Benyaru Part 1

by - Monday, May 06, 2019

Menurut orangtuaku aku ini keras kepala. Tapi, menurutku aku sama sekali bukan orang keras kepala. Aku memang bukan anak penurut yang terlalu patuh sama orang tua. Sehingga kedua orangtuaku seringkali menyebutku anak kepala batu. Tentu saja  sebutan itu berlebihan. Sekali dua tak nurut sama orang tua itu hal yang biasa bagi kebanyakan anak-anak, tapi, bukan berarti mereka keras kepala. Bisa jadi, cara bertutur atau mengutarakan pikiran orangtua saja yang tak nyambung dengan isi si anak.

Sumber Foto. Pexels.com

Anak sekecil aku yang sebagian besar isi kepalanya hanya tentang bermain-main. Belum paham konsekuensi  dari sikap tidak bertanggung jawab. Segala perintah dan larangan orangtua sering kali terasa sebagai kekangan yang tak menyenangkan.
Bukankah alasanku itu terdengar tak asing di telinga anak-anak, terutama mereka yang seusia denganku.  Dan sama sekali tak ada muatan keras kepalanya disana, bukan?

Karena tindakan itu dianggap wajar saja. Ah! Namanya juga anak-anak.
Sebutan kepala batu itu, bagaimana jika ucapan mereka tentangku . Kululuskan saja.

Hmmm…sepertinya tak buruk juga.
Itu toh beda dengan sebutan anak pembohong atau pencuri.
***
Di rumah Dato tangkon sedang dilaksanakan ritual benyaru.
Zaman dulu, pengobatan medis tak se semarak sekarang. Selain keberadaan dokter atau pun mantri kesehatan yang sulit ditemukan. Jarak yang harus ditempuh untuk mendapatkan pengobatanpun jauh. Dan sering kali medan yang harus di hadapi  pun tak ramah.

Kondisi jalan tanah yang belum di aspal seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi taksi angkutan desa atau pun ojek untuk mengangkut penumpang, terutama pas musim hujan tiba.
Jadi, untuk pengobatan segala macam penyakit. Suku Paser melakukan ritual benyaru . Benyaru itu semacam ritual bayar nazar dari yang empu hajat sebagai ungkapan syukur kepada roh-roh yang telah menyembuhkan penyakit anggota keluarganya.

Biasanya, benyaru ini di gelar semalam suntuk, yang di pimpin seorang pendeta yang disebut  mulung sebagai pembaca mantera atau jampi-jampi penyambung lidah si empu hajat dan para roh yang telah menganugerahi kesembuhan.
Diiringi tabuhan gendang yang di pukul menggunakan rotan dengan irama 7 ketukan. Tok. Kotok. Kotok. Kotok. Kotok. Kotok. Tok. Membuat suasana bukan hanya riuh tapi juga berisik.

Kesempatan ini biasanya kujadi kan ajang ngumpul-ngumpul dengan para sepupu. Dusun kami  yang sederhana ini lebih banyak di huni oleh masyarakat petani miskin yang menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam. Jarang sekali ada hiburan. Hanya sekali dua film layar tancap di putar di halaman balai desa atau di halaman SD 018. Itupun berkat kemurahan hati dinas penerangan yang sedang mengadakan penyuluhan Keluarga Berencana.

Dikampung kami hampir setiap rumah tangganya mempunyai banyak anak. Tak heran, topic penyuluhan dari dinas penerangan  temanya selalu tentang betapa pentingnya mengatur jarak kelahiran. Seandainya pemerintah pusat mengerti, bahwa yang paling dibutuhkan masyarakat sini adalah hiburan. Karena sepertinya, ada kaitan erat antara minimnya hiburan dengan tingginya tingkat kelahiran .
Makanya, setiap ada ritual benyaru, momen itu dihitung sebagai hiburan. Berkumpul dan bersenda gurau semalam suntuk bersama para sepupu.

Sejak sore aku sudah pamit sama mamak dan bapak mau ke blok H ke tempatnya Dato tangkon dimana ritual benyaru sedang diadakan. Mudah saja bagiku mendapatkan izin dari mereka. Dengan pertimbangan letak rumah dato Tangkon yang tak terlalu jauh, beliaupun masih terhitung family dekat kami dan ditambah pula yang menjadi mulung benyarunya adalah datoku sendiri.

Saat yang menyenangkan. Berkumpul bersama para sepupu itu membuat ketagihan, makanya jadi sering lupa waktu. Ada-ada saja yang menjadi topic candaan kami. Mengungkit kejadian konyol di masa yang telah lewat, membahas keunggulan dan kekurangan cowok yang sedang digilai para cewek.

Atau hanya sekedar ngelayung.
Ngelayung salah satu kebiasan masyarakat paser. yaitu melemparkan cerita khayalan yang boleh ditimpali siapa saja tentu dengan rangkaian cerita yang fiktif pula. Biasanya, ngelayung ini dibuat untuk tujuan menggoda demi hiburan semata. Dan sering terdengar ketika acara kumpul-kumpul sedang berlangsung. Gotong royong menugal, panen padi, selamatan pengantenan, naik ayunan, benyaru, belian dan kegiatan apa saja yang melibatkan orang banyak.

Ngelayung ini butuh imajinasi tinggi. Di tangan mereka yang lihai bersilat lidah. Ngelayung bisa terdengar seperti cerita nyata. Dan sering kali orang yang dijadikan objek ngelayung ini hanya bisa tertawa garing. Hendak membalas harus dipastikan dulu kita punya stok cerita segudang. Salah-salah justru malah jadi bulan-bulanan para ngelayungers kawakan.

Hari kian larut. Upacara benyaru sudah dimulai sejak tadi. Aku, Emil, Edi, Pat dan Momoi masih saja sibuk bersenda gurau. Tak terlihat tanda-tanda hendak mengakhiri pertemuan itu. Walaupun besok hari harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah tetap saja tak ada yang inisiatif membubarkan diri. Seolah-olah tak ambil pusing dengan hari esok. Besok hari itu menghadapinya besok sajalah. Tak perlu memusingkannya sejak sekarang.
Merasakan kehadiran seseorang aku menoleh ke pintu.

Disana terlihat wajah bapak menyeruak ditengah kerumunan orang di pintu masuk. Sambil memberi isyarat berupa anggukan kecil kepadaku, secara tiba-tiba melemparkan sesuatu. Reflex tanpa sempat berpikir aku menangkap benda yang dilemparkan oleh bapak. Ternyata itu selimut. Menatap bingung kearah bapak, meminta penjelasan maksud dari pemberian selimut ini.

“Malam ini tak usah pulang kerumah ya, nginap disini saja “ ujar bapak menjawab kebingunganku

Tak sempat aku menjawab. Aku melihat bayangan bapak bergegas menyusuri gelapnya malam. Kembali pulang kerumah.

Bersambung

#setip day 34

You May Also Like

0 komentar