Perjuangan Agar Konsisten Menulis

by - Monday, October 22, 2018

Hallo bloggers...

Kalau nurut keinginan hati. Inginnya sebagian besar waktu, di habiskan di depan laptop atau smartphone untuk menulis. Lebih mengutamakan menulis ketimbang yang lain-lain.



Sayangnya, kenyataannya tak bisa begitu. Meskipun hanya ibu rumah tangga, tetap saja ada urusan yang menjadi skala prioritas.

Seperti yang terjadi padaku hari ini.

Dari semalam sudah menetapkan hati, hari ini, mau menuntaskan tugas one day one posting se pagi mungkin. Supaya, sisa waktunya bisa buat yang lain.

Eh. Tak tahunya malah bangun kesiangan. Nengok jam dinding sudah pukul 05.30 aja. Mentang-mentang sholatnya libur, bangun paginya juga semena-mena alias molor.

Terpaksa menulisnya di tunda dulu, karena jam 06.00 pagi harus ke pasar untuk membeli kebutuhan hari ini. Lagian kemarin sudah janji sama Abah, mau masak sup tulang kesukaannya duo lelakiku.

Setibanya dari pasar langsung menyiapkan sarapan pagi suami, dengan sengaja membawa si Android ke dapur. Maksud hati, kalau ada waktu luang di sela-sela menunggu masakannya matang. Mau menyicil tulisan. Siapa tahu, siang hari tugasnya bisa kelar



Duduk bersantai sambil menunggu sup tulangnya masak, aku meraih gawai,  hendak menulis tentu saja.

Namun, baru saja mulai memikirkan ide, terdengar seruan dari kamar " Mamak. O, mamak!" .

Alamak...

Danish putra semata wayangku sudah bangun rupanya. Wah. Berarti masih belum bisa menulis, nih. Kalau dia sudah bangun, si emak harus ngurus dia dulu. Memandikan, menyuapi dan menemaninya bermain.

Menulisnya gagal lagi

Ya, sudah. Nulisnya nantu siang saja, kalau suami istirahat untuk makan siang. Sisa waktunya, biar Danish main sama Abah dulu. Supaya mamak bisa fokus nyicil tugas.

Maunya begitu, kenyataannya lain lagi.

Si Abah yang di harapkan bisa menjaga Danish harus rapat jam 14.00. Otomatis, selepas makan siang harus kembali ke kantor lagi. Sementara Danish anaknya jarang tidur siang, dan tipe yang sangat menuntut perhatian.

Ya, mana bisa menulis.

Badan lelah dan sedikit frustrasi, lebih baik merebahkan diri. Siapa tahu terlelap barang satu dua jam. Kan, lumayan dari pada melek tapi nggak bisa nulis juga.

Baru saja hampir tertidur, tiba-tiba Danish sudah naik ke atas badan emaknya sambil mencium bertubi-tubi. Membuat mata yang tadinya ngantuk jadi segar kembali.

Ya ampun. Sudah gagal menulis, gagal pula tidur siangnya, sedangkan matahari telah condong ke barat.

Gimana ini?

Jam segini bukan waktu yang tepat lagi buat menulis. Deretan tugas menjelang malam sudah menanti, seperti menyapu, nyuci piring dan memandikan anak menunggu segera di tunaikan.

Aduhai. Masa mau menulis saja rintangannya sudah begini banget. Berliku dan tak sampai-sampai namanya ini.

Ah. Siapa tahu sebelum maghrib ada waktu buat menulis, batinku menghibur. Meskipun rencananya molor terus aku tetap berharap tugas dari Estrilook bisa selesai secepatnya.

Ternyata, sehabis memandikan Danish, menyapu dan cuci piring, aku tak lantas bisa mojok demi menulis. Karena terasku rupanya kotor dan perlu di pel dulu. Tak berhenti disana, tugasnya berlanjut membersihkan kamar mandi dan menyikat lantai teras belakang.

Tak lama berselang

Adzan Maghrib pun berkumandang.

Sekaligus sebagai tanda, keinginanku menyelesaikan tugas sebelum Maghrib sudah gagal total.

Kesempatan yang tersisa hanya setelah sholat Maghrib atau Isya.

Berhubung sehabis sholat Maghrib harus ikut ke pasar malam, menulisnya di undur setelah tiba di rumah.

Untunglah. Setelah mengalami keterlambatan dari jadwal yang di kehendaki, tugas ini akhirnya selesai juga.

Demi konsisten menulis memang butuh perjuangan. Tapi karena hati sudah menetapkan komitmen, tak ada jalan lain kecuali menunaikannya. Bukan untuk orang lain, melainkan demi diri sendiri.

#Postingan ini diikutsertakan pada tantangan one day one posting bersama Estrilook Community














You May Also Like

0 komentar