Benyaru Part 2

by - Monday, May 06, 2019

Aku menatap selimut di pangkuanku dengan perasaan bahagia. Disuruh nginap di rumah Dato Tangkon artinya aku bisa bercengkerama semalam suntuk bersama Emil, Edi, pat dan Momoi. Bukankah itu sangat menyenangkan!

Sumber Foto: pexels.com

Ada apa dengan bapak? Tak biasanya beliau mengizinkan aku menginap dirumah orang lain. Walaupun itu rumah sanak familiku sendiri. Ah! Meskipun sedikit tak biasa diam-diam aku berterima kasih atas kemurahan hati bapak yang tak sering terjadi ini. Entah ilham apa yang sudah diterimanya, sehingga membebaskanku bergaul dengan para sepupu malam ini.

Terserahlah! Tak mau aku berlama-lama mempertanyakan motif bapak yang mengirim selimut untukku. Yang penting sekarang aku bebas melakukan apa saja yang menyenangkan. Ngelayungnya lanjut lagi. Sampai subuh!

Menjelang pertigaan malam. Pat, memutuskan untuk pulang kerumahnya dan tak lupa dia mengajakku juga. Rumah kami memang searah, kalau pat tinggalnya di blok E, sedangkan aku di blok F. ajakan itu tentu saja dilematis.

Di satu sisi, jika Pat pulang kerumah maka acara kumpul-kumpul kami jadi tak seru lagi. Pat itu, ketua perkumpulan kami. Memang tak ada aturan tertulis yang mengatakan demikian.

Tapi, semua orang sepakat jika dia memang Bos geng kami. Perawakan kecil dengan tinggi badan tak sampai 150CM, bahkan aku berani menjamin dia adalah orang dengan badan terpendek diantara kami sepersepupuan. Sekilas tak cocok sekali orang sekecil itu menjadi ketua geng. Namun, ketika dia sudah menitahkan sebuah perintah. Barulah semua orang percaya dia memang punya aura itu.
Aura seorang pemimpin.

Hampir bisa dipastikan tak ada yang bisa menolak kehendaknya Pat. Berani membangkang keinginannya, ancamannya tak main-main. Tak bakal di kawani. Tak mampu kami menerima hukuman ini. Bahkan jadi kacungnya Pat pun rela asal tetap disebut teman oleh dia.


Mengingat tinggi badan Pat memang tak sampai 150 Cm, tapi dengan rambut panjang lebat dan hitam, kulit kuning langsat bersih, wajah oval mungil dengan deretan gigi yang rapi. Pat adalah representasi kecantikan yang di idam-idamkan anak perempuan desa.

Tak heran. Kembang desa, adalah ungkapan yang disematkan kepadanya oleh para bujang laki-laki.
Dan siapa yang tak mau berteman dengan bunga desa? Semua pasti mau berteman dengannya.

Walaupun, pertemanan itu sendiri terjalin dengan banyak motif. Berteman dengan bunga desa, bisa memberikan banyak keuntungan. macam berkawan dengan selebritis. Kita pun akan ikut-ikutan populer dan syukur-syukur kecipratan disebut orang cantik juga. Sungguh citra yang membanggakan.

Dengan berat hati aku akhirnya membuntuti Pat pulang kerumah. kami tak sendiri. Segerombol orang laki-laki perempuan, tua muda juga pulang bersama kami. Mereka yang sudah tak kuat menahan kantuk, akhirnya memutuskan pulang kerumah masing-masing  meninggalkan rumah acara yang akan berlangsung hingga subuh.
Hanya, aku dan Pat yang pulang kerumah. sedangkan Emil dan Edi masih bertahan di rumahnya si momoi.

Mendekati rumah. Perasaanku makin tak karuan. Aku tak berniat pulang!
Sekonyong-konyong pat berujar.

"Nginap dirumahku sajalah kamu malam ini, besok pagi baru pulang ke rumah,"  bujuknya.

Ajakan ini makin aneh lagi. Mengingat rumah Pat masih jauh di Blok E sana, sedangkan rumahku sudah di depan mata.
Hanya saja, aku lagi enggan pulang kerumah. bukankah bapak sudah mengirim selimut untukku? Dan menganjurkan aku untuk nginap saja di rumah Dato tangkon. Kalaupun aku menginap di rumahnya Pat tak ada bedanya juga kan? Toh. Sama-sama tak pulang kerumah juga.

Dengan cepat aku memutuskan.

"Baik. Aku ikut kerumahmu.”  Aku berkata sambil berjalan cepat melewati rumahku yang hanya beberapa langkah saja dari pinggir jalan utama yang kami lewati.

Akhirnya. Untuk malam ini aku bermalam di rumahnya Pat. Lega sekali hatiku karena tak jadi pulang kerumah. Mirip anak murid yang lolos hukuman karena tak dapat menjawab soal matematika dikelasnya pak Harjana. Guru kelas kami yang paling horror.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku pulang kerumah. Saat bersiap ke sekolah. Mamak menanyaiku. “ Malam tadi Meyer tidur dimana?”
Aku menjawab pendek.

“ Di rumahnya Pat”.
“ Lho! Kok tidak pulang? Malah melewati rumah”. Selidik mamak.
“ Malam tadi bapak membawakan selimut buatku. Ku kira artinya aku tak boleh pulang”. Ujarku tenang penuh kemenangan.

“Boboh! Bapakmu memang @#$$%%^&^Y&&***9^8. &**))((&^$%^%&^44$%%^^” @$$^%)“

kudengar rentetan omelan mamak yang melampiaskan kekesalan hatinya kepada bapak. Omelan yang sangat panjang . jika di ukur pakai penggaris. Dalam beberapa menit omelan mamak sudah bermeter-meter.

Menghela nafas berat. Aku berdo’a dalam hati. Semoga bapak dianugerahi kesabaran yang tinggi pagi ini supaya tak harus meladeni mamak. Bisa gawat urusannya kalau disahuti. Tak lama lagi omelannya makin menjadi-jadi sehingga panjangnya bukan bermeter-meter lagi. Tapi jadi berkilo-kilo meter.

Untungnya. Bapak hanya duduk diam membisu. Tak ada tanda-tanda hendak merespon sang istri. Sepertinya beliau paham benar. Meladeni perempuan yang lagi emosi itu sama berbahayanya dengan menghadapi perempuan merajuk yang bila ditanya apa maunya. Jawabnya Cuma sekata. Terserah!

Tercenung dalam diam. Dia hanya berpikir. Betapa luar biasa putrinya itu.
Tak sedikitpun dia menyangka, kebaikan hatinya dibalas pengkhianatan. Tak paham dia dengan kenyataan kalau si sulung sudah pandai sekali mengkadali orangtuanya sendiri. Seketika kepalanya nyut-nyutan. Sepertinya migrainnya kumat lagi.

Bah!

Setip day 35


You May Also Like

1 komentar

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.org

    ReplyDelete