya ikuti, ada yang mengarahkan untuk menghubungi Mbak Steffi Budi Fauziah jika ingin mempercantik blog. Kebetulan juga, Mbak Steffi bukan orang baru buat saya, karena blog saya ini pun berhasil dibuat adalah hasil berguru dari dia. Ya, tanpa pikir panjang saya pun meminta bantuannya.

Betul saja, ada beberapa hal yang membuat saya puas dengan menyewa jasa Mbak Steffi :

1. Pelayanannya Cepat

Hanya butuh  saya waktu dua hari sejak saya meminta bantuan Mbak Steffi untuk mempercantik blog ini. Blog saya sudah tampil cantik. Mulai dari tampilan header sampai sidebar-nya terlihat jauh lebih profesional dibanding sebelumnya.

2. Harga Ekonomis

Tadinya saya mengira sewa jasa mempercantik blog dengan Mbak Steffi mahal. Mengingat sepak terjangnya di dunia blogger yang biasa mengisi materi tentang blog. Ternyata perkiraan saya meleset. Saat Mbak Steffi menyebutkan jumlah nominal yang harus dibayarkan. Saya sampai bergumam dalam hati, "Loh, ternyata cuma segini bayarannya. Murah amat ternyata."

3. Hasil Memuaskan

Nah, ini yang terpenting. Hasil dandanan Mbak Steffi membuat blog saya semakin cantik. Padahal, saya cuma memilih salah satu dari tiga template yang disodorkan tanpa memberitahunya soal font dan warna header yang saya mau. Eh, hasilnya tetap cantik. Seolah-olah dia mengerti apa yang saya mau. Saya betul-betul merasa puas jadinya.

Terima kasih ya, Mbak Steffi. Pokoknya saya puas melihat tampilan baru blog ini. Dan bagi teman-teman yang juga ingin menggunakan jasa Mbak Steffi dalam mempercantik tampilan blog. Silakan hubungi Mbak Steffi di :

Blog : www.steffifauziah.com
Facebook : Steffi Budi Fauziah
Instagram :@steffifauziah

Sekian review dari saya. Semoga bermanfaat, ya



Friday, January 31, 2020 2 komentar

Tsundere. Tadinya aku tak tahu arti istilah ini. Maklum saja sebagai generasi yang lahir dan besar pada masa Orde Baru aku bukan penggemar anime.

Tsundere adalah, salah satu bentuk proses pengembangan karakter jepang yang menggambarkan perubahan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain/seseorang sebelum akhirnya menunjukkan sisi hangat kepadanya. Karakter tsundere ini sering membuat orang salah paham. Tak heran objeknya tsundere ini sering merasa bahwa dirinya dibenci.

Sumber foto : pexels.com
Aku baru tahu istilah tsundere ini setelah nonton drama korea berjudul Reply 1988. Dan tsundere ini di sematkan pada tokoh Kim Jung Hwan yang sering berkata-kata kasar dan bertingkah laku menyebalkan namun lama kelamaan menunjukan sisi dirinya yang hangat dan penuh perhatian kepada Sung Doek Sun. Walau pun di akhir cerita sang writer-nim tak menjadikan Kim Jung Hwan dan Sung Doek Sun sebagai pasangan. Sehingga membuat banyak penonton merasa kecewa dengan ending drama ini. Termasuk aku.

Karakter Kim Jung Hwan dengan style tsunderenya ini telah mencuri banyak perhatian. Bahkan, drama ini mengalami sindrom second lead cast yang parah, dimana tokoh Kim Jung Hwan sebagai second lead yang di perankan dengan sangat apik oleh aktor berbakat Ryoo Jun Yeol lebih dicintai dari pada karakter Choi Taek (Park Bo Gum) sang lead cast yang akhirnya terpilih sebagai suaminya Sung Doek Sun.

Ikut merasakan kepiluan cintanya Jung Hwan yang tak kesampaian tak pelak membuatku teringat kisah cintaku dimasa lalu.

Walaupun bukan pelaku tsundere seperti tokoh Kim Jung Hwan. Cara Kim Jung Hwan yang mencintai Sung Doek Sun dalam diam, persis sama seperti yang kulakukan pada cinta monyetku dulu.

Cinta monyetku bermula tatkala aku masih duduk di bangku SMP. Seingatku, aku sudah merasa tertarik sama cinta monyetku ini sejak hari pertama menduduki bangku SMP. Waktu itu kami berada satu ruangan untuk penataran siswa baru. Di barisan siswa putra ada satu cowok menarik pandangan. Dengan perawakan sedang, wajah tirus dengan warna kulit yang hitam manis (di kemudian hari terlihat legam) hidung kecil nan bangir serta rambut hitam berombak menuju keriting.

Menarik! Ujar batinku seketika.
Beruntungnya bak cinta ulampun tiba pada saat pembagian kelas. Kami menempati kelas yang sama. Kelas 1b.
Berada sekelas dengan si hitam manis maka di mulailah perjalanan cinta diam-diam.

Sejujurnya saat itu aku belum begitu paham soal cinta-cintaan. Apakah perasaan tertarik yang kurasa termasuk cinta atau cuma sekedar suka. Tak ada waktu untuk memperdebatkannya.
#Setip day 37
Bersambung
Monday, May 06, 2019 2 komentar
Sumber Foto.Google Play buku

Judul Buku : Perempuan di Titik Nol
Penerbit      : Yayasan Pustaka Obor
Pengarang  : Nawal El-Saadawi
Cetakan       : Cetakan Pertama, 1989
ISBN             : 978-979-461-867-7
Tebal Buku : 176 hlmn : 11x17cm

Sinopsis

Novel ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Firdaus yang tengah menanti hukuman mati karena telah membunuh seseorang.

Buku ini keras dan pedas yang isinya adalah jeritan sedih dan protes keras atas perbuatan tidak adil yang dilakukan terhadap perempuan. Makhluk kelas dua yang sering tidak dianggap, tak lebih dari pesuruh bahkan budaknya laki-laki.

Sedangkan dalam relasi hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Sang tokoh tak lebih hanyalah objek pemuas nafsu birahi belaka. Hal tersebut dapat disimpulkan dari beberapa ungkapan bernada kemarahan seperti berikut ini:

- Betapapun juga suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi, semua lelaki yang saya kenal, tiap orang diantara mereka, telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat saja: Untuk mengangkat tangan saya dan menghantamnya ke muka mereka. Akan tetapi karena saya seorang perempuan, saya tidak memiliki keberanian melakukannya. Dan karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut saya di bawah lapis-lapis solekan muka saya.

- Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.

Kelebihan buku ini. Kendati ceritanya kelam, keras dan pedas. Kemampuan penulis yang menggiring pembaca, untuk berharap sang tokoh utama pada akhirnya menemukan kebahagiaan, yang membuat kita terhanyut dengan ceritanya. Aku bahkan hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk menamatkan buku ini.

Kekurangannya. Buku ini karya sastra yang diangkat dari realita kehidupan perempuan pada masyarakat Mesir. Jadi jangan berharap ada bumbu pemanis seperti cerita romance masa kini dalam buku ini. Ditambah narasi yang panjang dan berat membuat kita harus membacanya pelan-pelan agar bisa menikmati jalan ceritanya.

Namun, bagi yang ingin membaca karya sastra bermutu, yang isinya bukanlah cerita tanpa makna. Buku ini boleh dimasukan daftar baca, ya. Selamat membaca!

#SETIP day17



Monday, March 18, 2019 No komentar
Setelah bulan kemarin mengadakan one day one posting yang disingkat Odop selama 31 hari. Per hari ini hingga tiga bulan mendatang Estrilook.com akan mengadakan SETIP atau kepanjangan dari seminggu tiga postingan.

Sama seperti Odop yang telah lewat. Setip adalah upaya yang dilakukan Estrilook dalam rangka mengajak  blogger mana saja, yang ingin konsisten menulis. Mengingat, menjaga semangat menulis terkadang gampang-gampang susah. Makanya, Estrilook merasa perlu membuat program tersebut, demi menyatukan para membernya yang mempunyai tekad sama.

Hanya bedanya, kalau odop kita harus setor postingan setiap hari selama bulan Januari. Sedangkan Setip sedikit lebih longgar, hanya tiga postingan saja per minggu, tapi berlangsungnya selama tiga bulan, sejak Februari-April.

Adapun syarat-syarat mengikuti Setip sebagai berikut:

1. Share tentang SETIP di Social Media kamu yaitu IG, FB, Twitter atau media social lainnya yang kamu punya. Jika hanya punya salah satu tak apa, yang penting posting mengenai SETIP supaya lebih banyak orang yang bisa ikutan.

2. Share gambar SETIP serta syaratnya dan mention juga minimal 2 teman kamu yang belum bergabung di Grup FB Estrilook.

3. Follow akun Estrilook Community di Instagram. Like Fanpage Estrilook dan bergabung di Grup FB Estrilook Community
https://www.facebook.com/groups/234318230607581/?ref=br_tf&epa=SEARCH_BOX

4. Posting mengenai SETIP di blog kamu dan alasan kenapa kamu mau ikut SETIP. Jangan lupa sertakan juga link estrilook.com di postinganmu,  ya.

5. Konsisten untuk ikut SETIP dan tak mundur di tengah jalan.

6. Jika ada yang tertinggal dalam event SETIP ini, boleh merapelnya.

7. Akan diberikan waktu hanya satu minggu ketika event SETIP selesai untuk mengejar ketertinggalan.

8. SETIP akan berlangsung selama 3 bulan, mulai Februari hingga April 2019. Tetap amanah dan tak banyak alasan ketika mengikuti event ini.

9. Jangan lupa setor link postingan kamu di grup FB Estrilook Community pada postingan yang telah disediakan oleh admin.

10. Postingan di blog masing-masing dan disetorkan setiap hari Senin,  Rabu,  dan Jumat.

Tetap semangat dan selamat berjuang!

Salam,
Tim Estrilook

Demikian ulasan tentang Setip, bagi siapa saja yang ingin bergabung, tinggal ikuti ketentuan yang sudah tertulis di atas. Setip ini bebas, kok, boleh diikuti siapa saja. Yuk, yang ingin rutin menulis gabung bersama kami!

#Postingan ini diikutsertakan pada SETIP bersama Estrilook Community

Tuesday, February 05, 2019 2 komentar
Akhirnya hari ini, hari terakhir challenge one day one posting yang diselenggarakan  Estrilook Community.

Walaupun dari segi isi postingan, banyak yang tidak sesuai dengan standar artikel mana pun. Aku tak menyangkal. Meski begitu, tetap bersyukur juga, karena mampu mengikuti challenge ini dengan baik. Rutin posting selama 19 hari tanpa pernah terlambat sehari pun.


Konsistensi. Yes! This is my goal.

Ini yang terpenting. Dan merupakan alasan mengapa mengikuti tantangan ini.

Supaya tertanam tekad di dalam dada, tidak menjadikan menulis saat ingin saja, namun, membangun kebiasaan menulis agar menjadi aktivitas harian, yang sama pentingnya dengan kegiatan lainnya.

Membangun konsistensi harus dipaksa. Salah satunya dengan ikut tantangan seperti yang di selenggarakan Estrilook ini. Dan melatih konsistensi engga mudah kalau dilakukan sendirian.

Itulah perlunya bergabung dengan komunitas yang mempunyai hobi sama, supaya semangat menulisnya tetap membara. Melihat kemampuan para senior yang sudah hebat, jadi terpacu untuk belajar lebih giat lagi.

Demi alasan ini, aku merasa perlu memaksa diri agar terus menulis apapun keadaannya. No excuse, writing everyday is a must

Menyadari dengan sepenuhnya, bahwa, sebagai newbie dalam dunia literasi, tak ada jalan mudah untuk meningkatkan kemampuan, kecuali kesungguhan dalam berlatih, disiplin dan konsisten.
Karena menulis tidak cukup dengan mengandalkan bakat saja, tapi kebiasaan dan pembiasaan.





Terima Kasih kepada Estrilook Community yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, semoga Estrilook makin sukses dan dunia literasi Indonesia semakin berkembang

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community


Wednesday, October 31, 2018 2 komentar
Dears Bloggers!

Sebelum review mau cerita dulu nih, boleh ya ...


Sebenarnya aku sudah punya blog, sejak tahun 2010. Jumlah postingannya pun lumayan banyak, sekitar 35 judul. Karena dari dulu aku memang senang menulis, mengapa nggak bikin blog aja sekalian.Sebagai wadah untuk menuangkan ide, opini atau hanya sekedar tempat mengeluarkan uneg-uneg. Dari pada menghambur emosi kesana kemari, lebih baik dibawa menulis. Itung-itung mengurangi dampak kerusakan, akibat emosi negatif yang salah penyaluran.



Senang menulis dan pingin punya blog, tapi gaptek kelas kakap😅. Jangankan membuat blog lah ya, biasanya, kalo make netbook pun cuma buat nulis sama nyimpan tok. Soal ngedit, ngeprint, bikin tabel-tabel, semuanya diserahkan ke suami.

Alasannya, kepalaku mumet kalo sudah berhadapan dengan hal-hal teknis.

Hal-hal sepele macam ngatur alinea paragraph yang nggak pas aja, udah sukses menggerus kesabaranku sampe kerak-keraknya. Kalo nggak ada yang menyelamatkan, takutnya malah si laptop yang jadi korban, dijadikan sate buat menu makan malam😂. Dengan riwayat begini mana bisa disuruh bikin blog segala. Yang bener aja!😅

                     

Untungnya, ada teman yang bersedia membantuku membuat blog. Dengan syarat, aku nggak boleh terima beres. Jadi, dari awal aku harus terlibat mengerjakan blog itu. Caranya, temanku yang ngasih tahu step-step pembuatannya, dan aku yang menjalankan arahannya. Alhamdulillah, blog keroyokan itu pun jadi, membuat aku girang bukan buatan.

Aku punya blog. Aku punya blog. Horeee!😍

Punya blog, rasa punya mainan baru.

Aku pun rajin posting di blog, hingga suatu ketika, suamiku mengatakan kalo tulisanku 'kampungan'. Pernyataan yang sukses membuatku patah hati tujuh turunan.

                     

Suamiku tentu aja nggak berniat membuatku 'down' begitu rupa, dia hanya memberi masukan supaya aku menulis dengan benar, dan berhenti meniru cara bertutur yang alay binti lebay, karena itu bukan styleku. Niatnya murni baik.

Tapi, aku-nya sudah kadung patah arang. Bukannya diperbaiki cara menulis dan bertuturnya, aku malah merajuk. Nggak mau menulis lagi. Ceritanya, hatiku mengalami badai tsunami, perlu waktu buat nerima kenyataan tulisanku sekacau itu.

Blognya pun dibiarkan tak terurus. Hidup segan, mati pun ogah😂

Sampai akhirnya, aku mulai menulis lagi. Gabung di komunitas dan mengambil kelas menulis. Barulah nyadar betapa aku rindu nge-blog lagi. Masalahnya, balik ke blog yang dulu lupa passwordnya, dan mau bikin blog baru nggak tahu caranya.

Alhamdulillah, di Estrilook Community, komunitas menulis yang ku ikuti, ada materi training blog untuk pemula, yang di asuh oleh mbak Steffi Budi Fauziah seorang lifestyle blogger, pemilik blog steffifauziah.com.


Materinya mencakup apa itu blog, manfaat blog, fungsi blog, serta dua tempat blog gratis yang bisa digunakan, yaitu, wordpress dan blogspot.

Yang asyiknya, cara penyampaiannya ringkas, dan didukung video tutorial. Memudahkan siapa saja untuk mengikutinya.

Hasilnya, sungguh diluar dugaan. Cukup dengan mengikuti petunjuk dari mbak Steffi, membuat blog ternyata sangat mudah. Bahkan, untuk emak-emak lemot pemegang rekor ter-gaptek macam aku, mampu mengikutinya, dan berhasil bikin blog baru. Subhanallah. Alhamdulillah🙏

Terima kasih mbak Steffi Fauziah untuk ilmunya, dan terima kasih buat Estrilook.com, yang begitu murah hati memanjakan member-membernya dengan pengetahuan bermanfaat.

Pokoknya, training blog untuk pemula ini rekomen banget buat siapapun yang ingin punya blog, terutama untuk pemula maupun si gaptek menahun. Dijamin, gapteknya langsung sembuh dan kita tiba-tiba udah punya blog aja. Rasanya, puas banget, deh, dijamin!

Sekian review dariku hari ini, semoga bermanfaat. Sampai jumpa dilain waktu ya. Bye-bye




Monday, October 08, 2018 10 komentar
Older Posts

About me

About Me
Hai, nama saya Golde. Saya IRT satu orang putra, yang serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2018. Saya telah menulis sebuah buku solo, beberapa buah antologi, dan menjadi penulis artikel lepas untuk media online.

Follow Us

Labels

about me Aktivitas Blogging Cerbung Cerpen Cooking Curhatku Drama Korea Family Food Inspirasi Kesehatan Keuangan kontak saya Movie Parenting Prosa Review Training Traveling Writing

recent posts

Total Pageviews

Blog Archive

  • ▼  2020 (10)
    • ▼  October (5)
      • Perayaan Hut Dharmayukti Karini ke-18 Oleh Dharma...
      • Tips Menyiapkan Anak saat Pindah Tempat Tinggal
      • Membentuk Pola Belajar Pada Anak
      • Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Istimewa
      • Hikmah Corona: Bahagia Mendampingi Anak Belajar di...
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (70)
    • ►  September (1)
    • ►  May (9)
    • ►  April (5)
    • ►  March (15)
    • ►  February (10)
    • ►  January (30)
  • ►  2018 (25)
    • ►  November (4)
    • ►  October (21)
  • ►  2017 (2)
    • ►  November (2)

One Day One Post Estrilook

One Day One Post Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Blogger Squad Estrilook

Followers

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose